/
Rabu, 02 Agustus 2023 | 10:35 WIB
Masjid Raya Senapelan Pekanbaru. [Dok Humas Pemprov Riau]

Suara Sumatera - Provinsi Riau berbudaya Melayu yang identik dengan Islam. Sejumlah masjid bersejarah masih kokoh berdiri.

Bahkan, bangunan-bangunan di daerah berjuluk Bumi Lancang Kuning tersebut ada yang berusia ratusan tahun dan menjadi destinasi wisata religi wisatawan mancanegara.

Berikut ini merupakan tiga masjid yang jadi wisata religi Riau:

Masjid Raya Senapelan
Masjid bersejarah di Riau ini awalnya bernama Mesjid Senapelan. Masjid tersebut oleh Sultan Abdul Jalil Muazzam Syah (1766-1780), Raja ke-4 Kerajaan Siak Sri Indrapura sekitar 1762 M.

Masjid Raya Senapelan Pekanbaru bergaya arsitektur Melayu. Dipengaruhi oleh arsitektur Timur Tengah dengan dominasi warna kuning sebagai ciri khas warna Melayu.

Masjid ini merupakan situs cagar budaya berdasarkan Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 209/M/2017 Tentang Status Bangunan Cagar Budaya Masjid Raya Pekanbaru.

Di kawasan masjid terdapat beberapa objek, yakni bekas tapak masjid yang pertama kali dibangun, sumur tua, Makam Marhum Pekan dan Makam Marhum Bukit. Lokasinya, berada di Jalan Masjid, Kampung Bandar, Kecamatan Senapelan, Kota Pekanbaru.

Keberadaan Masjid Raya Pekanbaru cukup strategis. Apabila diakses dari segala penjuru Kota Pekanbaru berada di pusat kota. Namun, saat ini bangunan Cagar Budaya Masjid Raya Pekanbaru telah mengalami perubahan yang signifikan. Sehingga sudah tidak terlihat lagi bentuk aslinya.

Masjid Syahabuddin
Masjid Syahabuddin Siak berdiri kokoh sejak tahun 1926 Masehi, pada masa kepemimpinan Sultan Al Said Al Kasyim Abdul Jalil Saifuddin. 

Baca Juga: Sosok Sheikh Assim Al Hakeem, Ulama Viral dari Arab Saudi Ternyata Berdarah Indonesia

Masjid Syahabuddin termasuk warisan budaya. Arsitekturnya perpaduan antara Melayu dan Timur Tengah (Turki). Diriwayatkan bahwa masjid ini berusia lebih dari setengah abad.

Keberadaannya saat ini dikenal oleh wisatawan mancanegara (wisman) khususnya dari negeri jiran Singapura dan Malaysia.

Tersiar kabar bahwa nama Masjid Syahabuddin melambangkan Sultan sebagai Pemimpin Kerajaan dan Agama. Bukti sejarah masa lampau Kerajaan Siak sangat terasa di masjid ini.

Warisan peninggalan Sultan Siak itu, berada di Jalan Sultan Ismail, Kampung Dalam, Kecamatan Siak, Kabupaten Siak, tepatnya di tepian Sungai Siak. Jarak tempuh dari Kota Pekanbaru yakni 108 kilometer atau sekitar 2 jam lebih dengan berkendara roda empat.

Bangunan masjid ini dimiliki Pemkab Siak yang dikelola bersama Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Sumatra Barat. 

Lokasi masjid dekat dengan Istana Siak Sri Indrapura dan bersebelahan dengan makam Sultan Siak dan Balai Kerapatan Adat Siak.

Masjid Jami Air Tiris 
Masjid Jami Air Tiris berada di Jalan Pasar Usang, Desa Tanjung Barulak, Kelurahan Air Tiris, Kabupaten Kampar.

Masjid ini terbuat dari kayu tentangu. Diketahui, Jenis kayu ini tahan panas dan tahan hujan.

Bangunannnya berbentuk segi lima atau limas, dinding berukir, atap seng bersusun tiga meruncing ke atas. 

Secara keseluruhan pemasangan atap, dinding pada bangunan masjid tidak menggunakan paku besi, melainkan terbuat dari paku kayu.

BPCB Sumatera Barat (Sumbar) menyebut masjid ini didirikan atas prakarsa Engku Mudo Sangkal pada tahun 1901. Proses pengerjaannya selesai pada tahun 1904 Masehi atau tahun 1322 Hijriyah. 

Konon masjid ini menjadi basis pertahanan pejuang, sehingga masjid ini pernah dibakar oleh tentara Jepang, tapi berkat izin Allah secara keseluruhan bangunannya masih tetap utuh.

Jarak tempuh menuju Masjid Jami Air Tiris dari Kota Pekanbaru, yakni 56 Kilometer atau sekitar 1 jam lebih dengan berkendaraan bermotor.

Load More