Otomotif / Mobil
Selasa, 21 April 2026 | 11:12 WIB
Ilustrasi bahan bakar B50 (Gemini AI)

Bahan baku dari biodiesel tersebut berupa CPO atau crude palm oil dan limbah minyak goreng. Maka dari itu, penetapan alokasi feedstock sebagai penentu utama dalam pencapaian target nasional.

Proses produksi secara umum terdiri dari pengumpulan feedstock lalu pretreatment, selanjutnya proses transesterifikasi untuk FAME atau hydrotreatment untuk HVO, setelah itu pemurnian dilanjutkan blending pakai diesel mineral demi tercapainya kadar target B50.

Setelah menjadi biodiesel B50, ada beberapa manfaat penting yang terkandung didalamnya seperti ketahanan energi nasional, penyerapan industri agrikultur domestik, mengurangi emisi, mendukung penuh kebijakan hijau dan sosial ekonomi keseluruhan.

Kata Menteri ESDM Bahlil Lahadalia soal Penerapan B50

Harga minyak dunia saat ini mengalami penurunan di bawah USD100 per barel. Namun, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia tetap menerapkan pemberlakuan B50 pada 1 Juli 2026.

Menurut pendapatnya, rencana tidak berubah walaupun harga minyak dunia turun. Bahlil menuturkan bahwa Pemerintah tidak akan mengambil risiko dengan terus menggantungkan pada impor.

"B50 tetap harus ada, ini survival mode. Jangan karena kita berbicara tentang harga turun kemudian kita menggantungkan lagi,"  ujar Bahlil di Kantor Kementerian ESDM, Jakarta, pada 17 April 2026.

"Sekarang siapa yang menjamin hari ini harga turun besok terjadi gejolak apa lagi," lanjutnya.

Bahlil juga mengungkapkan langkah pengalihan biodiesel tersebut sudah menjadi arahan langsung dari Presiden Prabowo Subianto dengan tujuan untuk mitigasi risiko terhadap dampak geopolitik yang bisa terjadi sewaktu-waktu.

Kontributor : Damayanti Kahyangan

Baca Juga: B50 Digenjot untuk Energi, Mengapa Dikhawatirkan Picu Deforestasi dan Harga Pangan?

Load More