Benarkah Emisi Pesawat Makin Beracun Seiring Waktu? Studi Ungkap Hal Ini

Senin, 26 Oktober 2026 | 16:00 WIB
Pesawat komersial terbang di langit biru cerah pada siang hari. (dok.Pexels/Anderson Wei)

Suara.com - Partikel polusi dari emisi pesawat terbang berpotensi kian berbahaya setelah berada di udara selama beberapa hari. Perubahan ini terjadi akibat reaksi kimia partikel dengan komponen udara ketika terpapar sinar matahari.

Temuan tersebut tertuang dalam jurnal Environment Science: Atmosphere. Studi itu membandingkan perubahan sifat partikel dari emisi mesin jet pesawat dan mesin diesel kapal laut.

Bahkan ditemukan potensi oksidatif partikel, yaitu kemampuannya dalam menimbulkan stress oksidatif. Kondisi ini dapat terjadi ketika molekul reaktif dalam tubuh melebihi kemampuan sistem pertahanan antioksidan untuk menetralkannya.

Stress oksidatif bisa memicu peradangan dan berkontribusi terhadap gangguan kesehatan, termasuk pemyakit pernapasan dan kardiovaskular.

Guna menganalisis perubahan sifat partikel, para peneliti menggunaakn reaktor fotokimia. Perangkat ini mensimulasikan proses atmosfer yang dialami partikel selama satu hingga 12 hari.

Kemudian mereka mengukur potensi oksidatif partikel menggunakan instrumen khusus bernama Online Oxidative Potential Ascorbic Acid Instrument (OOPAAI).

Instrumen tersebut dikembangkan di Universitas Basel untuk megukur sifat oksidatif partikel polusi udara.

Hasil pengujiannya memperlihatkan potensi oksidatif partikel dari meisi pesawat mengalami peningkatan secara signifikan seiring berjalannya waktu.

Pada sisi lain, sifat emisi mesin kapal yang berhubungan dengan kesehatan cenderung stabil selama periode pengamatan.

Perbedaan tersebut membuktikan bahwa karakteristik partikel polusi dapat mengalami perubahan sesudah dilepaskan ke atmosfer.

Karena itu, pengukuran emisi sesaat setelah pembakaran belum menjamin dapat menggambarkan seluruh potensi bahayanya.

Perlu ditekankan bahwa peningkatan potensi oksidatif emisi pesawat berkaitan dengan perubahan komposisi kimia partikel. Perubahan tersebut terjadi begitu partikel bergesekan dengan komponen udara di bawah paparan sinar matahari.

Partikel Halus Berisiko Bagi Kesehatan

Partikel halus bisa terbentuk dari proses pembakaran bahan bakar dan bertahan di udara selama berjam-jam hingga beberapa hari.

Sejumlah partikel berukuran nanometer sangat memungkinkan untuk terhirup dan memasuki saluran pernapasan.

Begitu masuk ke tubuh, partikel dapat memicu respons biologis, bergantung pada karakteristik dan tingkat paparan. Salah satu mekanismenya yang menyorot perhatian adalah stres oksidatif.

Salah satu penulis utama penelitian dari Departemen Ilmu Lingkungan dan Institut Nanosains Universitas Basel, Dr. Battist Utinger, menekankan betapa pentingnya untuk mempertimbangkan perubahan partikel setelah dilepaskan.

"Studi kami menunjukkan bahwa penting untuk melihat lebih dari sekadar partikel knalpot yang baru saja dikeluarkan," ujarnya, dikutip dalam laman Phys, Kamis (15/10).

Ia menilai proses atmosfer dapat mengubah sifat oksidatif partikel secara signifikan. Perubahan tersebut turut memengaruhi potensi bahaya bagi kesehatan manusia.

Regulasi Polusi Perlu Memperhitungkan Perubahan Partikel

Penulis lainnya, Kalberer menilai temuan tersebut juga berkaitan dengan kebijakan pengendalian pencemaran udara.

Ia menyoroti bahwa regulasi yang berlaku belum sepenuhnya memperhitungkan sumber partikel halus paling beracun dan perubahan sifatnya di atmosfer.

"Studi ini dengan jelas menunjukkan bahwa kerangka hukum saat ini, seperti Peraturan Swiss tentang Pengendalian Polusi Udara, tidak secara memadai memperhitungkan sumber-sumber partikel halus yang paling beracun," tekannya.

Hal ini mengamati terkait pentingnya menilai polusi udara tidak hanya bertumpu pada emisi awal, melainkan juga perubahan yang terjadi setelah partikel dilepaskan.

Untuk itu, diperlukan penelitian lanjutan untuk memahami dampak perubahan tersebut terhadap paparan lingkungan dan kesehatan masyarakat secara lebih mendalam.

Bahkan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memproyeksikan polusi udara menyebabkan sekitar tujuh juta kematian dini setiap tahunnya di seluruh dunia.

Maka dari itu, dengan memahami karakteristik partikel polusi udara menjadi langkah penting dalam mengupaya pengurangan risiko kesehatan akibat pencemaran udara.

Penulis: Chairunisa

Terkait
Terpopuler
Terkini
Lihat Artikel Lainnya

Dapatkan Aplikasi
Suara.com