NTB.Suara.com – Pada setiap tanggal 15 Sya’ban atau dua minggu sebelum bulan Ramadhan, sebagian masyarakat muslim Indonesia terutama dari kalangan Nahdlatul Ulama dan Nahdlatul Wathan biasanya melaksanakan sholat sunnah Nisfu Sya’ban di masjid dan mushalla.
Sebagian memperdebatkan dalil shalat nisfu sya’ban ini. Ustadz Abdul Somad, Ulama asal Pekanbaru memberi penjelasan soal shalat sunnah di malam nisfu sya’ban. Menurut UAS, terdapat dalil umum yang menjadi landasan shalat sunnah nisfu sya’ban.
“Suatu ketika nabi diundang makan di rumah sahabat, dikasi makanan huzairah, daging yang dipotong-potong yang ducampur dengan gandum. Selesai nabi makan nabi bertanya kepada tuan rumah, dimana kau mau aku boleh shalat di rumahmu ini?, lalu nabi shalat dan mendoakan yang punya rumah,” jelas UAS dalam ceramahnya yang dikutip dari youtube hamba Allah.
UAS menjelaskan nabi tidak menjelaskan jika shalat sunnah yang dia lakukan di malam nisfu sya’ban tersebut merupakan shalat nisfu sya’ban. Tetapi perbuatan nabi tersebut merupakan hadits fi’liyah, dan teks hadisnya ada dalam musnad Imam Ibnu Hambal atau Imam Hambali. Hadits ini menjadi landasan atau dalil umum bagi umat islam yang mentradisikan shalat sunnah nisfu sya’ban.
“Orang yang berwudhu, setelah berwudhu shalat dua rakaat, lalu dia berdoa, nabi taka da menyebut shalat sunnah nisfu sya’ban, dalilnya umum,” jelas UAS.
UAS menjelaskan Ulama yang menamakan istilah shalat sunnah Nisfu Sya’ban untuk memudahkan ummat islam memahami ajaran Nabi. Tradisi perayaan malam nisfu sya’ban sudah ada sejak zaman tabi’in. Menurut UAS para tabi’in di negeri syam yang meliputi Suriah, Yaman, Palestina memulai tradisi perayaan malam nisfu sya’ban dengan memperbanyak shalat sunnah dan berzikir.
“Para ulama salaf berbeda pendapat soal perayaan malam nisfu sya’ban, ada ikhtilaf antara ulama salaf di negeri syam dan di Makkah Madinah. Ulama salaf Makkah Madinah malam nisfu sya’ban dihidupkan di rumah masing-masing. Kenapa berbeda? Karena ulama salaf di Makkah Madinah tidak punya tetangga kafir sehingga tidak perlu menonjolkan syiar islam. Sedangkan ulama salaf di Syam bertetangga dengan Romawi sehingga harus menunjukkan syiar, menunjukkan kekuatan,” jelas UAS. (*)
Berita Terkait
Terpopuler
- Bedak Wardah Apa yang Cocok untuk Usia 40 Tahun? Ini 5 Rekomendasi Terbaik agar Flawless dan Fresh
- Tak Lagi Disamping Prabowo, Kursi Wapres Gibran Geser Sejajar Menteri di Sidang Kabinet
- 7 Statistik Miris Argentina Saat Dipecundangi Spanyol di Final Piala Dunia 2026
- Persib dan Persija Dikabarkan Tak Lolos IPO di Bursa Efek Indonesia
- Perbedaan Eau De Parfum dan Eau De Toilette, Mana yang Sesuai Kebutuhanmu?
Pilihan
-
Sudaryono, Mantan Ajudan Prabowo Akan Gantikan Nanik Jadi Kepala BGN
-
Nanik Mundur dari Kepala BGN, Ini Alasannya
-
Nanik S Deyang Mundur dari Kepala BGN, Prabowo Minta Tetap Awasi MBG
-
Laporkan Hotman Paris ke Polda Metro, PWI Ragukan Ketulusan Permohonan Maaf Sang Pengacara
-
Mendukung Working Mom Mengelola Keuangan Keluarga Lebih Efisien dengan AstraPay
Terkini
-
Jadwal Perempat Final VNL Putri 2026, 22-23 Juli: Brasil Hadapi Jepang
-
Wali Kota Muslim New York Zohran Mamdani Batal Tangkap Benjamin Netanyahu, Kenapa?
-
Kenapa 23 Juli Diperingati sebagai Hari Anak Nasional? Begini Sejarahnya
-
Sudaryono Jadi Kepala BGN yang Baru, Dilantik Sore Ini
-
9 Jam Tangan Pintar Anti Air untuk Aktivitas Outdoor yang Murah, Mulai Rp200 Ribuan
-
Apple Naikkan Harga Langganan iCloud Plus di Indonesia Mulai Juli 2026
-
25 Link Poster Ucapan Hari Anak Nasional 2026, Desain Menarik untuk Dibagikan ke Medsos
-
DJP Bisa Intip Rekening Warga, Purbaya: Coretax Lebih Mengerikan
-
Nanik S Deyang Mundur, Puan Maharani Buka Suara Soal Isu Sudaryono Jadi Bos Baru BGN
-
Cuti dan Privasi Karyawan: Sejauh Mana Perusahaan Berhak Bertanya?