News / Nasional
Minggu, 16 Agustus 2026 | 15:50 WIB
Peta pulau Rempang, Batam [googlemap]
Baca 10 detik
  • Alat berat milik Tim Terpadu dikerahkan tanpa pemberitahuan ke lahan warga Pantai Melayu pada Kamis (13/8/2026).
  • Pengerahan alat berat tersebut memicu kepanikan warga karena jaringan telekomunikasi terputus dan aliran listrik padam.
  • Pihak kelurahan dan kecamatan tidak memberikan penjelasan resmi sehingga warga mempertanyakan status pembebasan lahan tersebut.

Suara.com - Masyarakat Pulau Rempang mengaku ketakutan setelah alat berat dikerahkan ke lahan warga di Pantai Melayu, Rempang Cate, Kecamatan Galang, pada Kamis (13/8/2026).

Kedatangan alat berat tersebut disebut berlangsung tanpa pemberitahuan sebelumnya. Situasi semakin membuat warga panik karena seluruh provider telekomunikasi kehilangan sinyal, sementara aliran listrik di lokasi juga padam.

“Sekitar pukul 9 pagi, sinyal langsung hilang. Lampu mati, sehingga kami sangat sulit untuk berkoordinasi dan menanyakan apa yang terjadi dengan turunnya Tim Terpadu tersebut,” kata seorang warga Rempang dalam konferensi pers daring melalui akun YouTube Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi), Minggu (16/8/2026).

Menurut warga, alat berat kemudian langsung beroperasi di atas lahan yang hingga kini belum dibebaskan oleh pemerintah.

“Jadi lahan warga ini belum dibebaskan, namun alat berat sudah turun,” ujarnya.

Kehadiran petugas yang berjaga di sekitar lokasi juga memicu trauma warga terhadap peristiwa yang terjadi pada September 2023. Saat itu, warga Rempang sempat terlibat dalam aksi penolakan terhadap rencana pengembangan kawasan.

Dalam aksi pada Kamis lalu, seorang ibu bahkan dilaporkan jatuh pingsan ketika berusaha menghalangi alat berat yang bekerja di Pantai Melayu.

“Ibu tersebut langsung jatuh, terguling di tanah seperti yang ada di kanal YouTube ataupun media sosial yang saat ini beredar,” kata warga tersebut.

Warga Merasa Tertekan

Baca Juga: Warga Rempang Mengadu Lagi ke Komnas HAM Soal Relokasi, Menteri Transmigrasi Pastikan Ini

Warga menilai situasi tersebut ironis karena terjadi menjelang peringatan 81 tahun kemerdekaan Indonesia. Alih-alih merasakan kemerdekaan, mereka justru mengaku mengalami tekanan secara mental dan psikologis.

“Kalau untuk kemerdekaan 81 tahun Indonesia merdeka yang kami rasakan itu bukan kemerdekaan. Yang kami rasakan saat ini adalah tekanan secara mental, psikologis. Bahkan tekanan itu bukan hanya terbatas kepada bapak-bapak, ibu-ibu, tetapi juga kepada anak-anak,” tuturnya.

Peristiwa tersebut berlangsung selama dua hari. Setelah sekitar enam jam terputus dari jaringan komunikasi, warga baru kembali dapat berkomunikasi pada sore hari.

Warga yang mayoritas perempuan kemudian memilih tidak merangsek masuk untuk menghalangi alat berat karena khawatir aksi tersebut justru menimbulkan lebih banyak korban.

Mereka akhirnya menyampaikan keberatan melalui orasi di hadapan aparat yang membentuk pagar hidup di sekitar lokasi. Setelah itu, warga membubarkan diri.

Pada hari kedua, Tim Terpadu kembali diterjunkan dengan jumlah personel yang disebut lebih banyak. Kali ini, personel TNI juga terlihat ikut berjaga.

Load More