/
Kamis, 16 Februari 2023 | 07:44 WIB
Kepala Dinkes Kota Semarang, Abdul Hakam (semarangkota.go.id)

SUARA SEMARANG - Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Semarang mencatat kasus diabetes melitus naik belakangan ini.

Dari data yang dikutip dari semarangkota.go.id, kasus diabetes melitus di Kota Semarang yang bergantung pada suntikan insulin pada tahun 2021 sebanyak 27 anak dengan rincian satu anak perempuan berusia 0 hingga 12 tahun, lalu usia 13 hingga 18 tahun terdapat 18 anak laki-laki dan 8 anak perempuan.

Untuk kasus diabetes melitus yang tidak bergantung pada insulin di tahun 2021 sebanyak 242 anak dengan rincian usia 0 hingga 12 tahun terdapat dua anak perempuan, usia 13 hingga 18 tahun terdapat 111 anak laki-laki dan 129 anak perempuan.

Pada tahun 2022, kasus diabetes melitus anak yang bergantung pada insulin hanya 27 anak namun saat ini bertambah menjadi 33 anak.

Rinciannya anak usia 0 hingga 12 tahun ada satu anak laki-laki dan delapan anak perempuan. Sementara untuk anak usia 13 hingga 18 tahun terdapat sembilan anak laki-laki dan 15 anak perempuan.

Sementara untuk diabetes yang tidak bergantung pada suntikan insulin, yakni dari semula 242 pada tahun 2021 naik menjadi 344 pada tahun 2022.

Untuk rinciannya, usia 0 hingga 12 tahun, laki-laki sebanyak 23 anak, perempuan sebanyak 24 anak. Usia 13 hingga 18 taun, laki-laki sebanyak 127 anak dan perempuan sebanyak 170 anak.

Kepala Dinkes Kota Semarang, M. Abdul Hakam menyebutkan penyebab diabetes melitus bisa muncul di awal-awal karena pola makan yang tidak benar.

"Makan yang tidak benar, tidak banyak gerak atau bahkan tidak ada aktivitas,” kata Hakam, Senin (13/2/2023).

Baca Juga: Hasil dan Klasemen Liga Inggris: Manchester City Kudeta Arsenal dari Puncak Klasemen

Hakam menjelaskan untuk kebutuhan kalori setiap anak berbeda-beda karena kebutuhan kalori ini berhubungan dengan berat badan dan aktivitas fisik yang dilakukan.

Dia menyebut bahwa anak membutuhkan gizi seimbang dalam pemenuhan kalori hariannya agar tumbuh sehat.

“Jadi yang harus diperhatikan adalah gizi yang seimbang. Jangan senang jika anak diam, main HP, cemal-cemil makanan yang tidak sehat,” pungkasnya.

Load More