/
Selasa, 21 Februari 2023 | 11:20 WIB
Ketua Umum DPP Partai Hanura, Oesman Sapta Odang (OSO) (Suara.com/Bagas Isdiansyah)

NTB.Suara.com - Ketua umum partai Hanura Oesman Sapta Oedang mengungkap kegagalan partainya masuk ke parlemen pada pemilu 2019.

Pria yang akrab disapa Oso ini membongkar gerakan Wiranto menggagalkan Hanura untuk mendapatkan Surat Keputusan (SK) Kementerian Hukum dan Ham (Kemenkumham) agar tidak bisa ikut dalam Pemilu 2019. 

"Wiranto yang merusak ini semua, karena dia menggagalkan kita, dengan mengundang semua aparat, KPU, Bawaslu, Kumham, segala macam untuk menolak ini, partai ini untuk ikut serta dan menggagalkan. Cuman kita punya data dan dia sebagai Menko Polhukam saat itu. Dan terus terang saja saya masih sabar, saya masih menghormati dia sebagai pendiri, saya biarkan tapi kelewatan. Diundang semua orang itu datang, dan hanya Menkumham yang tidak datang. Menkumham yang mengeluarkan izin itu sendiri dan sah karena saya dipilih secara sah," cerita Oso di podcast Akbar Faisal Uncensored. 

Oso mengungkap perubahan sikap Wiranto yang awalnya mendukung dirinya sebagai ketua umum Hanura karena ingin tetap sebagai ketua umum walaupun sudah menjadi Menkopolhukam. 

"Dia meminta saya karena waktu itu tidak boleh rangkap jabatan untuk jadi menteri. Jadi itu harus dilepas, lepas kepada siapa, disitu saya diundang bicara, saya bilang saya mau, untuk kepentingan ini dan mendukung pak Wiranto untuk apapun. Tapi setelah tiba-tiba golkar menjadi menteri, tapi tidak melepas jabatannya sebagai ketua umum, dia menarik kembali ini dengan dalih saya membikin fakta integritas," kata Oso. 

Pengusaha asal Kalimantan Barat ini menyayangkan gerakan Wiranto yang berdampak ke soliditas partai Hanura di pemilu. Sebagai pendiri partai Wiranto tidak seharusnya membuat gerakan yang merusak soliditas partai. 

Load More