Pertumbuhan 6 persen
Purbaya bukan orang baru. Ia pernah di LPS, pernah di Menko Ekonomi, pernah jadi analis BUMN besar. Ia tahu angka. Ia tahu pasar. Dan ia tahu publik akan selalu menilai dari hasil: apakah Rp200 triliun itu betul-betul menjelma jadi 6 persen pertumbuhan.
Saya membayangkan Purbaya seperti Cowboy di gurun. Di tangannya ada sebotol air, 200 liter, yang harus cukup untuk menyelamatkan karavan raksasa bernama Indonesia. Kalau air itu ia tuangkan di pasir, habis menguap. Kalau ia simpan sendiri, karavan tetap kehausan. Kalau ia bagi rata dengan disiplin, semua orang bisa sampai tujuan.
Masalahnya: karavan ini penuh pedagang, birokrat, bankir, politisi. Semua haus. Semua berebut. Bagaimana Purbaya memastikan Rp200 triliun itu tidak tumpah di jalan sebelum sampai ke roda ekonomi riil?
Jawabannya ada di instrumen. BI bisa menggelontorkan lewat operasi pasar terbuka, repo, atau giro wajib minimum. Tapi ujungnya tetap sama: uang harus mengalir ke kredit produktif. Ke pabrik. Ke ladang. Ke proyek energi. Ke UMKM.
Kalau Rp200 triliun itu nyangkut di obligasi pemerintah, pertumbuhan tidak akan loncat. Kalau nyangkut di deposito korporasi, dampaknya kecil. Kalau nyangkut di pasar saham untuk spekulasi, efeknya ke PDB tipis.
Sebaliknya, kalau Rp200 triliun itu dipakai bank untuk menyalurkan kredit ke sektor produktif, multiplier bisa 3-4 kali. Rp600-800 triliun aktivitas ekonomi baru tercipta. Dan target 6 persen bukan mimpi.
Mari berhitung kasar. Katakan multiplier 3. Tambahan Rp200 triliun = Rp600 triliun. Dibagi PDB Rp20 ribu triliun = 3 persen tambahan. Kalau baseline kita 5 persen, meloncat ke 8 persen pun mungkin. Tapi kalau multiplier hanya 1, tambahan Rp200 triliun hanya 1 persen. Dari 5 ke 6 persen. Itu pun syukur-syukur. Kalau multiplier nol, PDB tetap 5 persen, tapi inflasi yang naik.
Itulah taruhan Purbaya. Ekonomi tidak tunduk pada janji. Ia tunduk pada perilaku jutaan rumah tangga, jutaan usaha kecil, ribuan perusahaan, ratusan bank. Ia bergerak dengan rasa percaya. Dengan harapan. Dengan ekspektasi.
Baca Juga: Menkeu Purbaya Mulai Tarik Pungutan Ekspor Biji Kakao 7,5 Persen
Kalau publik percaya ekonomi akan tumbuh, mereka berani belanja. Kalau pengusaha percaya pasar akan besar, mereka berani berinvestasi. Kalau bank percaya kredit akan kembali, mereka berani menyalurkan dana. Uang pun berputar. Multiplier hidup.
Jadi mungkin sebenarnya yang sedang disuntik Purbaya bukan hanya Rp200 triliun uang, tapi juga Rp200 triliun rasa percaya. Dan akhirnya, kita akan menilai dari hasil. Apakah angka 6 persen itu tercapai atau tidak. Apakah Rp200 triliun itu menjadi bensin yang mendorong mesin, atau menjadi uap yang hilang ke udara.
Kalau berhasil, Purbaya akan tercatat sebagai Menkeu yang bisa mengembalikan Indonesia ke pertumbuhan tinggi. Kalau gagal, ia hanya akan jadi catatan kaki: menteri yang pernah mengucurkan Rp200 triliun tanpa bekas.
Untuk saat ini, kita hanya bisa menunggu. Menunggu bank-bank: apakah mereka berani mengucurkan kredit. Menunggu pengusaha: apakah mereka berani menambah pabrik. Menunggu rakyat: apakah mereka berani belanja. Karena pada akhirnya, ekonomi tidak ditentukan oleh Purbaya seorang. Ia ditentukan oleh kita semua.***
Oleh: Abdul Munir Sara (Pemerhati Kebijakan Publik)
Berita Terkait
-
Menteri Keuangan Puji Penyerapan Anggaran Kementerian PU
-
Sowan ke Istana Wapres, Purbaya Terima Pesan Ini dari Gibran
-
Anak Menkeu Purbaya Bongkar Isu Teror Santet di Rumah: Jangan Berpikir dengan Logika Mistik
-
Menteri Keuangan Diminta Hentikan Komentari Kementerian Lain, Purbaya: Bodo Amat
-
Menteri Keuangan Diminta Hentikan Komentari Kementerian Lain, Purbaya: Bodo Amat
Terpopuler
- Prabowo Timbang Chatib Basri Gantikan Purbaya, Senin Disebut Bakal Ada Reshuflle Kabinet
- Purbaya Disebut Bakal Jadi Gubernur BI, Prabowo Sedang Timbang Chatib Basri Jadi Menkeu
- HP Rp1,5 Jutaan yang Bagus Merek Apa? Ini 5 Rekomendasi Terbaik David GadgetIn
- 4 HP realme dengan Chipset Snapdragon dan RAM 8 GB Termurah Juni 2026
- Berapa Harga Sepatu Lari Ortuseight Ori? Ini 5 Pilihan Bagus untuk Daily Run
Pilihan
Terkini
-
Kampus Mengukur Masa Depan dengan Penggaris Lama
-
Do You Speak French? Mengenang Sumitro Djojohadikusumo
-
Sapi Kurban Presiden Prabowo: Berisik di Elite Tapi Justru Untungkan Alit
-
Closed Loop Kurban, Menuju Ekosistem Halal Berkelanjutan dan Penggerak Ekonomi Lokal
-
Pengadaan Fregat Fincantieri yang Terencana Menjamin Kesiapan Operasional Kapal Perang RI
-
Persib, Ekstase Kecil di Zaman yang Tak Mudah
-
Bola Ada di Tangan BPOM: Saatnya Wajibkan Label Peringatan Gula
-
Prabowo Sedang Gali Kubur Kapitalisme, Tapi Dihalangi 'Musuh dalam Selimut'
-
Kemlu RI Perlu Belajar dari Penculikan Relawan WNI oleh Israel
-
Membaca Ketakutan The Economist terhadap Prabowo