/
Selasa, 21 Juni 2022 | 07:03 WIB
Dok. MCG 2022

Selebtek.suara.com - Saat ini seluruh umat Islam di dunia diminta untuk menunaikan rukun Islam kelima yakni ibadah haji jika mampu melaksanakannya. Di tahun ini Indonesia sendiri mendapat kuota terbanyak yakni 100.051 jemaah.

Nah, terlepas dari jumlah kuota jemaah haji yang didapat Indonesia, ada satu istilah yang sering muncul terutama saat momen-momen seperti ini. Itu adalah haji mabrur dan haji mardud

Sebenarnya apa sih arti dari istilah ini?

Haji mabrur adalah istilah yang paling sering didengar, namun hanya sedikit yang tahu artinya. Haji mabrur adalah haji yang diterima dan diberi balasan berupa kebakikan atau pahala oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala.

Istilah ini juga ada dalam hadist yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim. Rasulullah SAW bersabda, "Umrah ke umrah berikutnya merupakan pelebur dosa antara keduanya. Dan, tiada balasan bagi haji mabrur, melainkan surga" (HR. Bukhari: 1683 & Muslim: 1349).

Ada beberapa pendapat dari para ulama mengenai arti haji mabrur. Salah satunya yakni haji mabrur adalah pahala yang diterima di sisi Allah Subhanahu wa Ta'ala. Haji mabrur tak dicampur dengan kemaksiatan atau dosa serta kesombongan di dalam diri.

Ulama ahli tafsir Al Quran dan Hadist Ustadz Adi Hidayat dalam kanal Youtubenya mengatakan seseorangyang dikatakan haji mabrur akan pulang dengan membawa sifat birrun yakni sifat baik yang meninggalkan sifat buruk.

“Intinya, Haji yang mabrura dalah Haji yang mampu merubah keadaan seseorang lebih baik dari sebelumnya,” katanya.

Sementara haji mardud adalah pelaksanaan haji yang ditolah oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala karena dalam pelaksanaannya tidak memenuhi syarat dan rukun haji, serta banyak melakukan dosa. Salah satunya adalah melaksanakan haji dengan menggunakan dana haram hasil korupsi.

Dalam video ceramah yang diunggah ke kanal YouTube Kajian Islam Official pada 13 Desember 2020, ustadz Adi Hidayat mengatakan ada beberapa tanda Allah Subhanahu wa Ta'ala tidak ridha atas perbuatan yang kita lakukan.

"Tanda Allah tidak ridha, hati kita merasa gelisah dan bersalah. Kalau tidak percaya silahkan Anda melihat gambar-gambar yang tidak senonoh, hati Anda akan menolak. Karena jiwa Anda mulia, maka hati Anda akan berkata: palingkan itu tidak layak", tambah Ustadz Adi Hidayat.

Sementara dalam hadist yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim, Rasulullah SAW pernah bersabda, “Tidak ada talbiyah bagimu dan tidak ada pula keberuntungan atasmu karena makananmu haram, pakaianmu haram dan hajimu ditolak” (HR. Bukhari & Muslim).

Nah, berikut ini tujuh pertanda Allah Subhanahu wa Ta'ala atas perbuatan hamba-Nya.

1. Merasa mudah dalam mengerjakan berbagai hal yang diperintahkan Allah Subhanahu wa Ta'ala, sehingga Allah Subhanahu wa Ta'ala memudahkannya dalam menerima berbagai bentuk kebaikan.

2. Seorang muslim jika ditimpa musibah atau malapetaka, maka dia tetap tenang dan bersabar melalui masalah yang dihadapi.

3. Mendapatkan ketenangan dan keyakinan terhadap janji Allah Subhanahu wa Ta'ala mengenai pertolongan yang diberikan-Nya.

4. Tidak khawatir terhadap kehidupan di dunia ini, dan percaya bahwa sudah ada jaminan Allah Subhanahu wa Ta'ala sebab Dia-lah yang menjamin penghidupan bagi hamba-hambanya.

5. Tidak pernah merasa bosan bersimpuh kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala dengan berzikir dan membaca Alquran.

6. Bergaul dengan orang yang dekat pada Allah Subhanahu wa Ta'ala. 

7. Berusaha keras mencari ilmu dan mendapatkan kemudahan dalam proses tersebut, khususnya pada ilmu syariah.

Itulah perbedaan antara haji mabrur dan haji mardud. Semoga dengan ini bisa menambah ilmu dan memperkuat keimanan kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala. (*)

Load More