Suara.com - Penggunaan perangkat elektronik yang semakin luas ikut mendorong peningkatan kebutuhan bahan baku dan energi. Kondisi ini membuat industri elektronik menghadapi tantangan untuk mengurangi dampak lingkungan sepanjang siklus hidup produk.
Uni Eropa kemudian mendorong perubahan tersebut melalui European Green Deal, yang menargetkan kawasan itu mencapai netralitas iklim pada 2050 tanpa mengorbankan daya saing ekonominya.
Salah satu upaya yang dikembangkan adalah proyek SUSTRONICS (Sustainable and Green Electronics for Circular Economy). Proyek berskala besar yang melibatkan mitra dari 11 negara Eropa ini dirancang untuk membuat industri elektronik lebih berkelanjutan dan menerapkan prinsip ekonomi sirkular sejak tahap pengembangan hingga akhir masa pakai produk.
SUSTRONICS berfokus pada penggunaan material yang lebih hemat sumber daya, elektronik tercetak, proses manufaktur yang lebih efisien energi, serta penerapan prinsip reuse, repair, dan recycling.
Para peneliti juga menguji berbagai inovasi melalui 10 demonstrator yang mencakup sejumlah bidang aplikasi. Pengujian tersebut antara lain mencakup keandalan produk dan life cycle assessment (LCA) atau penilaian daur hidup.
Institut Fraunhofer melakukan LCA dengan fokus pada teknologi medis dan diagnostik. Analisis ini digunakan untuk melihat dampak lingkungan sebuah produk secara menyeluruh, mulai dari bahan baku hingga akhir siklus hidupnya.
Pendekatan tersebut memungkinkan peneliti mengidentifikasi tahapan yang memberikan dampak lingkungan paling besar. Titik-titik tersebut kemudian dapat menjadi dasar untuk memperbaiki desain dan proses produksi sebelum produk memasuki tahap pengembangan berikutnya.
Salah satu penerapannya dilakukan pada pengembangan patch pemantauan glukosa. Analisis terhadap potensi pemanasan global, penggunaan material kritis, dan toksisitas membantu peneliti mengidentifikasi komponen yang memiliki dampak lingkungan besar.
Hasil analisis tersebut kemudian digunakan untuk mengoptimalkan desain produk. Mitra proyek, Onalabs, misalnya, dapat menerapkan sensor optik pada bagian tertentu sehingga jejak karbon produk dapat dikurangi sekitar 65 persen.
Baca Juga: Mengapa Gen Z Mulai Memilih Thrifting Dibanding Fast Fashion?
Selain teknologi, pemilihan material juga menjadi faktor penting dalam mengurangi dampak lingkungan perangkat elektronik.
Ilmuwan dari Departemen Lingkungan Fraunhofer IZM, David Sánchez, mengatakan penggunaan substrat dan tinta konduktif alternatif dapat mengurangi dampak lingkungan modul elektronik fleksibel hingga 95%, dibandingkan penggunaan material standar berupa PET dan perak.
“Hanya dengan menggunakan substrat dan tinta konduktif yang berbeda, seperti Thinstar dan karbon sebagai pengganti perak, serta penggunaan material daur ulang, dampak lingkungan dari modul elektronik fleksibel dalam produk dapat ditekan hingga 95%.”
Menurut Sánchez, ketersediaan data mengenai dampak lingkungan perlu diperhatikan sejak tahap penelitian dan pengembangan. Dengan informasi tersebut, pengembang dapat mempertimbangkan aspek keberlanjutan sejak awal, bukan setelah produk selesai dibuat.
“SUSTRONICS menawarkan pendekatan holistik dan dapat berfungsi sebagai proyek unggulan untuk ekonomi sirkular yang berkelanjutan, bagi para pemangku kepentingan dari industri, penelitian, dan kebijakan,” kata Sánchez, dikutip dari laman Phys.org, Rabu (19/8).
Pendekatan tersebut menunjukkan bahwa upaya mengurangi dampak industri elektronik tidak hanya bergantung pada bagaimana produk digunakan, tetapi juga pada material yang dipilih, cara produk diproduksi, serta bagaimana produk dikelola setelah masa pakainya berakhir.
Penulis: Chairunisa
Berita Terkait
Terpopuler
- Megawati: Saya Dipanggil Polisi 3 Kali, Diperiksa Jaksa Sampai Malam
- Febrie Adriansyah Minta Emas 74 Kg dan Uang Ratusan Miliar Segera Dikembalikan
- Besok, Front Mahasiswa UI hingga IPB Siap Gelar Aksi 'Merebut Kemerdekaan' di Jakarta
- Sunscreen Apa yang Bisa Memudarkan Flek Hitam di Wajah? Ini 9 Rekomendasi Terbaiknya
- PJJ Jakarta 18 Agustus 2026 Besok: Berlaku untuk Sekolah Negeri-Swasta, ASN Boleh WFH 50 Persen
Pilihan
-
Polwan Ditarik Mundur, Aksi BEM UI di Menara UOB Berujung Saling Dorong dengan Aparat
-
Gaji Manajer Kopdes Merah Putih Rp7,8 Juta per Bulan Viral, Benarkah Batal Rp16 Juta?
-
Dihadang Polisi di UOB Plaza, Massa UI: Ini Bukti Kita Belum Merdeka!
-
Bundaran HI Dijaga Ketat, Solidaritas Warga Mengalir: Ini Titik Logistik untuk Pendemo
-
Jelang Demo Mahasiswa, Bundaran HI Dijaga Ketat: Kendaraan Taktis Siaga, Lalin Masih Normal
Terkini
-
Bukan Sekadar Daur Ulang, Bagaimana Uni Eropa Ubah Industri Elektronik agar Lebih Ramah Lingkungan?
-
Nasabah BRI Bisa Dapat Diskon dan Cicilan 24 Bulan di Saturdays, Begini Cara Klaimnya
-
5 Keunggulan Smartwatch yang Tahan Air untuk Aktivitas Harian
-
Urgensi Kehadiran Bursa Mineral dan Komoditas Strategis
-
SBY Soroti Pidato Prabowo, Sebut Presiden Punya Target yang Ambisius
-
Singapura Keluarkan Peringatan Warganya Jadi Korban Asap Kebakaran Hutan Kalimantan dan Sumatera
-
4 Pilihan HP Redmi Rp2 Jutaan Terbaik: Kamera 108 MP hingga Baterai 7.000 mAh
-
Tolak Narasi Pigai, KNPB: Papua Punya Hak Merdeka Sesuai Prinsip Menentukan Nasib Sendiri!
-
Bupati PALI Asgianto Diperiksa KPK, Terungkap Daerahnya Gagal Raih WTP Selama 13 Tahun
-
Praperadilan Febrie Adriansyah, Kuasa Hukum Minta Eks Jampidsus Segera Dibebaskan