- Aliansi Ibu Indonesia mendirikan posko logistik gratis bagi mahasiswa yang berunjuk rasa di Bundaran HI pada Rabu, 28 Oktober 2026.
- Aksi tersebut didorong oleh keprihatinan terhadap masalah nasional seperti PHK, mahalnya harga kebutuhan pokok, karhutla, serta beban pajak.
- Para ibu berharap generasi muda terus berjuang tanpa putus asa untuk membawa perubahan besar bagi perbaikan negara Indonesia.
Suara.com - Lantunan lagu “Tanah Airku” berkumandang di tengah hiruk-pikuk kawasan Bundaran HI, Jakarta Pusat, saat sekelompok perempuan menyanyikannya dengan tangan terangkat menjelang aksi unjuk rasa mahasiswa, Rabu (28/10/2026).
Di trotoar jalan, sebuah posko sederhana bertuliskan “Posko Logistik Aliansi Ibu Indonesia” menyediakan aneka makanan ringan, roti, buah, hingga air mineral gratis bagi massa aksi.
Kehadiran posko swadaya tersebut menjadi wujud dukungan moral sekaligus penyediaan konsumsi bagi mahasiswa dan elemen masyarakat sipil yang hendak menyuarakan aspirasi.
Relawan Aliansi Ibu Indonesia, Eli (65), mengatakan inisiatif tersebut lahir dari kepedulian kaum ibu terhadap kondisi tanah air saat ini.
"Gerakan ini muncul dari masyarakat sipil, terutama para perempuan yang sangat peduli dengan situasi kondisi negara Indonesia saat ini," terangnya.
Eli menjelaskan, pasokan konsumsi yang tersedia di posko merupakan hasil donasi masyarakat yang disalurkan secara sukarela.
"Apa yang bisa dilakukan oleh ibu-ibu adalah mendukung gerakan mahasiswa maupun masyarakat sipil yang sedang beraksi. Jadi, kami menerima donasi berupa logistik dari seluruh masyarakat. Mereka dengan sukarela mengontak kami untuk memberikan, misalnya seperti makanan, minuman, kemudian apa yang dibutuhkan oleh kami oleh situasi ini," paparnya.
Keprihatinan terhadap berbagai persoalan nasional, seperti gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK), tingginya harga kebutuhan pokok, hingga kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan, menjadi pendorong utama gerakan mereka.
"Kami sangat sedih dan terluka sebenarnya ya, dengan situasi ini dari mulai MBG, Kopdes, terus sekarang dengan bencana-bencana alam yang terjadi di Indonesia dan yang paling sedih lagi di Kalimantan dengan karhutla itu, kok sepertinya pemerintah tidak tuntas gitu menangani bencana-bencana yang terjadi," sorot Eli.
Kekecewaan mereka juga dipicu oleh beban pajak yang terus ditanggung masyarakat, yang dinilai tidak sebanding dengan kepedulian pemerintah dalam menyelesaikan berbagai persoalan warga.
"Kita kayak hidup bukan di suatu negara yang diurusi oleh pemerintahannya. Jadi kayak kita autopilot gitu, dibiarkan hidup sebisamu gitu," lanjut Eli.
Bertepatan dengan peringatan Hari Sumpah Pemuda, para ibu tersebut turut menyampaikan harapan agar generasi muda terus memperjuangkan perubahan.
"Harapan kami, anak muda harus terus berjuang. Jangan putus asa, kamu adalah menjadi ujung tombak kami untuk perbaikan negara ini. Jadi, negara ini harus dibawa kepada sebuah perubahan besar dan kami berharap kepada para pemuda-pemuda yang menjadi ujung tombak kami," pungkas Eli.