Poptren.suara.com - Dalam rokok ada dua bahan kimia yang umum dikenal orang, yaitu nikotin dan tar. Dua bahan kimia tersebut, terutama nikotin, dianggap sebagai zat yang paling berbahaya bagi kesehatan. Lalu bagaimana dengan tar ? Apa perbedaan keduanya ? Mana yang lebih bahaya ?
Sebuah penelitian menjelaskan nikotin adalah senyawa kimia yang secara alami terdapat pada tembakau dimana senyawa tersebut masuk ke dalam golongan alkaloid. Tidak hanya pada rokok, nikotin juga ditemukan pada beberapa tanaman seperti kentang, terong atau tomat, namun kadarnya kecil. Jika dilihat dari sudut pandang kimia, nikotin adalah senyawa tunggal yang cenderung adiktif sehingga mengakibatkan ketergantungan.
Sementara tar bukan senyawa alami seperti nikotin. Kenapa ? Karena tar merupakan kumpulan dari berbagai senyawa yang timbul dari proses pembakaran pada rokok. Jika dilihat dari karakteristiknya, tar diidentifikasi mengandung senyawa-senyawa karsinogenik, hal tersebut bersumber dari sejumlah riset.
Efek negatif dari tar adalah karsinogeniknya dominan, dimana akan menyebabkan berbagai penyakit. Sedangkan nikotin kencenderungannya adalah efek adiktif. Data dari National Cancer Institute atau NCI di Amerika Serikat, tar mengandung berbagai senyawa karsinogenik yang dapat memicu kanker paru, emfisema, atau masalah paru-paru lainnya.
Tar juga bisa menumpuk pada gigi dan menyebabkan warna gigi berubah kekuningan atau kecoklatan karena menempel pada lapisan terluar gigi, dimana seiring waktu gigi akan mengalami kerusakan.
Selama ini nikotin dianggap sebagai sumber masalah kesehatan pada rokok, namun faktanya justru tar yang merupakan penyebab timbulnya berbagai penyakit akibat merokok. Dengan kata lain, nikotin sama sekali bukan karsinogen, karena bahan karsinogen adanya di dalam tar.
Sebagai solusi terhindar dari efek bahaya, alangkah baiknya berhenti merokok agar mengurangi paparan tar. Karena potensi terjadinya penyakit akibat bahan kimia sangat ditentukan oleh kadarnya. Artinya, kalau kadarnya besar maka berpotensi menimbulkan penyakit, sebaliknya kalau kadarnya kecil, potensinya juga kecil.
Berita Terkait
Terpopuler
- Asal-usul Kenapa Semua Pejabat hingga Diplomat Iran Tak Pakai Dasi
- Sunscreen SPF 50 Apa yang Bagus? Ini 5 Pilihan untuk Perlindungan Maksimal
- Nyanyi Sambil Rebahan di Aspal, Aksi Ekstrem Pinkan Mambo Cari Nafkah Jadi Omongan
- Penyebab BRImo Sempat Terkendala Pagi Ini, Kini Layanan Pulih Sepenuhnya
- Harga Adidas Adizero Termurah Tipe Apa Saja? Ini 5 Varian Terbaiknya
Pilihan
-
Mencekam! SPBE di Cimuning Bekasi Terbakar Hebat, Langit Malam Berubah Merah
-
Buntut Polemik Suket Pendidikan Gibran, Subhan Palal Juga Gugat Pimpinan DPR-MPR
-
Tok! Eks Sekretaris MA Nurhadi Divonis 5 Tahun Penjara dan Wajib Bayar Uang Pengganti Rp137 Miliar
-
Aksi Tenang Nenek Beruban Curi TV 30 Inci di Jatinegara Viral, Korban Tak Tega Lapor Polisi
-
Panglima TNI: Tiga Prajurit yang Gugur di Lebanon Terima Santunan Miliaran dan Pangkat Anumerta
Terkini
-
Gudang Elpiji di Bekasi Meledak dan Terbakar, Warga Panik Berhamburan
-
Terpopuler: HP Warna Oranye Mirip iPhone 17, HP Tahan Air Murah
-
Daftar Lengkap Tarif Listrik PLN Terbaru untuk Semua Golongan
-
Terpopuler: Update Tarif Listrik April 2026, Pilihan Sunscreen Anti Aging
-
Terpopuler: Aturan Baru BBM Subsidi, 4 Mobil Bekas Tahun Muda di Bawah Rp100 Juta
-
Viral! Ini 5 Fakta Pasangan Terciduk Bermesraan di Mushola Pantai Logending Kebumen
-
Polisi Amankan Satu Terduga Pelaku Penganiayaan Pemotor di Umbulharjo Kota Jogja
-
Usai Akui Ijazah Jokowi Asli, Pelapor Sepakat RJ Rismon, Kasus Segera SP3?
-
Agama Adik Vidi Aldiano Dipertanyakan, Jawab Sang Ayah Bikin Ngakak
-
Mencekam! SPBE di Cimuning Bekasi Terbakar Hebat, Langit Malam Berubah Merah