PURWOKERTO.SUARA.COM, PURBALINGGA – Banyak petani atau peternak menjadikan olahan limbah sebagai produk sampingan. Namun Kelompok Tani Muda Desa Kalimanah Wetan berbeda. Mereka mengolah limbah pertanian dan limbah ternak untuk dijadikan pupuk organik sebagai usaha utamanya.
Kelompok Tani Muda Desa Kalimanah Wetan mulai mengolah pupuk oraganik sejak tahun 2019. Usaha ini dilakukan secara mandiri.
Seiring berjalannya waktu, konsistensi Kelompok Tani Muda Desa Kalimanah Wetan mendapat perhatian pemerintah desa. Tahun 2021, pemerintah mengajak berkolaborasi mengolah pupuk organik dan desa memberi SK.
Ketua Kelompok Tani Muda Desa Kalimanah Wetan ditunjuk menjadi ketua kelompok tani muda hasil kolaborasi yang bernama “Serbumas” (Seruan budi daya mandiri sejahtera).
Setelah kolaborasi, kelompok tani muda “Serbumas” mendapat dukungan BPP (Balai Penyuluh Pertanian) Desa Kalimanah Wetan. “Serbumas” juga mendapat pendampingan dari Dinas Pertanian Kabupaten Purbalingga melalui program-program terkait.
Dengan menempati bangunan rumah kompos kas desa, Serbumas dengan empat orang pemuda sebagai pekerjanya mulai rutin memproduksi pupuk dengan cara difermentasi.
“Sekali buat 1 ton, dan setiap minggu buat,ada 4 kotak penampungan pupuk,dengan komposisi beberapa unsur limbah, antara lain dedak afkir yang sudah dicampur kapur pertanian,eceng gondok,kotoran sapi dan domba,sekam bakar dan obat-obatan non sintetis untuk mempercepat proses fermentasi,” kata Sidik Saefudin, ketua kelompok tani muda saat ditemui di lokasi rumah kompos pada Minggu 18 September 2022 siang.
Sampai saat ini usaha yang dikembangkan sidik bersama kelompoknya sudah mulai menampakan hasilnya, dibuktikan dengan adanya konsumen yang memesan pupuk hasil olahannya.
“Alhamdulillah untuk semua tanaman itu cocok kemarin kita baru saja kirim untuk tanam padi di Kutasari, itu 7 Ton dan untuk bunga/tanaman hias juga cocok, kita juga sudah bekerja sama dengan beberapa florist yang menggunakan pupuk kami dan untuk ikut memasarkannya,” ujar Sidik.
Baca Juga: Menlu Retno Marsudi Akan Hadiri Sidang Majelis Umum PBB ke-77
Olahan pupuk organik yang diberi merek dagang “Green Pattern” ini cocok sebagai media tanam sayur, kentang, strawbery, cabe dan aneka sayuran lainnya.
“Pernah dapat order sampai 90 ton, kami belum mampu menyuplai karena pupuk yang diproduksinya masih terbatas dan paling banyak 12 ton,” tuturnya.
Sidik menjelaskan, pasar pupuk organik ini masih sangat luas. Produk pupuk yang selama ini diproduksi dijual ke konsumen dengan harga eceran per kilo nya dibandrol Rp 750, ada juga kemasan 20 kilogram dihargai Rp 15 ribu.
Pupuk organik ini pernah dipesan petani Adipala, Cilacap dan Tegal. Pupuk dipakai untuk menanam sayur, cabe dan strawberry.
“Pemasaran yang selama ini dilakukan lebih banyak melayani luar desa kalimanah wetan, antara lain Kutasari, Bojongsari, Serang, Pratin dan juga perorangan dilayani secara COD,”katanya.
Ongkos produksi yang dikeluarkan lebih banyak untuk upah karyawan dengan cara bagi hasil dan pembelian obat-obatan non sintetis. Sementara bahan dari limbah sendiri didapat secara cuma-cuma. Jika bahan baku kurang mencukupi maka mereka mengambil dari desa lain.
Sidik berharap kedepannya untuk mewujudkan pertanian regeneratif dan pupuk organik hasil produksinya bisa digunakan secara menyeluruh khususnya di Desa Kalimanah Wetan dan secara umum di wilayah Purbalingga dan sekitarnya hingga Nusantara.
Berita Terkait
Terpopuler
- TNI Mau Ambil Alih Kamtibmas? TB Hasanuddin: Itu Tugas Polri
- Cara Menata Isi Dompet yang Baik Menurut Feng Shui agar Rezeki Lebih Lancar
- 6 Tanda-Tanda Rumah Memiliki Energi Positif Chi yang Membuat Penghuni Tenang
- 5 Sunscreen untuk Flek Hitam Usia 30 Tahun ke Atas Sesuai Review dan Harga
- Media Italia Sebut Jay Idzes Masuk Radar PSG: Transfer Mewah untuk Sassuolo
Pilihan
-
Kampung Bahari Memanas! Massa Lawan BNN dan Brimob Pakai Petasan saat Gerebek Narkoba
-
Sudah Dibangun Sejak 2023, Sejauh Mana Bibit Sriwijaya Kemampo Pulihkan Hutan Sumsel?
-
Napak Tilas Jejak Kolonial Londo Ireng di Makam Kherkof Purworejo
-
100 Personel Damkar Masih Berjibaku Padamkan Kebakaran Gedung Bapenda DKI
-
Kantor Bapenda DKI Jakarta Dilalap si Jago Merah, Api Semakin Membesar
Terkini
-
Review Anak Semua Bangsa Karya Pramoedya: Dari Duka Menuju Kesadaran
-
Demi Ketenangan Almarhum, Orang Tua Affan Kurniawan Mohon Tak Ada Peringatan Setahun Kematian
-
Dukung Ratusan Ribu UMKM, Penyaluran KUR BRI Tembus Rp103,81 Triliun Pada 2026
-
Silent Skill Gap: Bahaya Lupa Cara Mikir Akibat AI
-
Dituding Tak Serius Bahas RUU Ketenagakerjaan, DPR Membantah
-
Infinix GT 50 Pro Resmi Jadi Perangkat Gaming di Kapolri Cup 2026, Speknya Sudah Pasti Juara!
-
Investasi Hilirisasi Minerba Tembus Rp206,5 Triliun, ESDM: Ekonomi Mulai Bergeser dari Jawa
-
BRI Pacu Ketahanan Pangan hingga Kucurkan Kredit Rp10,7 Triliun
-
Diskon Biaya Layanan E-Commerce hingga 50 Persen untuk UMKM, Mendag Tekankan Transparansi
-
The End of Oak Street: Perjalanan Melintasi Waktu Dibalut Sensasi Teror Dinosaurus