News / Internasional
Rabu, 15 Juli 2026 | 07:39 WIB
Rudal balistik Iran (MEMO/Anadolu)
Baca 10 detik
  • AS mengancam bom pembangkit listrik dan jembatan Iran jika perundingan Selat Hormuz ditolak.

  • Serangan udara telah berlangsung empat hari berturut-turut pasca-runtuhnya memorandum kesepahaman kedua negara.

  • Trump membuka opsi operasi darat namun memprioritaskan keterlibatan pasukan dari negara sekutu.

Suara.com - Ketegangan geopolitik global kembali membara setelah Washington melayangkan ultimatum militer terbaru yang menyasar fasilitas strategis Tehran. Pemerintah Amerika Serikat bersiap meluncurkan serangan udara masif jika Iran tetap menolak kembali ke meja perundingan.

Langkah agresif ini diambil di tengah kebuntuan komunikasi diplomatik kedua negara yang terus memburuk. Pembatasan lalu lintas maritim di Selat Hormuz oleh militer Iran menjadi pemicu utama macetnya ruang dialog.

Konfrontasi ini berpotensi melumpuhkan roda ekonomi dan pasokan energi di kawasan Timur Tengah. Washington kini memilih menggunakan instrumen tekanan tinggi demi memaksa Tehran melonggarkan blokade maritim mereka.

Persediaan Rudal AS disinyalir menipis. (Instagram)

Ancaman penghancuran infrastruktur publik ini disampaikan langsung oleh pemimpin tertinggi Negeri Paman Sam dalam sebuah wawancara televisi. Ketegasan sikap tersebut menjadi sinyalemen buruk bagi kelanjutan stabilitas keamanan regional.

“Kita akan memukul mereka dengan sangat keras besok malam. Kita akan memukul mereka dengan sangat keras malam berikutnya, dan kemudian minggu depan situasinya menjadi sangat buruk bagi mereka, karena minggu depan pembangkit listrik akan menyusul. Minggu depan giliran jembatan. Kita akan merubuhkan semua pembangkit listrik mereka. Kita akan merubuhkan semua jembatan mereka kecuali mereka bersedia duduk di meja perundingan dan bernegosiasi,” ujar Trump kepada Fox News dalam sebuah wawancara hari Selasa.

Langkah ini dinilai banyak pengamat sebagai pola diplomasi ofensif yang kerap dipraktikkan Washington. Kendati demikian, ancaman destruktif kali ini berpotensi memicu eskalasi bersenjata yang lebih luas.

Pakar strategi pertahanan internasional mulai menakar keabsahan target operasi yang dilontarkan oleh Gedung Putih. Pembedaan antara fasilitas publik dan militer menjadi sorotan utama agar tidak melanggar konvensi internasional.

“Jembatan dan infrastruktur yang utamanya digunakan untuk mendukung pasukan militer adalah target militer yang sah.” sebut Purnawirawan Brigadir Jenderal Mark Kimmitt di acara Erin Burnett di CNN.

“Saya tidak mendengar apa pun tentang infrastruktur sipil. Saya tidak mendengar apa pun tentang jembatan sipil, jadi mari kita berharap kita akan tetap fokus pada target militer,” tambah Kimmit.

Baca Juga: 9 Rute Transjakarta Terdampak Rekayasa Imbas Pembongkaran JPO Tendean

Hingga saat ini, gempuran udara berskala kecil dilaporkan masih terus berlangsung di beberapa titik wilayah. Washington menegaskan tidak akan menghentikan operasi tersebut sebelum target politik mereka terpenuhi secara mutlak.

“Melanjutkan serangan sampai saya katakan ini cukup.” tegas Trump mengenai kelanjutan operasi militer yang kini telah memasuki hari keempat berturut-turut pasca-runtuhnya memorandum kesepahaman.

Opsi untuk menurunkan personel militer langsung ke wilayah konflik juga tetap terbuka lebar. Meski demikian, Washington tampaknya lebih memilih skenario pelibatan kekuatan sekutu regional untuk meminimalkan kerugian di pihak mereka.

“Terkadang Anda memerlukan kampanye darat, tetapi kita memiliki orang lain yang akan melakukan kampanye darat untuk kita,” tutur Trump tanpa merinci negara mana saja yang bersedia mengirimkan pasukan bantuan.

Konflik akut antara Amerika Serikat dan Iran ini berakar dari kolapsnya kesepakatan bersama yang sebelumnya mengikat kedua belah pihak. Situasi kian meruncing saat Iran menerapkan pembatasan ketat terhadap jalur pelayaran internasional di Selat Hormuz, yang merupakan urat nadi distribusi minyak dunia.

Gedung Putih berkali-kali menegaskan tidak akan melanjutkan pembicaraan damai selama jalur laut strategis tersebut masih diblokade oleh armada Tehran. Blokade ini direspons Washington lewat rangkaian serangan udara selama empat hari terakhir, sebagai bentuk tekanan nyata agar Iran melunasi tuntutan diplomasi AS.

Load More