Beni Sukadis | Konsultan senior di Marapi Consulting & Advisory, Jakarta.
Selasa, 26 Mei 2026 | 12:40 WIB
Konsultan senior di Marapi Consulting & Advisory, Jakarta, Beni Sukadis. (Suara.com/dok. pribadi)
Baca 10 detik
  • Indonesia mengerahkan tiga kapal perang, termasuk dua unit fregat PPA buatan Italia, dalam ASEAN Summit di Filipina pertengahan Mei.
  • Pengerahan armada modern tersebut bertujuan memproyeksikan kekuatan maritim Indonesia di tengah ketegangan geopolitik dan konflik Laut Cina Selatan.
  • Pemerintah perlu segera melengkapi sistem persenjataan dan amunisi pada kedua kapal fregat tersebut untuk menjamin kesiapan operasional pertahanan negara.

Suara.com - Pengerahan tiga kapal perang RI ke Filipina dalam ASEAN Summit di Cebu, pertengahan Mei lalu, menjadi sinyal strategis yang cukup mengejutkan di Asia Tenggara.

Indonesia tidak hanya mengirim fregat andal KRI R.E. Martadinata-331, tetapi juga mengirimkan dua kapal perang baru asal Italia, yakni multipurpose combat ship KRI Brawijaya-320 dan KRI Prabu Siliwangi-321, yang baru saja memperkuat armada TNI AL.

Langkah ini menunjukkan bahwa Jakarta mulai memproyeksikan kekuatan maritim moderennya secara lebih terbuka di Asia Tenggara, terutama di tengah meningkatnya rivalitas geopolitik dan kontestasi Laut Cina Selatan.

Seperti diketahui kondisi geopolitik dunia makin tidak menentu terlihat di wilayah Asia Pasifik terutama di Laut Cina Selatan, Selat Taiwan dan semenanjung Korea, sedangkan di Eropa Timur perang antara Rusia-Ukrainia belum mereda, serta saat inipun di Timur-Tengah terjadi perang AS/Israel-Iran sejak Februari 2026 walaupun sedang gencatan senjata.

Saat ini Indonesia memiliki kurang lebih 170 kapal perang (KRI) yang termasuk dalam armada TNI AL dan sebagian besar sudah memasuki usia tua.

Semenjak Prabowo Subianto menjadi Menteri Pertahanan saat periode ke dua pemerintahan Joko WIdodo, dia memiliki ambisi yang besar dalam melakukan akuisisi senjata dalam menambah kekuatan armada TNI AL dan memperkuat pesawat TNI AU.

Saat Prabowo Subianto menjadi Presiden RI 2024-2029, maka program modernisasi militer tersebut terus berlanjut hingga kini.
Sejak September 2025, Indonesia kedatangan Fregat tipe offshore patrol vessel dan dikenal sebagai Pattugliatore Polivante d’Altura (PPA) yakni KRI Brawijaya-320 buatan Fincantieri.

Kemudian, sejak akhir Maret 2026 TNI AL telah mendatangkan kapal fregat kedua KRI Prabu Siliwangi-321 yang diserahkan Fincantieri, pada Desember 2025. Pembelian 2 kapal fregat terbesar tipe PPA yang dimiliki Indonesia ini diproyeksikan dapat memperkuat Armada 2 (Tengah) TNI AL dalam meningkatkan modernisasi militer, karena kapal ini termasuk tercanggih dikelasnya.

Bahkan diketahui Italia baru memproduksi 6 kapal tipe yang sama untuk Angkatan Laut nya.

Baca Juga: Kapal Perang AS Lintasi Selat Malaka, Menlu RI: Patroli di Kawasan

Spesifikasi kapal Frigat KRI Prabu Siliwangi-321 dan KRI Brawijaya-320 yaitu kedua kapal memiliki panjang 143 meter, lebar 16,5 meter, dan dapat berlayar dengan kecepatan maksimum 32 knots dengan pendorongan kombinasi diesel, listrik, dan gas turbin.

Selain itu, kapal buatan Italia ini nantinya akan dilengkapi dengan senjata, yaitu Surface to air missile (SAM) 16 VL Sistem, SSM: 8 Teseo Mk-2E, Meriam 127 mm, Meriam 76 mm, dan torpedo anti kapal selam. Untuk kapal di kelas ini dapat dikatakan sistem senjata cukup mumpuni.

Upaya pembelian kapal fregat Italia ini patut diapresiasi untuk menggantikan armada TNI AL yang telah tua atau sebagian besar berumur lebih dari 30 tahun.

Maka setiap rencana pembelian untuk perlengkapan kapal fregat dikelasnya perlu dipikirkan secara lebih matang dan kontinuitas termasuk sistem persenjataan dan amunisi atau dikenal Integrated Logistic Support (ILS).

(dari kiri ke kanan) KRI Ahmad Yani (351), KRI Yos Sudarso (353), KRI Oswald Siahaan (354) dan KRI Abdul Halim Perdanakusuma (355) mengikuti Sailing Pass di perairaan Teluk Jakarta, Kamis (2/10/2025). [ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A]

Terutama ketika warranty period alutsista ini (fregat) yang dalam 2 tahun akan habis, seharusnya Indonesia mengalokasikan anggaran untuk sistem persenjataan, munisi dan suku cadang secara utuh. Hal ini untuk menjamin kesiapan operasional bagi kapal-kapal fregat dalam menghadapi lingkungan strategis yang tidak menentu ini.

Karena melalui pembelian yang konsisten dan terencana dalam memperkuat fregat tersebut menjadi esensial dalam peningkatan deterrent bagi ancaman nasional dari eksternal yaitu aktor negara dan non-negara.

Seperti diketahui belakangan ini ketegangan di Laut Cina Selatan antara Philipina dan Cina dan di Selat Taiwan menjadi semakin mengkuatirkan. Walaupun Indonesia bukan Negara yang berkonflik di LCS, namun untuk melindungi kepentingan nasional maka kesiapan operasional kapal fregat PPA menjadi tidak bisa ditawar lagi.

Saat ini kedua kapal tersebut belum dilengkapi dengan senjata rudal (misil) dan amunisi lengkap, sehingga pemerintah dalam hal ini Kementerian Pertahanan dan TNI AL seharusnya segera mempersiapkan rencana dan anggaran pembelian rudal dan amunisi meriam fregat tersebut.

Tanpa rudal dan munisi yang lengkap, kapal fregat ini seperti harimau tanpa taringnya atau mengurangi kapabilitas operasional dalam mengatasi ancaman dari berbagai aktor negara dan non-negara.

Perencanaan alat sistem persenjataan yang sistematik, dan berkelanjutan dalam hal pemeliharaan kapal perang, ketersediaan suku cadang, maupun munisi menjadi sesuatu yang tidak terelakkan dalam menghadapi kegentingan situasi apakah di kawasan Laut Cina selatan, Selat Malaka atau wilayah lainnya di masa depan.

Oleh karena itu, kalangan parlemen (DPR), masyarakat sipil dan pemerintah harus saling mengingatkan soal kesiapan operasional kapal fregat PPA khususnya kesiapan sistem persenjataan dan amunisinya.

Terutama saat ini belum bisa digunakan secara optimal dalam aspek operasional maupun detterent, apalagi jika terjadi konflik (insiden) yang memerlukan kehadiran kapal jenis frigat secara cepat dalam mengantisipasi situasi geopolitik yang tidak menentu

Load More