SUARA PEKANBARU - Rocky Gerung melakukan diskusi membahas demokrasi yang menciptakan kesetaraan laki-laki dengan perempuan untuk bisa ikut politik.
Kekurangan peran dari kalangan perempuan jadi perhatian khusus bagi yang ingin menuangkan karyanya di dunia politik.
Hal ini ketika Rocky Gerung melakukan diskusi oleh beberapa orang pemerintahan saat jadi narasumber di Diesnatalis ke-2 Partai Sarekat Demokrasi Indonesia (SDI).
Acara ulang tahun Partai SDI digelar di Aula Husni Hamid Kantor Pemerintah Daerah (PEMDA) Karawang pada Sabtu (10/6/2023) dari pukul 13.00 WIB.
Tema yang diambil "Demokrasi untuk Siapa?" dan dihadiri oleh Bupati Karawang, Cellica Nurachadiana, anggota DPRI RI, Puteri Komarudin, Komisi II DPR RI, Saan Mustofa dan tokoh lainnya.
Sekretaris Jendral Partai SDI, Salsabila, salah satu aktivis, Titi Anggraini dan juga Cellica mempersoalkan masalah jatah perempuan untuk berpartisipasi dalam politik.
Kuota perempuan yang terhitung di pemerintahan hanya sebesar 30 persen. Tentu saja jatah tersebut yang memicu terjadinya feminisme.
Namun, Rocky Gerung membantah terhadap pemikiran tersebut kalau kalangan perempuan untuk bisa berkarya disuruh berjuang sendirian.
"Tadi Salsa menerangkan bahwa kuota perempuan 30 persen itu disuruh fight sendiri, bukan! Kuota 30 persen itu memastikan bahwa perempuan tidak diganggu, kenapa begitu?," jelas Rocky Gerung.
Baca Juga: Thomas Doll: Setelah Dua Pekan, Akhirnya Bisa Hasilkan Permainan yang Bagus
Walaupun Rocky Gerung mengerti, kalau perempuan dianggap selalu tertindas lantaran otaknya tidak bisa berkembang. Pernyataan tersebut disebut sudah penghinaan.
"Perempuan itu adalah anak-anak yang bertumbuh besar. Tubuhnya aja yang berkembang otaknya tidak, itu penghinaan," ujar Rocky.
Pengamat politik itu pun akhirnya menggunakan prinsip secara demokrasi yang berdasarkan mengenai hak. Khususnya dari kaum perempuan.
"Jadi bukannya saya membela perempuan, tapi saya membela hak dalam prinsip demokrasi. Karena saya ingin semua prinsip menggeluti dan mengadopsi etis of care," paparnya.
Ia memaparkan, jumlah terbesar yang menjadi profesor matematikan di dunia berasal dari kalangan perempuan. Membuat peran laki-laki dianggap tidak mumpuni.
Ternyata yang dibutuhkan supaya perempuan bisa berpolitik melakukan kesetaraan dalam berargumentasi yang bisa menciptakan persamaan gender.
Berita Terkait
Terpopuler
- Janji Ringankan Kasus, Oknum Jaksa di Banten Ancam Korban Bayar Rp2 Miliar atau Dihukum Berat
- 5 HP Murah Terbaru Lolos Sertifikasi di Indonesia, Usung Baterai Jumbo hingga 7.800 mAh
- 6 Bedak Tabur Tahan Air, Makeup Tetap Mulus Meski Keringatan Seharian
- 69 Kode Redeem FF Max Terbaru 14 April 2026: Ada Skin Chromasonic dan Paket Bawah Laut
- 5 Sabun Cuci Muka yang Bagus untuk Memutihkan Kulit Wajah di Indomaret dan Harganya
Pilihan
-
Timnas Indonesia U-17 Diganyang Malaysia, Kurniawan Ungkap Borok Kekalahan
-
Beban Ganda Wanita Saat WFH: Terjebak Laptop dan Pekerjaan Rumah Tangga
-
Hore! Jogja Berlakukan Perpanjangan STNK Tanpa KTP Asli, Calo PajakMakin Terhimpit
-
Daftar Starting XI Timnas Indonesia U-17 vs Malaysia: Dava Yunna Masih Jadi Tumpuan!
-
Jateng Belum Ikut-ikut Kebijakan KDM, Bayar Pajak Kendaraan Masih Pakai KTP Pemilik Lama
Terkini
-
Rangkaian Pernikahan El Rumi dan Syifa Hadju Tayang di TV, Segini Bayarannya
-
Borja Herrera Cetak Gol Tercepat Super League 2025/2026, Hanya Butuh Waktu 25 Detik
-
Israel Tembak Mobil Pengangkut Air di Gaza, Kakak Beradik Tewas Mengenaskan
-
Pramono Klaim Jakarta Makin Digdaya: Ekonomi Melesat, Kemiskinan Turun, dan Belanja APBD Cetak Rekor
-
Nestapa Gregor Samsa Si Manusia Kecoa dalam Metamorfosis Franz Kafka
-
Operasi Serentak, Pemprov DKI Angkut 68 Ribu Ikan Sapu-Sapu dari Perairan Jakarta
-
3 Tahun Absen, Huawei Mate Comeback! Bagaimana Nasib Pura Series di Indonesia?
-
Ancaman El Nino di Depan Mata, Pramono Siapkan Jurus Jaga Stok Beras hingga Daging
-
Feri Amsari Dilaporkan ke Polisi Usai Sebut Pemerintah Berbohong soal Swasembada Pangan
-
Kisah Pasutri di Sleman, Sisihkan Uang dari Jualan Gudeg untuk Berangkat Haji