- BYD menargetkan menjadi pemimpin pasar otomotif global dalam lima tahun ke depan melalui ekspansi agresif di luar Amerika Serikat.
- CEO Toyota Koji Sato menyerukan kolaborasi seluruh produsen otomotif Jepang guna menghadapi tekanan kompetisi dari perusahaan otomotif China.
- Asosiasi produsen otomotif Jepang berencana menstandarisasi komponen dasar kendaraan untuk meningkatkan efisiensi biaya serta mempercepat pengembangan teknologi masa depan.
Suara.com - Persaingan di industri otomotif global sedang berada di titik didih. BYD, raksasa kendaraan listrik (EV) asal China, secara terang-terangan mengincar posisi puncak yang selama ini diduduki dengan nyaman oleh Toyota.
Menurut Inside EV, targetnya tidak main-main: menjadi merek mobil nomor satu di dunia dalam lima tahun ke depan.
Meski Toyota masih memimpin jauh dengan pengiriman 10,5 juta unit dibanding 4,5 juta unit milik BYD tahun lalu, ancaman ini dianggap sangat serius oleh para petinggi otomotif di Jepang.
Apa yang membuat BYD begitu percaya diri bisa melakukan "kudeta" ini? Menariknya, mereka merasa tidak butuh pasar Amerika Serikat (AS) untuk menang.
Di tengah tensi geopolitik dan tarif tinggi 100% untuk mobil listrik China di AS, BYD justru agresif melakukan invasi ke pasar internasional lainnya.
Dengan kemajuan teknologi pengisian daya dan strategi ofensif di pasar luar China, BYD kini sudah meroket ke posisi kelima merek terlaris dunia, bahkan melampaui Ford untuk pertama kalinya tahun lalu.
Toyota bereaksi, serukan aliansi Jepang bersatu
Menanggapi serangan kilat dari China ini, industri otomotif Jepang yang biasanya kompetitif di internal justru mulai merapatkan barisan, menurut laporan The Drive.
Pada pertengahan Juli 2026, Koji Sato, CEO Toyota yang juga menjabat sebagai Ketua Asosiasi Produsen Otomotif Jepang (JAMA), menyerukan pentingnya kolaborasi ketimbang persaingan antar-merek domestik.
Baca Juga: Pemerintah China Tegur Keras Produsen Otomotif Agar Tidak Tumbalkan Keselamatan Demi Perang Harga
Sato mengungkapkan adanya "rasa krisis" yang kuat bahwa industri otomotif Jepang sedang berada dalam masa transisi besar dan harus bertransformasi bersama untuk menghadapi tantangan global.
Langkah konkret dari persatuan ini adalah rencana standardisasi suku cadang secara masif di antara anggota JAMA, yang mencakup Toyota, Honda, Nissan, Mazda, Subaru, Mitsubishi, hingga Suzuki.
Jadi, jangan heran jika nantinya mobil-mobil dari merek yang berbeda ini menggunakan komponen "jeroan" yang identik.
Common part adalah kunci
Fokus kolaborasi ini bukan pada bagian yang terlihat oleh konsumen atau desain bodi, melainkan pada komponen dasar seperti kabel (wiring harnesses), selang cairan, hingga baut dan pengencang.
Mengapa mereka memilih untuk berbagi suku cadang? Tujuannya adalah efisiensi biaya dan penyederhanaan rantai pasok.
Berita Terkait
-
Pemerintah China Tegur Keras Produsen Otomotif Agar Tidak Tumbalkan Keselamatan Demi Perang Harga
-
Harga Mepet, Apakah Mitsubishi Xforce HEV Ancaman Buat Honda HR-V e:HEV?
-
Tuas Persneling Mobil Manual Mendadak Seret? Jangan Dipaksa, Kenali Penyebab dan Solusi Mudahnya!
-
Setir Mobil Bergetar Hebat Saat Kecepatan Tinggi? Kenali "Kode" Bahayanya dan Solusi Jitunya
Terpopuler
- Bedak Wardah Apa yang Cocok untuk Usia 40 Tahun? Ini 5 Rekomendasi Terbaik agar Flawless dan Fresh
- Tak Lagi Disamping Prabowo, Kursi Wapres Gibran Geser Sejajar Menteri di Sidang Kabinet
- 7 Statistik Miris Argentina Saat Dipecundangi Spanyol di Final Piala Dunia 2026
- Persib dan Persija Dikabarkan Tak Lolos IPO di Bursa Efek Indonesia
- Perbedaan Eau De Parfum dan Eau De Toilette, Mana yang Sesuai Kebutuhanmu?
Pilihan
-
Laporkan Hotman Paris ke Polda Metro, PWI Ragukan Ketulusan Permohonan Maaf Sang Pengacara
-
Mendukung Working Mom Mengelola Keuangan Keluarga Lebih Efisien dengan AstraPay
-
Usai Nobar Final Piala Dunia, Bupati Lombok Barat Lalu Ahmad Zaini Kena OTT KPK
-
Menteri PU Dody Hanggodo Bakal Dicopot Agustus? 'Prabowo Tak Suka Menteri yang Bikin Gaduh'
-
Tersangka Don Ritto Dikawal Rantis Brimob saat Tiba di Kejagung, Emas hingga Brankas Ikut Dibawa
Terkini
-
Usut Aliran Rp 91 Miliar Suap Bea Cukai, KPK Tetapkan Tersangka Baru
-
Korupsi Disebut Kejahatan HAM, Mengapa Hak Korban Belum Jadi Perhatian?
-
Aksesori Estetik Makin Digemari, Ini Tempat Belanja Lengkap Incaran Reseller hingga Jastiper
-
Salah Setting Aplikasi Navigasi, Pemotor RX-King Nekat Masuk Tol Jagorawi
-
Anggaran Jasa Belanja Tenaga Ahli Banten Tembus Rp55,47 Miliar, Kepala BPKAD Mengaku Kaget
-
Jembatan di Serang Mulai Dibangun Andra Soni Usai 25 Tahun Tak Tersentuh Perbaikan
-
Langkah Kecil yang Diam-Diam Bisa Membuat Perempuan Lebih Percaya Diri
-
JPMorgan Optimistis Kepada BBRI, Saham Dinilai Masih Murah
-
Fakta Lain Hibah Kapal Induk Giuseppe Garibaldi: Dua Lembaga Negara Italia Boikot
-
BBRI Direkomendasikan JPMorgan, Saham Berpotensi Reli Jangka Pendek