Aktivis 98 Tuntut Prabowo-Gibran Jalankan Agenda Reformasi atau Mundur

Minggu, 01 November 2026 | 08:54 WIB
Presiden Prabowo Subianto (kanan) didampingi Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka di Istana Negara, Jakarta. (ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A)
BACA 10 DETIK
  • Kelompok aktivis 1998 mengeluarkan Maklumat Matraman di Jakarta pada Jumat, 30 Oktober 2026.
  • Para aktivis mendesak pemerintah menjalankan agenda reformasi serta mengevaluasi dua tahun kepemimpinan Prabowo-Gibran.
  • Pemerintah terancam didesak mundur atau dipercepat pemilunya jika gagal memenuhi tuntutan para aktivis.

Suara.com - Sejumlah kelompok aktivis 1998 yang tergabung dalam IKA 98, GERAK 98, dan 98 Garis Lucu mengeluarkan Maklumat Matraman. Para aktivis menuntut pemerintah harus menjalankan agenda-agenda reformasi.

"Apabila tuntutan tersebut tidak dipenuhi, para aktivis akan mendesak percepatan Pemilu atau meminta Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka mundur dari jabatannya," bunyi keterangan tertulis, sebagaimana dikutip Minggu (1//11/2026).

Forum yang dalam rangka memperingati Hari Sumpah Pemuda ke-98 yang digelar di Restoran Handayani Prima, Jakarta , Jumat (30/10) ini menjadi ruang evaluasi sekaligus konsolidasi gerakan masyarakat sipil terhadap perjalanan reformasi dan arah pemerintahan setelah dua tahun kepemimpinan Prabowo-Gibran.

Sejumlah tokoh aktivis 98 dan perwakilan mahasiswa hadir sebagai pembicara, di antaranya Mixilmina Munir, Edysa Girsang, Bambang Sri Pujo, Aceng Ahmad Nasir, Dendy SE dari GMNI Jakarta, serta M. Rizky Pratama, Ketua BEM KM Institut STIAMI, dan dimoderatori oleh aktivis 98 Garis Lucu, Ignatius Indro.

Aktivis Gerak 98, Mixilmina Munir mengingatkan, perjuangan untuk memperbaiki bangsa tidak boleh diserahkan kepada elite politik. Menurut Mixil, perubahan harus tetap menjadi agenda dan tanggung jawab masyarakat luas.

"Jangan sampai perjuangan untuk memperbaiki bangsa ini justru kita serahkan kepada elite politik. Perubahan Indonesia harus tetap menjadi perjuangan rakyat, bukan hanya menjadi urusan mereka yang sedang memegang kekuasaan," kata Mixil.

Mixil menekankan, semangat Reformasi 1998 harus terus hidup dan tidak boleh berhenti hanya karena telah terjadi pergantian pemerintahan.

Bambang Sri Pujo menyampaikan, kritik lebih tajam terhadap kondisi pemerintahan saat ini. Ia menilai masyarakat sudah tidak bisa lagi menggantungkan harapan kepada pemerintah untuk memperbaiki keadaan bangsa.

"Masyarakat sekarang sudah tidak bisa berharap kepada pemerintah untuk memperbaiki bangsa ini. Karena itu, rakyat harus mulai membangun kekuatannya sendiri dan tidak boleh terus-menerus menunggu perubahan datang dari atas," kata Bambang.

Gerakan Mahasiswa jadi Kebangkitan

Sementara itu, Aceng Ahmad Nasir berharap munculnya kembali gerakan mahasiswa saat ini menjadi awal dari kebangkitan kekuatan perubahan di Indonesia.

Ia mengingatkan agar gerakan mahasiswa tidak berhenti pada aksi demonstrasi sesaat, tetapi terus berkembang menjadi gerakan yang lebih terorganisasi dan memiliki agenda perjuangan yang jelas.

"Saya berharap gerakan mahasiswa yang dilakukan saat ini terus berkembang. Jangan berhenti hanya pada demonstrasi atau aksi-aksi sesaat, tetapi harus tumbuh menjadi kekuatan revolusioner yang mampu mendorong perubahan bangsa," ujarnya.

Menurutnya, mahasiswa harus kembali mengambil peran historis sebagai kekuatan moral dan intelektual yang berani mengoreksi jalannya kekuasaan.

Desakan Mundur dan Percepatan Pemilu

Terkait
Terpopuler
Terkini
Lihat Artikel Lainnya

Dapatkan Aplikasi
Suara.com