/
Sabtu, 10 September 2022 | 19:56 WIB
tebing watu gribig

PURWOKERTO.SUARA.COM, Kawasan tebing Watu Gribig, Desa Jojogan, Kecamatan Kejajar, Kabupaten Wonosobo, layak dikembangkan menjadi salah satu destinasi wisata khusus sport tourism. Pasalnya, tebing-tebing di kawasan desa tertinggi di Pulau Jawa itu, menawarkan keindahan alam khas Dieng serta tantangan bagi para pemanjat tebing.
 
 
“Tempatnya bagus banget ya. Kalau kita lihat tebingnya bagus, terus cukup menantang,  sebenarnya ini bisa dijadikan sebagai destinasi wisata, khususnya sport tourism,” kata Ganjar, seusai membuka Indonesia Climbing Festival di Tebing Watu Gribig, Jojogan, Kejajar, Wonosobo, Sabtu (10/9/2022).
 
Setelah dikelola dengan baik dan menjadi tujuan wisata, akan banyak orang yang datang ke tempat itu.  Mereka bisa menyaksikan orang memanjat tebing, maupun berlatih panjat tebing.

 Menurut Ganajr,  Indonesia Climbing Festival juga menjadi pemicu untuk membuat lebih banyak event serupa di Tebing Watu Gribig. Tidak hanya berlomba untuk rute memanjat dari bawah ke atas, tetapi juga traversing atau melintasi dinding batu secara horizontal.
 
 
“Yang menarik dari tebing ya, ini betul-betul rock climbing. Menarik adalah kita yang mengikuti cacat batuannya, sehingga orang ditantang untuk orientasi dulu, atur strategi, dan itu membikin lebih complicated, tapi nuansanya akan sangat berbeda dibandingkan yang artifisial. Sehingga, ini bisa menjadi tempat destinasi wisata sport tourism yang sangat menarik,” jelas gubernur.
 
 
Ganjar jadi bernostalgia.  Masa mudanya sewaktu kuliah di Universitas Gadjah Mada, ia juga  tergabung dalam mahasiswa pecinta alam Fakultas Hukum. Sekitar akhir 1980-an Ganjar sempat intens berlatih panjat tebing. Saat itu belum banyak wall climbing yang ada, sehingga berlatih langsung di tebing batu.
 
 
“Saya melatih juga dulu. Tahun 1988 itu pernah melatih, kebetulan saya ketua Mapala di Fakultas Hukum, kemudian kita punya binaan di SMA 8 Yogyakarta. Saya ingat salah satu anak bernama Andi, kelak kemudian Andi itu jadi pemanjat, dan sekarang jadi pelatih di Bali,” ungkapnya.
 
 
Ganjar juga sempat mempraktikkan menjadi pelatih panjat tebing, saat melihat atraksi panjat tebing dari dua anak asal Desa Jojogan, Shahnaz Salisa Maizula Zahra dan Candhika Candra Dahlia (Caca). Ganjar sempat mengecek apakah tali yang mengikat tubuh Shahnaz terlalu kencang dan membuat sakit. Ia juga sempat memberikan beberapa arahan saat dua anak itu sudah mulai memanjat tebing.
 
 Ketua Panitia Indonesia Climbing Festival (ICF), Wiwik Yuniasih mengatakan, ICF memadukan antara adventure terutama rock climbing dengan culture. Perpaduan itu selalu menjadi dasar dari penyelenggaraan ICF di mana pun, termasuk yang diselenggarakan di Dieng.
 
 
“Kita berharap rock climbing menjadi destinasi. Itu mimpi kami semua, terutama untuk peningkatan ekonomi masyarakat. Tebing di Wonosobo ini eksotik dan unik karena tidak tinggi tetapi banyak. Di beberapa bagian tebing juga terdapat gua sehingga ke depan dapat dieksplorasi,” katanya.
 
 
Wiwik berharap festival panjat tebing di Wonosobo dan daerah lain, dapat masuk dalam kalender nasional bahkan internasional. Ia juga berharap penyelenggaraan ke depan dapat mengundang pemanjat tebing dari luar negeri.
 
Untuk event ICF sendiri, jelas Wiwik, menyasar pemanjat usia muda, antara umur 16-25 tahun. Panitia juga membuka kesempatan bagi siapa pun yang mau panjat tebing, untuk ikut serta dalam gelaran itu.
 
“Awalnya kami buka pendaftaran, sekarang sudah kita open, semua bisa ikutan. Kami juga gandeng Ganjar Pranowo karena selain dulunya anggota Mapala, beliau juga dekat dengan anak muda,” jelasnya

Load More