/
Jum'at, 12 Mei 2023 | 14:15 WIB
Sambutan Asisten pemerintahan dan Kesra Kab. Bogor (Dokumentasi BPBD Kab. Bogor)

Cimande 12 Mei 2023. Cuaca di Indonesia saat ini memang sedang panas-panasnya. Tapi sepertinya hal ini tidak terlalu berpengaruh di Cimande, sebuah kawasan wisata di kaki Gunung Pangrango. Mungkin ini karena hutan dan lingkungannya masih relatif terjaga. Langit cerah biru berhias beberapa gumpal awal putih. Cimande yang terletak di Kota hujan Bogor memiliki ciri khas hampir sama. Walaupun musim kemarau, tetap saja sering turun hujan di sore harinya. Bisa jadi ini menjadi alasan mengapa Kawasan Bogor Selatan tidak sepanas Cibinong apalagi Jakarta. Sehingga tempat ini biasa dijadikan tempat pelatihan-pelatihan.

Ratusan Pelajar Pramuka setingkat SMA  dan Relawan Desa mengikuti  pelatihan tahunan Pencegahan dan Mitigasi Bencana yang diadakan oleh BPBD Kab. Bogor. Hadir dan membuka Drs. Hadijana, S.Sos, M.Si, Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat yang  mewakili PLT Bupati Bogor Iwan Setiawan. Dalam sambutannya Hadijana yang pernah menjabat Camat Cijeruk ini berharap ilmu yang diperoleh dari pelatihan ini bisa bermanfaat bagi diri sendiri dan keluarga, tapi akan lebih baik jika kemudian diadakan pelatihan mandiri di  masing-masing sekolah dan desanya. Sehingga BPBD terbantu dalam melakukan respon bencana yang terjadi di Kabupaten Bogor. 

Pelatihan ini rencananya dilaksanakan selama tiga hari dari tanggal 11 Mei sampai dengan 13 Mei 2023. Peserta  pelatihan ini terdiri Pramuka Peduli  dan Relawan Desa sebanyak 160 orang. Hampir semua Kwaran Pramuka mendatangkan peserta sehingga bisa diartikan keterlibatan dari semua wilayah Kab. Bogor terwakili. 

Pramuka Peduli Peserta Pelatihan BPBD Kab. Bogor (sumber: sukabumi.suara.com)

Secara terpisah, saat di wawancara, Andi Yudayana Ketua Pelaksana Pelatihan Pencegahan dan Mitigasi Bencana BPBD. Menyampaikan tujuan pelatihan ini adalah pertama, melatih masyarakat dalam penanggulangan bencana karena luasnya wilayah Kabupaten Bogor yang tak mungkin respon kami cepat. Jarak kami di Cibinong ke Kecamatan Paling Ujung di Tanjungsari dan Jasinga butuh beberapa jam. Tapi kalau masyarakatnya sudah kuat (paham, red) dan kapasitas masyarakatnya sudah kita bentuk (untuk, red) penanggulangan bencana. Minimal pada saat terjadi bencana itu masyarakat (dapat merespon, red) lebih awal. Kedua mengurangi resiko bencana dengan meningkatkan kapasitas masyarakat dalam hal penanggulangan bencana secara umum. Minimal mereka bisa melakukan pertolongan pertama untuk diri sendiri dan keluarga.

Fokus materi  dalam kegiatan ini, Lembaga Pro Emergency menitikberatkan pada  peningkatan kapasitas peserta pada kemampuan memberikan pertolongan pertama ketika bencana terjadi. Bagaimanapun  juga masing-masing bencana alam memiliki karakteristik dampak yang berbeda. Termasuk bencana-bencana yang umum terjadi di wilayah Bogor.

Salah satu peserta pelatihan tersebut Iseh, panggilan untuk Siti Aisyah dan Siti Salma Husniah. Siswi dari SMK Sirojulhuda 3 itu menyampaikan bahwa materi yang didapatkan adalah hal yang baru. sebelumnya saat terjadi banjir bandang di Leuwisadeng Kab. Bogor ia hanya terlibat dalam kegiatan menyiapkan PLP ( Pakaian Layak Pakai) dan membagikannya, ikut membantu membersihkan kotoran dampak banjir serta membantu di dapur umum. 

Relawan Desa Peserta Pelatihan BPBD Kab. Bogor (sumber: sukabumi.suara.com)

Terkait dengan karakteristik bencana, Sutan panggilan akrab Sutanandika, Guru yang aktif memfasilitasi kegiatan Cisadane Resik Rescue menyatakan bahwa bencana adalah sesuatu yang pasti terjadinya, entah karena faktor alam atau karena ulah (pemicu atau pemberat) manusia. Tahun 2021 terjadi 1.283 lokasi kejadian. Sedangkan tahun 2022  terjadi  564 kejadian yang terjadi di 1.147 lokasi, meliputi 40 kecamatan dan 307 desa/kelurahan. Untuk wilayah Kabupaten Bogor yang didominasi kontur pegunungan memiliki resiko bencana, kebakaran hutan, longsor, angin kencang, banjir bandang, kekeringan dan gunung berapi. Karena bencananya pasti terjadi namun yang tidak pasti adalah kapan dan seberapa besar atau parah yang ditimbulkan. Maka hal yang harus dilakukan salah satunya adalah berbagai lembaga melakukan edukasi terhadap orang muda Indonesia yang berada di wilayah rawan bencana tentang potensi bencana, memperkirakan dampak yang terjadi, bagaimana melakukan assesment bencana, melakukan respon darurat, menggalang solidaritas dan membangun jejaring komunikasi dengan berbagai kelompok, komunitas dan lembaga. 

Sudah sewajarnya jika Pemda Bogor dan DPRD Kab. Bogor memberikan perhatian khusus dalam penyusunan APBD Kabupaten Bogor di tahun-tahun berikutnya dalam program pencegahan dan penyiapan respon terhadap bencana.

Begitu pula Kementerian Pendidikan di jaman Menteri Nadieem Makarim sebenarnya sudah menjalankan program sekolah siaga bencana. Begitu pula pengalamannya dalam memfasilitasi kegiatan Cisadane Resik Rescue, respon berbagai sekolah sangatlah baik. Sekolah negeri seperti SMAN 1 Cijeruk, SMAN 1 Caringin, SMAN 1 Cigombong, SMAN 1 Ciawi, MAN 4 Bogor, SMK Sirojulhuda 3, SMK Assyukur, SMAIT Darul Faizin, SD Sinar Indonesia, SMP Pangerasan, SMK Qotrun Nada, SMK Farmasi Tarumanegara, MTs Arrosyid, SMP Caringin, SMP Cigombong dan banyak lagi ikut merespon berbagai bencana yang terjadi baik di wilayah Bogor dan sekitarnya. Kami membuka kerjasama dengan berbagai sekolah dan Dinas Pendidikan, DLH, BPBD, dan lainnya untuk kegiatan kesiapsiagaan bencana ini. Kegiatan yang dilakukan BPBD sangat penting, perlu dan tentunya berguna pungkasnya. 

Baca Juga: Shin Tae-yong Pede Timnas Indonesia Bisa Imbangi Jepang di Piala Asia 2023, Tapi...

Load More