Suara.com - Mewujudkan kesetaraan dan rasa aman di ruang publik memerlukan terobosan teknologi serta kolaborasi lintas sektor yang nyata. Berawal dari tantangan perlindungan pengguna transportasi publik, khususnya perempuan, inisiatif teknologi sosial bertajuk Hers Signal resmi diperkenalkan di ekosistem Transjakarta. Proyek ini dikembangkan bersama jaringan inovasi digital H+ dan didukung penuh oleh Silang ID, komunitas teman tuli yang membantu pengembangan riset produk. Inovasi ini berfokus untuk menjembatani komunikasi darurat instan guna meningkatkan kewaspadaan bersama di dalam armada transportasi umum.
Inisiatif ini dirancang atas urgensi penghadiran infrastruktur perlindungan publik yang terintegrasi, tanggap, serta berbasis pemanfaatan data dan inovasi digital. Merujuk pada catatan Komnas Perempuan, insiden kekerasan berbasis gender mencatatkan angka 24.472 kasus sepanjang 2025. Temuan ini diperkuat oleh temuan riset Safe Ride Jakarta via Bullyid, yang memaparkan fakta bahwa 70% perempuan pernah mengalami gangguan atau pelecehan seksual saat mengakses armada transportasi umum.
Minimnya sarana pelaporan darurat yang inklusif—terutama bagi Teman Tuli dan penyandang disabilitas nonverbal—menjadi dorongan utama di balik perancangan peranti pintar yang tangkas, efisien, serta terkoneksi secara langsung ke sistem kendali operasional kendaraan.
Sejalan dengan amanat Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2022 tentang Tindak Pidana Kekerasan Seksual (UU TPKS) terkait pencegahan berbasis teknologi dan masyarakat, inisiatif Hers Signal dirancang sebagai solusi peranti keras dan perangkat lunak mandiri yang aman. Integrasi teknis proyek ini menghubungkan sinyal pengguna secara langsung ke infrastruktur operasional armada, menciptakan responsibilitas kolektif antara penumpang dan petugas lapangan.
Dari sisi arsitektur teknologi, proyek Hers Signal mengintegrasikan perangkat IoT berbentuk gantungan pintar berbasis modul BLE (Bluetooth Low Energy) dan sensor darurat. Saat tombol diaktifkan, perangkat memancarkan sinyal nirkabel ke sistem pengolah data awan (cloud incident service) yang terhubung ke pengontrol audio bus di armada Transjakarta.
Hanya dalam hitungan detik, sistem memicu pengumuman kewaspadaan otomatis di dalam kabin tanpa memicu kepanikan, sekaligus memunculkan notifikasi posisi bus secara presisi di pusat kendali serta halte terdekat. Pada tahap awal uji coba teknis, Hers Signal diimplementasikan pada Koridor 1 (Jakarta Kota–Blok M) dan Koridor 9 (Pluit–Pinang Ranti) dengan prioritas penggunaan bagi Teman Tuli dan kelompok nonverbal.
Pengembangan solusi ini digarap secara kolaboratif bersama tim kapabilitas digital H+ yang merancang integrasi teknis ujung ke ujung (end-to-end), mulai dari desain peranti keras, konektivitas IoT, hingga integrasi API pemutaran audio darurat di dalam armada.
Prima Yudha Delano Hernaz, Tech Advisor & Project Lead, menekankan pentingnya pendekatan berbasis inovasi sosial ini. Berlandaskan filosofi Sei-katsu-sha yang dipopulerkan oleh Hakuhodo dan prinsip Value Design, inisiatif ini lahir dari komitmen untuk menciptakan solusi berdampak yang memberdayakan manusia dan masyarakat.
"Keamanan di ruang publik membutuhkan perangkat pendukung yang tidak hanya mudah diakses dan digunakan, tetapi juga reliable secara teknis. Melalui proyek kolaboratif Hers Signal, kami ingin menghadirkan infrastruktur perlindungan yang nyata dan inklusif bagi seluruh pengguna moda transportasi publik," terangnya.
Sebagai salah satu kelompok yang diprioritaskan dalam inisiatif ini, teman tuli menjadi bagian penting dalam upaya menghadirkan akses terhadap sinyal darurat di transportasi publik. Annisa Emery, seorang teman tuli, turut menyampaikan perspektifnya mengenai kehadiran Hers Signal.
Kehadiran Hers Signal merupakan langkah positif karena memberikan cara lain untuk menyampaikan tanda ketika seseorang membutuhkan bantuan, khususnya terkait pelecehan seksual di transportasi publik. Bagi teman tuli, inisiatif seperti ini juga menjadi pengingat bahwa akses terhadap keamanan perlu mempertimbangkan kebutuhan komunikasi yang beragam. Saya berharap semakin banyak orang mengenal Hers Signal dan memahami artinya, sehingga sinyal yang diberikan dapat direspons dengan tepat,” ujar Annisa Emery.
Inisiatif proyek Hers Signal menandai pergeseran penting dalam penanganan isu keselamatan publik dari pendekatan pasif menjadi solusi teknologi aktif. Implementasi bertahap pada Koridor 1 dan Koridor 9 ini diharapkan dapat menjadi model acuan pengoperasian sistem keselamatan pintar ramah disabilitas di jaringan transportasi perkotaan yang lebih luas. ***