News / Nasional
Sabtu, 15 Agustus 2026 | 20:33 WIB
Kapolda Aceh Irjen Pol Ruddi Setiawan (berdiri kanan) berupaya menenangkan massa di Banda Aceh, Sabtu (15/8/2026). ANTARA/M Haris SA
Baca 10 detik
  • Ribuan warga menghadiri peringatan Hari Damai Aceh XXI di Masjid Raya Baiturrahman, Banda Aceh, pada 15 Agustus 2026.
  • Aksi pengibaran bendera Bulan Bintang memicu kericuhan, aksi saling lempar, serta penggunaan gas air mata oleh aparat keamanan.
  • Massa merusak lambang Garuda dan mengganti bendera di Pendopo Gubernur Aceh, sementara kepolisian masih mendata dampak kejadian tersebut.

Massa tersebut kemudian menurunkan bendera Merah Putih. Setelah itu, seorang massa lainnya naik dan menyerahkan bendera Bulan Bintang untuk dikibarkan di tiang tersebut.

Pengibaran bendera Bulan Bintang membuat suasana semakin tegang. Tidak lama kemudian, terdengar suara tembakan peringatan.

Aparat berupaya mengendalikan situasi. Namun, ketegangan kembali meningkat hingga petugas menggunakan gas air mata untuk membubarkan massa.

Kericuhan kemudian meluas ke sejumlah ruas jalan di sekitar Masjid Raya Baiturrahman. Warga yang berada di lokasi berhamburan menyelamatkan diri.

Massa yang sebelumnya berada di kawasan Simpang Kodim hingga Jalan Muhammad Jam berpencar ke sejumlah titik, termasuk kawasan pertokoan di jalan Diponegoro.

Sejumlah kendaraan warga terlihat mengalami kerusakan. Beberapa warga juga tampak terluka dan kemudian dibawa meninggalkan lokasi.

Situasi perlahan mereda sekitar pukul 11.42 WIB setelah lantunan ayat suci Alquran terdengar melalui pengeras suara Masjid Raya Baiturrahman.

Massa yang sebelumnya berhadapan dengan aparat mulai surut dan kembali bergerak ke arah masjid.

Pangdam Iskandar Muda bersama Kapolda Aceh Irjen Pol Ruddi Setiawan lalu hadir ke lokasi. Keduanya melakukan upaya untuk meredakan ketegangan. Proses komunikasi antara aparat dan massa berlangsung cukup alot.

Baca Juga: Bendera Bintang Bulan Berkibar, Aksi Hari Damai Aceh Kisruh, TNI Dikeroyok

Dalam upaya meredakan situasi, dilakukan pembicaraan antara pihak keamanan dan perwakilan massa.

Setelah melalui pembicaraan panjang, Kapolda Aceh menyampaikan pembebasan sejumlah peserta aksi yang sempat ditahan.

Wakil Gubernur Aceh, Fadlullah, juga hadir di Masjid Raya Baiturrahman dan menemui massa. Ia datang setelah mendapat informasi mengenai adanya massa yang ditahan.

Di hadapan massa, Fadlullah meminta persoalan yang terjadi diselesaikan melalui pembicaraan dan tidak berlanjut menjadi kericuhan.

Menurutnya, persoalan tersebut harus diselesaikan dengan duduk bersama dan membicarakannya secara langsung.

“Baru saya hendak duduk dengan Kapolda sudah ribut lagi. Jadi saya panggil duduk di sini dan apa masalahnya. Kita duduk, kita bicarakan masalah semua. Kalau hanya teriak-teriak ke sana ke sini, kapan selesai masalah?” ujarnya.

“Ini rumah Allah, masjid. Sekarang kita panggil dan duduk, apa saja masalahnya,” lanjut Fadlullah.

Setelah situasi di Masjid Raya mulai mereda, massa kemudian terpecah. Sebagian masih bertahan di kawasan masjid, sementara sebagian lainnya bergerak menuju Pendopo Gubernur Aceh yang berjarak tidak jauh dari Masjid Raya Baiturrahman.

Massa yang tiba di Pendopo Gubernur Aceh kemudian masuk ke halaman rumah dinas resmi Gubernur Aceh.

Mereka menurunkan bendera Merah Putih yang terpasang di kawasan tersebut dan menggantinya dengan bendera Bulan Bintang.

Sejumlah massa juga menaiki bagian serambi depan pendopo dan menurunkan lambang Garuda yang terpasang di lokasi. Lambang negara tersebut kemudian dirusak dan diseret keluar pendopo.

Dari Pendopo Gubernur Aceh, massa kembali bergerak menuju Gedung Dewan Perwakilan Rakyat Aceh (DPRA).

Terkait dengan dampak kerusuhan, Kepala Bidang Humas Polda Aceh Kombes Pol Joko Krisdiyanto memberikan keterangannya.

"Kami masih mendata dampak kejadian tersebut. Jika data dan informasinya ada, nanti kami sampaikan. Kami berharap Aceh tetap aman dan kondusif," kata Joko Krisdiyanto sebagaimana dilansir dari Antara.

Load More