Kasus ISPA Akibat Karhutla Tembus 401 Ribu, Kaltim Masih Terus Meningkat

Rabu, 04 November 2026 | 17:55 WIB
Arsip - Orang tua dari pasien anak penderita infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) menunggu anaknya yang menjalani perawatan di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) BARI Palembang, Sumatera Selatan, Selasa (13/10/2026). [ANTARA FOTO/Nova Wahyudi/nz]
BACA 10 DETIK
  • Kementerian Kesehatan mencatat 401.586 kasus ISPA kumulatif di tujuh provinsi hingga dua November 2026.
  • Provinsi Kalimantan Timur mengalami peningkatan kasus karhutla sementara empat wilayah lainnya menunjukkan tren penurunan.
  • Pemerintah mengimbau kelompok rentan seperti balita dan lansia tetap waspada terhadap ancaman pneumonia serius.

Suara.com - Kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) di wilayah terdampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla) masih terus bertambah. Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mencatat sebanyak 401.586 kasus ISPA secara kumulatif di tujuh provinsi hingga 2 November 2026.

Juru Bicara Kemenkes Widyawati mengatakan, data pemantauan per 2 November 2026 pukul 16.00 WIB menunjukkan kasus ISPA tersebut tersebar di 63 kabupaten/kota.

"Data dari pemantauan Kementerian Kesehatan per 2 November 2026, pukul 4 sore tercatat 401.586 kasus ISPA secara kumulatif di 7 provinsi dan 63 kabupaten/kota. Khususnya di tanggal 2 November terdapat penambahan 3.906 kasus," kata Widyawati dalam konferensi pers di Jakarta, Rabu (4/11/2026).

Berdasarkan kelompok usia, sebanyak 91.913 kasus tercatat pada balita berusia 0 hingga 5 tahun. Sementara itu, 87.704 kasus terjadi pada anak usia 6 hingga 9 tahun dan 56.092 kasus pada kelompok lansia berusia di atas 60 tahun.

Kemenkes juga memasukkan sejumlah kelompok ke dalam pemantauan khusus, yakni 590 ibu hamil, 3.530 penderita asma, serta 8.086 pekerja yang beraktivitas di luar ruangan.

Dari hasil pemantauan di lima provinsi, Kalimantan Timur (Kaltim) menjadi wilayah yang masih menunjukkan tren peningkatan kasus. Sementara itu, empat provinsi lainnya, yakni Kalimantan Tengah, Sumatera Selatan, Riau, dan Kalimantan Barat, menunjukkan tren penurunan.

Kondisi di Kaltim menjadi perhatian khusus Kemenkes. Widyawati mengatakan, peningkatan kasus di wilayah tersebut perlu diantisipasi melalui pemantauan lebih intensif, kesiapan fasilitas pelayanan kesehatan, serta pemberian penanganan secara maksimal.

Kondisi kualitas udara di sejumlah wilayah Kaltim juga menunjukkan adanya pencemaran. Berdasarkan pemantauan Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) pada 2 November 2026 pagi, Kabupaten Kutai Barat mencatat angka 164 dengan parameter PM2.5, yang masuk kategori tidak sehat.

Widyawati mengatakan, penurunan tren kasus di sejumlah provinsi merupakan perkembangan positif. Meski demikian, kondisi tersebut tidak boleh membuat kewaspadaan terhadap dampak karhutla menurun.

Ia juga mengingatkan bahwa pneumonia merupakan gangguan kesehatan serius yang membutuhkan penanganan medis. Kelompok rentan seperti balita, lansia, serta masyarakat dengan penyakit penyerta atau komorbid perlu mendapat perhatian.

"Di sisi lain penurunan tren di 4 provinsi merupakan perkembangan yang positif, tapi tidak boleh membuat kita lengah. Pneumonia itu merupakan gangguan dari kesehatan yang serius, memerlukan penanganan medis, terutama pada kelompok rentan seperti balita, lansia dan masyarakat dengan penyakit penyerta atau komorbid," kata Widyawati.

Terkait
Terpopuler
Terkini
Lihat Artikel Lainnya

Dapatkan Aplikasi
Suara.com