/
Minggu, 02 Oktober 2022 | 08:28 WIB
Dua media internasional terkemuka menulis insiden mengerikan yang diduga salah prosedur dengan tembakkan gas air mata di dalam stadion, usai laga Liga 1 Arema FC Vs Persebaya Surabaya (ANTARA/Vicki Febrianto)

SUARA SEMARANG - Sejumlah media asing ikut menulis tragedi Kanjuruhan yang tewaskan setidaknya 127 orang (informasi sementara), dalam penanganan polisi terhadap suporter usai laga Arema FC Vs Persebaya, Sabtu (1/10/2022).

Melansir laman Suara, dua media internasional terkemuka menulis insiden mengerikan yang diduga salah prosedur dengan tembakkan gas air mata di dalam stadion, usai laga Liga 1 Arema FC Vs Persebaya Surabaya.

The Guardian melaporkan 120 orang tewas dalam tragedi Kanjuruhan itum usai Arema FC harus menelan kekalahan dari Persebaya Surabaya dengan skor 2-3 dalam lanjutan Liga 1 pekan ke 11.

Media asal Inggris The Guardian juga turut mengutip perkataan kepada kantor kesehatan daerah Malang, Wiyanto Wijoyo soal jumlah orang tewas dalam insiden Kanjuruhan usai laga Arema FC Vs Persebaya Surabaya.

Di mana Wiyanto Wijoyo menyatakan, lebih dari 120 orang tewas dan masih mengumpulkan jumlah korban yang terluka dan tengah dirujuk ke rumah sakit setempat.

 "Perkelahian kabarnya dimulai saat ribuan suporter Arema berhamburan ke lapangan usai timnya kalah. Pemain Persebaya langsung meninggalkan lapangan, namun beberapa pemain Arema yang masih berada di lapangan juga ikut diserang," tulis The Guardian.

Kemudian media asal Amerika Serikat, New York Times juga turut mengabarkan soal kerusuhan antara Polisi Vs suporter Arema FC Aremania itu.

New York Times menuliskan beberapa orang tewas setelah lusinan suporter masuk ke lapangan seusai pertandingan.

"Kekerasan sepak bola telah lama menjadi masalah bagi Indonesia. Kekerasan, seringkali persaingan mematikan antara tim-tim besar adalah hal biasa," tulis New York Times.

Baca Juga: Per Hari Ini! Buntut Tragedi Berdarah, PT Liga Indonesia Baru Resmi Memberhentikan Liga 1 2022/2023 Selama Sepekan

"Beberapa tim bahkan memiliki klub penggemar dengan apa yang disebut komandan, yang memimpin pasukan pendukung untuk pertandingan di seluruh Indonesia. Suar sering dilemparkan ke lapangan dan polisi anti huru hara selalu hadir di banyak pertandingan," sambung tulisan tersebut.

Manajemen Arema FC buka suara atas insiden Kanjuruhan yang menwaskan 127 orang hingga Ahad atau Minggu (2/10/2022) pagi, buntut kericuhan polisi dengan suporter dari Aremania usai laga Arema FC Vs Persebaya Surabaya.

Manajamen Arema FC mengungkapkan permintaan maaf atas insiden yang terjadi menewaskan hingga lebih dari 100 orang usai laga Arema FC Vs Persebaya Surabaya, di sisi lain penggunaan gas air mata di dalam stadion dikritik habis dengan akibat yang fatal.

Manajemen Arema FC selain permohonan maaf juga membuka Crisis  Center untuk membantu Aremania yang jadi korban tragedi Kanjuruhan semalam, usai laga Arema FC Vs Persebaya.  

Melansir laman klub, manajemen menyampaikan duka cita mendalam atas jatuhnya korban dalam musibah besar di Stadion Kanjuruhan, Kabupaten Malang pada pekan ke-11 Liga 1 2022 pada Sabtu (1/10/2022). 

"Arema FC menyampaikan duka mendalam atas musibah di Kanjuruhan. Manajemen Arema FC turut bertanggung jawab untuk penanganan korban baik yang telah meninggal dunia dan yang luka-luka," ujar Ketua Panitis Pelaksana (Panpel) Arema FC, Abdul Haris. 

Manajemen Arema FC, kata dia, juga akan membentuk Crisis Center atau Posko Informasi korban untuk menerima laporan dan penanganan korban yang dirawat di rumah sakit.

"Manajemen juga akan membentuk crisis center atau posko informasi yang menghimpun dan menerima laporan untuk penanganan korban yang dirawat di rumah sakit," tambah Haris. 

Manajemen Arema FC menyampaikan permohonan maaf sebesar-besarnya kepada keluarga korban dari Aremania.

"Kepada keluarga  korban manajemen arema fc memohon maaf sebesar besarnya serta siap memberikan santunan. Manajemen siap menerima saran masukan dalam penanganan pasca musibah agar banyak yang diselamatkan," ujar Abdul Haris.

Polisi dikritik habis-habisan usai gagal menangani massa suporter dari Aremania yang masuk stadion udai laga Arema FC Vs Persebaya Surabaya, aparat kedapatan menembakkan gas air mata ke tribun penonton yang penuh, padahal benda itu dilarang oleh FIFA, beberapa Bonek bersuara.

Tragedi chaos penanganan massa suporter usai laga Arema FC Vs Persebaya ini yang menyulut perhatian ini disebut bukan soal kelompok sepak bola, tapi tragedi kemanusiaan, Bonek dan banyak kelompok suporter lain ikut berduka.

Load More