/
Senin, 30 Januari 2023 | 05:35 WIB
Portrait Ibu Aisyah (66) salah satu penyintas kusta saat ditemui di Kampung Kusta, Neglasari, Kota Tangerang, Banten, Minggu (29/1/2023). (SuaraSerang/Wawan Kurniawan)

Sejak tahun 1951, Kota Tangerang telah memiliki rumah sakit yang fokus melayani orang-orang yang menderita penyakit kusta. Rumah Sakit yang diberi nama Pusat Rehabilitasi Sitanala itu diresmikan oleh ibu wakil presiden RI pertama yakni ibu Rahmi Hatta.


Nama Sitanala sendiri diambil dari nama seorang dokter yang memang secara khusus mendedikasikan dirinya menangani para penderita kusta di Indonesia. Ia adalah Dr. J.B. Sitanala.


Sejak awal berdirinya, keberadaan rumah sakit Sitanala itu sangat membantu dalam merawat orang-orang yang menderita kusta. Bahkan, kemudian kawasan sekitar rumah sakit tersebut diberi nama Kampung Kusta.


Mengutip situs dari Kementerian Kesehatan RI, Kusta adalah sejenis penyakit yang disebabkan oleh bakteri atau kuman kusta bernama Mycrobacterium Leprae yang menyerang kulit, saraf tepi dan jaringan organ tubuh lainnya.

Kusta juga disebut sebagai penyakit menular dan menahun dengan masa inkubasi 5-10 tahun yang dapat disembuhkan dengan pengobatan rutin dan intensif.

Salah seorang penyintas kusta saat beraktivitas sore di kediaman rumahnya di Kampung Kusta, Neglasari, Kota Tangerang, Banten, Minggu (29/1/2023). (sumber: SuaraSerang/Wawan Kurniawan)

Organisasi atau Badan Kesehatan Dunia (WHO) secara resmi menetapkan Hari Kusta Sedunia diperingati pada setiap hari Minggu pada pekan terakhir di bulan Januari. Untuk tahun 2023 ini, hari Kusta Sedunia atau ‘World Leprosy Day’ jatuh pada tanggal 29 Januari 2023.


Tujuan diperingatinya adalah untuk meningkatkan dan menciptakan kesadaran kepada masyarakat dunia terkait pengetahuan tentang penyakit kusta.


Kampung Kusta terletak di desa Karangsari, Kecamatan Neglasari, Kota Tangerang, Provinsi Banten. Lokasi tak jauh dari Rumah Sakit Umum Daerah Kabupaten Tangerang.

Para penyintas kusta di Kampung Kusta, Neglasari, Kota Tangerang, Banten, Minggu (29/1/2023). (sumber: SuaraSerang/Wawan Kurniawan)

Keberadaan Kampung Kusta sendiri sangat membantu bagi para penyintas kusta yang telah terstigma oleh masyarakat umum seperti tidak bisa melanjutkan pendidikan, sulit mendapat pekerjaan, dikucilkan dari lingkungan, ditolak di fasilitas umum, diceraikan pasangan, bahkan ditolak dari fasilitas pelayanan kesehatan.

Baca Juga: One Punch Man Manga: Peringkat Pahlawan Terkuat dan Monster Terkuat versi Suara Serang, Kamu Yang Mana?

Namun dengan mereka memilih hidup dan tinggal di satu wilayah, hal itu juga agar mudah terpantau kesehatannya oleh rumah sakit Sitanala yang saat itu sebagai pusat Rehabilitas Kusta.


Di kampung Kusta Tangerang, mereka hidup berkelompok, kompak, saling membantu dan saling menguatkan antar sesama mereka sebagai penyintas bahkan dengan warga biasa. Karena sudah terstigma negatif, para penyintas kusta merasa telah ‘terusir’ dan ’terasingkan’ dari kampung asal mereka meskipun sudah dinyatakan sembuh. Namun kondisi fisik mereka memang terlihat berbeda dari orang-orang normal kebanyakan.

Pasangan suami istri penyintas kusta, pak Sumanta (73) dan Ibu Aisyah (66) saat beraktivitas sore di Kampung Kusta, Neglasari, Kota Tangerang, Banten, Minggu (29/1/2023). (sumber: SuaraSerang/Wawan Kurniawan)

Ibu Aisyah (66) menceritakan dulu bagaimana ia dan teman-temannya sesama penyintas mendapat pandangan negatif dari masyarakat yang melihat kondisi fisiknya. Dijauhi orang, bahkan tidak mendapat pekerjaan layaknya orang-orang normal umumnya.


“Dulu mah kita disini dijauhin orang, orang-orang pada takut ngeliat kita. Nyari kerjaan aja susah,” ujar ibu Aisyah saat ditemui bersama dengan beberapa teman-temen penyintas kusta lainnya yang sedang bekerja sebagai pengupas bawang, Minggu (29/1/2023).


Ibu Aisyah sekilas memang terlihat seperti orang normal pada umumnya, namun dirinya tak malu menunjukan 2 tangannya yang pernah terkena kusta dibagian jari-jarinya.


“Kita mah nggak ada pengen dapet sakit kayak begini, tapi dikasih cobaannya begini, ya kita terima aja,” kata bu Aisyah.

Load More