-
AS mengancam bom pembangkit listrik dan jembatan Iran jika perundingan Selat Hormuz ditolak.
-
Serangan udara telah berlangsung empat hari berturut-turut pasca-runtuhnya memorandum kesepahaman kedua negara.
-
Trump membuka opsi operasi darat namun memprioritaskan keterlibatan pasukan dari negara sekutu.
Suara.com - Ketegangan geopolitik global kembali membara setelah Washington melayangkan ultimatum militer terbaru yang menyasar fasilitas strategis Tehran. Pemerintah Amerika Serikat bersiap meluncurkan serangan udara masif jika Iran tetap menolak kembali ke meja perundingan.
Langkah agresif ini diambil di tengah kebuntuan komunikasi diplomatik kedua negara yang terus memburuk. Pembatasan lalu lintas maritim di Selat Hormuz oleh militer Iran menjadi pemicu utama macetnya ruang dialog.
Konfrontasi ini berpotensi melumpuhkan roda ekonomi dan pasokan energi di kawasan Timur Tengah. Washington kini memilih menggunakan instrumen tekanan tinggi demi memaksa Tehran melonggarkan blokade maritim mereka.
Ancaman penghancuran infrastruktur publik ini disampaikan langsung oleh pemimpin tertinggi Negeri Paman Sam dalam sebuah wawancara televisi. Ketegasan sikap tersebut menjadi sinyalemen buruk bagi kelanjutan stabilitas keamanan regional.
“Kita akan memukul mereka dengan sangat keras besok malam. Kita akan memukul mereka dengan sangat keras malam berikutnya, dan kemudian minggu depan situasinya menjadi sangat buruk bagi mereka, karena minggu depan pembangkit listrik akan menyusul. Minggu depan giliran jembatan. Kita akan merubuhkan semua pembangkit listrik mereka. Kita akan merubuhkan semua jembatan mereka kecuali mereka bersedia duduk di meja perundingan dan bernegosiasi,” ujar Trump kepada Fox News dalam sebuah wawancara hari Selasa.
Langkah ini dinilai banyak pengamat sebagai pola diplomasi ofensif yang kerap dipraktikkan Washington. Kendati demikian, ancaman destruktif kali ini berpotensi memicu eskalasi bersenjata yang lebih luas.
Pakar strategi pertahanan internasional mulai menakar keabsahan target operasi yang dilontarkan oleh Gedung Putih. Pembedaan antara fasilitas publik dan militer menjadi sorotan utama agar tidak melanggar konvensi internasional.
“Jembatan dan infrastruktur yang utamanya digunakan untuk mendukung pasukan militer adalah target militer yang sah.” sebut Purnawirawan Brigadir Jenderal Mark Kimmitt di acara Erin Burnett di CNN.
“Saya tidak mendengar apa pun tentang infrastruktur sipil. Saya tidak mendengar apa pun tentang jembatan sipil, jadi mari kita berharap kita akan tetap fokus pada target militer,” tambah Kimmit.
Baca Juga: 9 Rute Transjakarta Terdampak Rekayasa Imbas Pembongkaran JPO Tendean
Hingga saat ini, gempuran udara berskala kecil dilaporkan masih terus berlangsung di beberapa titik wilayah. Washington menegaskan tidak akan menghentikan operasi tersebut sebelum target politik mereka terpenuhi secara mutlak.
“Melanjutkan serangan sampai saya katakan ini cukup.” tegas Trump mengenai kelanjutan operasi militer yang kini telah memasuki hari keempat berturut-turut pasca-runtuhnya memorandum kesepahaman.
Opsi untuk menurunkan personel militer langsung ke wilayah konflik juga tetap terbuka lebar. Meski demikian, Washington tampaknya lebih memilih skenario pelibatan kekuatan sekutu regional untuk meminimalkan kerugian di pihak mereka.
“Terkadang Anda memerlukan kampanye darat, tetapi kita memiliki orang lain yang akan melakukan kampanye darat untuk kita,” tutur Trump tanpa merinci negara mana saja yang bersedia mengirimkan pasukan bantuan.
Konflik akut antara Amerika Serikat dan Iran ini berakar dari kolapsnya kesepakatan bersama yang sebelumnya mengikat kedua belah pihak. Situasi kian meruncing saat Iran menerapkan pembatasan ketat terhadap jalur pelayaran internasional di Selat Hormuz, yang merupakan urat nadi distribusi minyak dunia.
Gedung Putih berkali-kali menegaskan tidak akan melanjutkan pembicaraan damai selama jalur laut strategis tersebut masih diblokade oleh armada Tehran. Blokade ini direspons Washington lewat rangkaian serangan udara selama empat hari terakhir, sebagai bentuk tekanan nyata agar Iran melunasi tuntutan diplomasi AS.
Berita Terkait
Terpopuler
- LHKPN Tembus Rp7,2 Miliar, Kendaraan Plt Jampidsus Rudi Margono Cuma Motor Honda Seharga Rp5 Juta
- HP Murah Tapi Bagus HP Apa? Ini 9 Rekomendasi Terbaik Mulai Rp1 Jutaan
- 5 Sepatu Kanky Warna Putih Mulai Rp160 Ribuan, Nyaman dan Stylish
- 5 HP Murah dengan NFC Harga Rp1 Jutaan untuk Multitasking dan Transaksi Cashless Lancar
- Tan Kian Orang Terkaya ke Berapa di Indonesia?
Pilihan
-
Gianni Infantino Resmi Digugat! Hubungan Gelap dengan Donald Trump Dibongkar
-
Niat Hindari Ribut dengan Alasan Beli Kuota, Pria Palembang Malah Dikejar dan Ditembak
-
Kejagung Akhirnya Buka Suara Soal Temuan 74 Kg Emas di Rumah Febrie Adriansyah: Kami Tak Tahu
-
Ada Ancaman Teror Bom, Seluruh Siswa dan Guru SDN 15 Srengseh Sawah Dipulangkan
-
Hari Pertama Sekolah Mencekam! SDN Srengseng Sawah 15 Diteror Bom, Gegana dan Densus 88 Turun Tangan
Terkini
-
Iran Hujan Rudal AS, Rentetan Bom Hancurkan Pesisir Strategis dekat Selat Hormuz
-
Kekayaan Jampidsus Febrie Adriansyah Diduga Tak Sesuai LHKPN, KPK Buka Suara
-
Benjamin Netanyahu Ultimatum Iran: Berani Serang Kami, Balasan Akan Mengerikan!
-
Bukan Buang Duit, Ini Alasan Sewa Mobil Dinas Tangsel Lebih Hemat Ketimbang Beli
-
Kapolri Temui Jaksa Agung dan Panglima TNI, Redam Friksi Kasus Febrie Adriansyah
-
Terungkap! Motif Siswa Padang Ledakkan Bom, Dendam Dibully Sejak SD
-
Adian Napitupulu Terima Buku Anotasi KUHAP, Ini Fungsinya
-
Tragedi di Balik Tembok Pesantren: Mengurai Kasus Santri Dibakar di Lombok
-
Bupati Mojokerto Berangkatkan 30 Siswa Sekolah Rakyat ke Kediri untuk Tahun Ajaran 2026/2027
-
Rugikan Masyarakat, Gubsu Bobby Minta Pertamina Bereskan Persoalan Distribusi BBM Dalam Dua Hari