Panggung adalah lapangan rumput. Pada enam sudut panggung berdiri boneka orang-orangan sawah yang terbuat dari jerami dan batang bambu. Ditengah panggung terdapat kuali besar. Pelan-pelan terdengar suara distorsi dari pengeras suara, makin lama suaranya makin keras dan mencekam berpadu dengan suara pukulan-pukulan besi dan gerinda memotong besi. Tokoh-tokoh masuk dengan berbalut kain putih dan bertelanjang dada. Mereka masuk dengan gerak dan ekspresi yang datar, seperti petani-petani yang tidak lagi memiliki harapan. Tokoh-tokoh ini kemudian mendekati boneka orang-orangan sawah. Mereka menyentuh dan menggendongnya, membawanya berkeliling, seperti seorang kekasih atau ayah kepada anaknya.
Begitulah gambaran awal dari pertunjukan teater dengan judul Zeit Atawa Waktu dari Teater RusaRasa karya dan sutradara Mulyana. Pertunjukan ini dipentaskan pada peringatan hari jadi Walhi yang ke-42. Pementasan dilaksanakan di Rumah Pergerakan Training Center Walhi Jl. Caringin-Cilengsi No.20, Pancawati, Kec. Caringin, Kabupaten Bogor, Jawa Barat.
Secara umum penampilan dari Teater RusaRasa cukup memukau. Audiens yang sebagian besar pelajar SMA dan para aktivis Walhi, kasak kusuk dibelakang, “serem ih serem”. Namun, anak-anak muda itu betah “melototin” pentas sampai selesai. Memang kesan yang ditangkap dari pertunjukan tersebut seperti sebuah horror lingkungan. Dari idiom-idiom yang digunakan seperti, orang-orangan sawah, daun kluwih, ilustrasi music yang meneror, serta tokoh-tokoh yang menunjukan emosi datar, sedih dan marah, dapat ditangkap pesan dari pertunjukan ini adalah orang-orang (petani atau yang kehidupannya terkait dengan alam/lingkungan) merasa sedih dan marah namun tidak dapat berbuat apa-apa dengan kerusakan alam dan lingkungan yang terjadi.
Bacaan di atas sepertinya tidak terlalu jauh melenceng dari apa yang ingin disampaikan sang sutradara. Mulyana mengatakan bahwa karya tersebut berfokus pada isu kerusakan lingkungan, alih fungsi lahan yang mengakibatkan bencana. Lebih jauh, ia mengatakan bahwa koreo yang ditampilkan oleh tokoh-tokoh dalam pertunjukan tersebut mengandung perlambang, seperti pada koreo pertama merupakan perlambang dari sebuah aktivitas masyarakat agraris, bermain menggunakan media orang-orangan sawah amat identik dengan masyarakat tersebut dalam kesehariannya dalam melakukan aktivitas yaitu bertani. Koreo kedua yaitu bermain dedaunan merupakan perlambangan mekarnya sebuah bunga atau tumbuhan dalam proses kehidupannya. Koreo ketiga yaitu Tremor, merupakan transisi dalam perubahan zaman dalam masyarakat agraris ke dalam sebuah kemajuan teknologi yang berimbas besar pada lingkungannya.
Pada koreo keempat bermain slime, merupakan perlambangan terbelenggunya masyarakat agraris dalam kemajuan teknologi yang dikuasai oleh orang-orang adikuasa. Perlambangan dari manusia serakah digambarkan oleh media topeng wayang merah. Dan pada koreo terakhir merespon topeng merah dan keluar panggung, menandakan masyarakat agraris semakin terbelenggu oleh orang-orang adikuasa yang mengharuskan mereka melakukan aktivitas dalam bayang-bayang keserakahan orang yang berkuasa.
Berita Terkait
-
Tari Leuweung Kolot Ekspresi Kearifan Lokal Sunda Dipentaskan pada Ulang Tahun Walhi yang ke 42
-
Tarian Riksa Cisadane Tampil di hadapan Menteri KLH pada acara Ulang Tahun Walhi ke 42
-
Menteri KLHK Menerima Seeng dari Saung Pelestarian Penca Pusaka Cimande (SP3C) pada Ulang Tahun Walhi ke 42
-
Pulau Dewata Dilanda Bencana Alam, WALHI Bali Ungkap Penyebab Utamanya
-
WALHI Bali: Proyek Tol Terabas 480,54 Hektar Persawahan, Produksi Beras Berkurang 2.883 Ton
Terpopuler
- Pentagon Gelar Karpet Merah, Sjafrie Sjamsoeddin Dituding Bawa Agenda Akses Bebas di Langit RI
- 6 Sabun Cuci Muka yang Bagus untuk Memutihkan Wajah dan Harganya
- AS Blokade Semua Pelabuhan Iran Senin Hari Ini, Harga BBM Langsung Naik
- 7 HP Murah di Bawah Rp1 Juta Paling Layak Beli di 2026, Performa Oke Buat Harian
- 7 HP Samsung Seri A yang Sudah Kamera OIS, Video Lebih Stabil
Pilihan
-
Warga Sambeng Borobudur Terancam Kehilangan Mata Air, Sendang Ngudal Dikepung Tambang
-
Rivera Park Tebo Terancam Lagi, Tambang Ilegal Kembali Beroperasi Saat Wisatawan Membludak
-
Bukan Merger, Willy Aditya Ungkap Rencana NasDem-Gerindra Bentuk 'Political Block'
-
Habis Kesabaran, Rossa Ancam Lapor Polisi Difitnah Korban Operasi Plastik Gagal
-
Konflik Geopolitik Tak Pernah Belanja di Warung, Tapi Pelaku UMKM Semarang Dipaksa Akrobat
Terkini
-
Review Jakarta Sebelum Pagi: Menyingkap Misteri Surat dan Luka Masa Lalu
-
Daftar Harga Motor Listrik Polytron April 2026, Mulai Rp11 Jutaan
-
Senyum Semringah Jemaah Calon Haji Embarkasi Surabaya: Dokumen Siap, Biaya Tak Naik
-
Media Eropa-Asia: Jika Pesawat Perang AS Bebas di Udara Indonesia akan Ubah Peta Kekuatan Regional
-
Data Transaksi Digital Kompleks, Data Center ISC Makin Canggih
-
Kontroversi Dikidoy, Akun yang Live TikTok Sidang Pelecehan Seksual Mahasiswa FH UI
-
Motor Listrik MBG Pesanan BGN Rp56 Juta, di Marketplace Cuma Rp10 Juta?
-
42 Kode Redeem FC Mobile 15 April 2026, Daily Gifts Pemain 117 dan 1.000 Rank Up Menanti
-
Malam Mencekam di Bandar Lampung: Perjuangan Tim SAR Evakuasi 109 Warga dari Kepungan Banjir
-
Harga Google Pixel 9 Terbaru April 2026 di Indonesia, Ini Keunggulannya