- Krisis BBM Asia Tenggara, terutama Laos, dipicu terganggunya jalur impor minyak akibat konflik geopolitik.
- Laos mengambil langkah drastis membatasi hari sekolah menjadi tiga hari per minggu untuk hemat energi.
- Thailand tertekan oleh lonjakan permintaan domestik sembari berupaya menjaga stabilitas harga melalui subsidi BBM.
Suara.com - Krisis BBM (bahan bakar minyak) mulai terasa di wulayah Asia Tenggara, khususnya Laos yang jadi salah satu negara paling terdampak.
Terganggunya jalur pengiriman minyak akibat konflik Iran, Israel, dan Amerika Serikat membuat pasokan tersendat, padahal Laos sangat bergantung pada impor BBM dari Thailand.
Di Laos, warga harus antre berjam-jam di SPBU hanya untuk mendapatkan setengah tangki BBM dengan harga yang sudah jauh lebih mahal.
Pemerintah setempat bahkan mengambil langkah ekstrim dengan memangkas hari sekolah menjadi tiga hari seminggu demi menekan konsumsi bahan bakar.
“Situasinya benar-benar parah di Luang Prabang. Sekarang pembayaran juga harus tunai. Jadi saat menunggu selama lima jam, saya harus minta istri bawakan uang dan makanan,” ujar Chantee Sipaseuth, seorang sopir tur wisata, dikutip dari South China Morning Post, Sabtu (28 Maret 2026).
Thailand yang menjadi pemasok utama BBM untuk Laos pun jadi menghadapi lonjakan permintaan dan kepanikan masyarakat.
Perdana Menteri Anutin Charnvirakul juga mengingatkan bahwa pemerintah siap memberikan hukuman keras bagi siapa pun yang menimbun atau menaikkan harga BBM secara tidak wajar.
Di saat yang bersamaan, pemerintah Thailand masih menggelontorkan subsidi besar agar harga tetap stabil meski tekanan suplai terus meningkat.
Sementara itu, Myanmar mengalami situasi serupa. Pemerintah mulai membatasi jumlah kendaraan yang boleh beroperasi dan meminta sebagian pegawai negeri untuk bekerja dari rumah. Warga pun juga mengeluhkan biaya mobilitas yang semakin tinggi.
Baca Juga: Kapan WFH ASN dan Pekerja Swasta Mulai Berlaku? Ini Usulan Hari Kerja di Rumah
Selain itu, negara lain di kawasan Asia Tenggara seperti Kamboja dan Vietnam juga ikut terdampak.
“Harganya terus naik sejak perang dimulai. Sudah terlalu mahal dan makin buruk tiap hari,” kata Daniel Gech, pelajar sekaligus pekerja paruh waktu di Kamboja.
Jika kondisi geopolitik ini tak kunjung mereda, sektor transportasi, pariwisata, hingga logistik yang membutuhkan pasokan BBM diperkirakan akan ikut terganggu dalam beberapa bulan ke depan.
Berita Terkait
Terpopuler
- Apa yang Terjadi Jika Gunung Anak Krakatau Meletus?
- 3 Pimpinan BGN Dilaporkan ke Ombudsman, Diduga Rangkap Jabatan di BUMN
- Kacamata Cat Eye Cocok untuk Bentuk Wajah Apa? Ini 3 Pilihan dengan Harga Ramah di Kantong
- 5 Sepatu Lari Reebok yang Diskon di Sports Station, Harga Mulai Rp300 Ribuan
- 8 Pilihan Parfum di Alfamart yang Semakin Berkeringat Semakin Wangi
Pilihan
-
PHK 1.250 Karyawan Tokopedia Berujung Aksi Buruh ke Kantor TikTok
-
Mengapa Kursi Komisaris Layak Untuk Sang Loyalis?
-
Cristiano Ronaldo Umumkan Perpisahan! Piala Dunia 2026 Jadi Panggung Terakhir
-
Tangis Bayi Pecah Pagi Hari, Warga Temukan Bayi Perempuan Baru Lahir di Teras Rumah
-
Rupiah Nyaris ke Rp18.000 Lagi Hari Ini
Terkini
-
Mitos Baterai Mobil Listrik Cepat Rusak Mulai Terpatahkan Data Lapangan
-
Mobil Keluaran 90-an yang Direkomendasikan Pakar: Desain Timeless, Bertenaga, Lebih Murah dari Motor
-
Bedah Data: Penjualan Mobil Listrik Polytron 2026 Kalahkan Brand Tenar dari Jepang dan Jerman
-
Sistem Infotainment Mobil Modern Dinilai Mengancam Keselamatan Berkendara
-
Bukan Indonesia, Negara Ini yang Jadi Tempat Kelahiran Yamaha R2?
-
Ancaman Nyata BYD Paksa Toyota Ubah Strategi Distribusi Kendaraan untuk Pasar Australia
-
Studi: Gen Z Tak Bisa Ganti Ban Mobil Senidiri saat Ban Bocor
-
Ada 9 Varian: Simak Perbedaan Harga dan Fitur Yamaha Aerox Biar Nggak Bingung
-
Touring Seru di Tanah Rencong Komunitas Motor Jelajahi Destinasi Ikonik Sambil Edukasi Mesin
-
Update Klasemen Moto3 Junior M Kiandra Ramadhipa Terpaut Sembilan Poin dari Puncak