Otomotif / Mobil
Senin, 20 April 2026 | 07:15 WIB
Ilustrasi mobil listrik dengan jarak tempuh hingga 1.000 km (Freepik)
Baca 10 detik
  • Baterai merupakan komponen termahal mobil listrik yang memerlukan perawatan khusus agar tetap optimal selama 10 hingga 15 tahun.
  • Pemilik mobil listrik perlu menjaga persentase daya 20-80% dan membatasi penggunaan pengisian cepat guna mencegah degradasi sel baterai.
  • Menghindari suhu ekstrem, gaya berkendara agresif, serta rutin memperbarui sistem manajemen baterai dapat menjaga kesehatan dan nilai jual.

Suara.com - Di balik senyapnya kabin dan akselerasi instan yang ditawarkan mobil listrik, tersimpan satu kekhawatiran besar bagi para pemiliknya: kesehatan baterai.

Bukan rahasia lagi bahwa baterai adalah komponen paling mahal dalam sebuah mobil listrik.

Jika baterai mengalami kerusakan total atau degradasi ekstrem setelah masa garansi habis, biaya penggantiannya bisa sangat besar. Seringkali mencapai 40% hingga 60% dari harga jual mobil itu sendiri.

Di beberapa kasus, harga satu paket baterai baru bahkan setara dengan membeli mobil city car bensin keluaran terbaru.

Baterai Lithium-ion yang digunakan pada mobil listrik mirip dengan baterai smartphone, namun dengan sistem manajemen yang jauh lebih kompleks. Agar kapasitasnya tetap optimal dalam jangka waktu 10-15 tahun, diperlukan pola penggunaan yang tepat.

Sebagai panduan bagi Anda pemilik atau calon pembeli EV, berikut adalah 6 cara ampuh mencegah kerusakan baterai mobil listrik agar tetap awet dan "sehat".

1. Jaga Presentase Daya Baterai 20% - 80%

Kesalahan paling umum yang dilakukan pemilik mobil listrik adalah sering mengisi daya hingga 100% atau membiarkannya terkuras hingga di bawah 10%.

Baterai Lithium-ion mengalami tekanan termal paling besar saat berada di kondisi sangat penuh atau sangat kosong.

Idealnya, jagalah persentase daya baterai (State of Charge/SoC) di rentang 20% hingga 80% untuk penggunaan harian.

Baca Juga: Geely EX2 vs BYD Atto 1 Mending Mana? Simak Perbandingannya

Mengisi daya hingga 100% hanya disarankan jika Anda akan melakukan perjalanan jarak jauh (road trip) segera setelah pengisian selesai.

2. Batasi Penggunaan Fast Charging (DC Charger)

Fasilitas Ultra Fast Charging di SPKLU memang sangat membantu saat darurat. Namun, arus listrik searah (DC) berdaya tinggi menghasilkan panas yang sangat besar pada sel baterai.

Jika dilakukan terlalu sering, panas ini akan mempercepat degradasi atau penurunan kapasitas baterai.

Gunakan pengisian daya lambat (AC Charging) atau Home Charging untuk kebutuhan harian. AC Charging jauh lebih ramah terhadap umur sel baterai karena suhu yang dihasilkan tetap stabil dan terkontrol.

3. Hindari Memarkir Mobil di Bawah Terik Matahari

Indonesia adalah negara tropis dengan paparan sinar matahari yang menyengat. Suhu panas ekstrem adalah musuh bebuyutan baterai mobil listrik.

Saat mobil diparkir di tempat yang sangat panas, sistem pendingin baterai (Battery Thermal Management System) harus bekerja keras meskipun mobil dalam keadaan mati.

Load More