Rizki Nurmansyah
Selasa, 25 Juni 2019 | 08:13 WIB
Pebulutangkis tunggal putri Indonesia, Fitriani, menang atas Line Hojmark Kjaersfekdt (Denmark) di babak pertama Indonesia Masters 2019 di Istora Senayan, Jakarta, Rabu (23/1). [Suara.com/Muhaimin A Untung]

Suara.com - Kepala Bidang Pembinaan dan Prestasi PBSI, Susy Susanti mengakui sulitnya mendongkrak prestasi sektor tunggal putri.

Saat ini sektor tunggal putri masih jadi yang paling tertinggal dibanding empat sektor lainnya di Pelatnas PBSI.

Berbagai langkah telah dilakukan PBSI guna mengangkat prestasi Fitriani cs. Termasuk menunjuk Rionny Mainaky sebagai kepala pelatih tunggal putri Pelatnas PBSI.

"Saat ini tunggal putri yang harus ekstra kerja keras," ujar Susy dalam keterangan tertulis yang diterima Suara.com, Selasa (25/6/2019).

"Makanya kenapa saya bawel ngomong terus, bukan menganakemaskan tunggal putri, tapi saya mau memacu semangat mereka," sambungnya.

Kepala Bidang Pembinaan dan Prestasi PBSI, Susy Susanti, di Hotel Century, Senayan, Jakarta, Sabtu (12/5/2019). [Suara.com/Arief Apriadi]

"Saya bilang, 'Saya enggak terima, lho. Kita tuh bisa, bukannya enggak bisa, walaupun cuma satu orang, tapi bisa'. Bagaimana caranya menemukan yang satu orang ini," Susy menambahkan.

Secara khusus, peraih medali emas Olimpiade 1992 Barcelona ini menyoroti mentalitas Gregoria Mariska Tunjung dan kawan-kawan.

Menurutnya, semangat juang para penggawa tunggal putri Indonesia masih kurang. Hingga ia pun berkelakar memberikan daging macan kepada mereka.

"Sampai saya bercandain, apa perlu dikasih daging macan ya biar galak? Ha ha ha," tuturnya diiringi tawa.

"Jangan kelemer-kelemer, memang kita ini putri Timur, tapi kalau di lapangan kan bukan putri Timur lagi."

"Di depan kalian itu musuh, lho, harusnya berpikir, dia atau saya yang mati? Harusnya berpikir seperti perang."

"Kalau kita tidak melawan, ya kita yang akan mati. Itu yang kami terapkan, saya sendiri juga gemas," tukas Susy.