Otomotif / Mobil
Rabu, 13 Mei 2026 | 19:03 WIB
Hyundai All New Kona Electric adalah mobil pertama yang menggunakan baterai buatan PT HLI Green Power yang memiliki pabrik di Indonesia. [Dok HMID]
Baca 10 detik
  • Hyundai Motors Indonesia mendukung rencana pemerintah memberikan insentif lebih besar bagi kendaraan listrik berbasis baterai nikel lokal.
  • Hyundai memanfaatkan cadangan nikel Indonesia untuk memproduksi baterai mobil listrik di pabrik Karawang demi kontribusi ekonomi nasional.
  • Kebijakan insentif tersebut dinilai mampu meningkatkan penjualan seluruh produsen otomotif kendaraan listrik di pasar Indonesia secara signifikan.

Suara.com - Hyundai Motors Indonesia (HMID) menyambut positif rencana pemerintah memberikan insentif lebih besar bagi kendaraan listrik berbasis baterai nikel. HMID saat ini satu dari hanya sedikit produsen mobil listrik lokal Indonesia yang menggunakan bahan baku nikel untuk baterai mobil mereka.

Chief Operating Officer HMID Fransiscus Soerjopranoto mengatakan Hyundai memang diuntungkan dengan kebijakan tersebut sebab sejak awal pabrikan asal Korea Selatan tersebut ingin memaksimalkan penggunaan nikel dari dalam negeri. Tapi ia menegaskan Hyundai bukan satu-satunya pabrikan yang punya baterai nikel.

Hyundai sendiri memiliki pabrik baterai di Indonesia yang proses produksinya menggunakan baterai. Beberapa mobil listrik Hyundai yang diproduksi di dalam negeri sudah menggunakan baterai tersebut.

“Karena banyak orang yang mengaitkan antara baterai nikel itu dengan Hyundai. Ya memang kita berkeinginan pada saat kita membangun pabrik baterai yang ada di Karawang, kita ingin memaksimalkan penggunaan nikel,” kata Fransiscus.

Ia menambahkan Indonesia merupakan negara dengan cadangan nikel terbesar di dunia sehingga pemanfaatannya dinilai dapat memberikan kontribusi terhadap perekonomian nasional.

Hyundai All New Kona Electric adalah mobil listrik produksi dalam negeri dengan baterai nikel. [Suara.com/Liberty Jemadu]

“Nikel itu kan salah satu sumber daya alam kita, nomor satu di dunia. Jadi kalau kita bisa utilisasi itu makanya akan berkontribusi terhadap Indonesia,” ujar Fransiscus.

Ia kemudian menambahkan bahwa kendaraan listrik berbasis baterai non-nikel tetap berpeluang memperoleh insentif dari pemerintah.

Lebih lanjut Fransiscus mengungkapkan kebijakan ini menjadi peluang untuk meningkatkan penjualan kendaraan listrik di Indonesia, tidak hanya bagi Hyundai tetapi juga seluruh produsen otomotif yang bermain di segmen EV.

“Dan kita melihat ini merupakan suatu peluang untuk kita bisa lebih banyak lagi melakukan penjualan. Bukan hanya untuk Hyundai tapi untuk seluruh pabrikan, baik itu Japanese maker ataupun Chinese maker,” ujarnya.

Baca Juga: Harga Mobil Listrik MG Dipastikan Lebih Murah Setelah Produksi Baterai di Indonesia

Ia menegaskan Hyundai pada prinsipnya selalu mendukung kebijakan pemerintah dan akan terus beradaptasi dengan kebutuhan konsumen maupun regulasi yang berlaku di Indonesia.

“Hyundai selalu menyambut kebijakan pemerintah. Jadi kita harus sesuai dengan permintaan customer. Kalau masyarakat Indonesia lagi maunya EV ya EV, kalau lagi mau hybrid ya hybrid,” tutup dia.

Load More