/
Minggu, 28 Agustus 2022 | 15:11 WIB
Ketua Komisi VII DPR RI Sugeng Suparwoto saat membacakan kesimpulan rapat kerja Komisi VII DPR RI dengan Menteri ESDM beserta jajaran, di Gedung Nusantara I, Senayan, Jakarta, Kamis (13/1/2021). (Oji/Man-dpr.go.id)

SuaraSumedang.id – Harga bahan bakan minyak (BBM) subsidi dinilai tidak tepat, karena penyaluran dari pemerintah tidak menyentuh masyarakat miskin.

Berdasarkan keterangan dari Ketua Komisi VII DPR RI, Sugeng Suparwoto menilai penyaluran BBM subsidi tidak adil.

Ia berpendapat mengenai penyaluran dari pemerintah tidak menyentuh masyarakat miskin yang tidak memiliki kendaraan, seperti dilansir dari suara.com Minggu (28/08/2022).

"Maka dari itu harga BBM harus disesuaikan, karena subsidi yang selama ini dikeluarkan tidak tepat sasaran atau untuk orang mampu sehingga perlu dialihkan,”  kata Ketua Komisi VII DPR RI.

“Sebab kan tidak adil. Bagaimana dengan mereka yang tidak punya kendaraan? Jadi, subsidi dikurangi dan direlokasi untuk yang tidak punya kendaraan,” ujar Sugeng Suparwoto.

Ia menambahkan, Pertalite yang merupakan BBM subsidi lebih banyak dinikmati kalangan mampu, bahkan total BBM subsidi yang dikonsumsi mereka mencapai sekitar 70-80 persen.

Ia menambahkan, porsi terbanyak pengguna Pertalite bukan sepeda motor atau kendaraan umum yang semestinya mendapatkan BBM bersubsidi.

Mengutip data dari Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) Badan Pusat Statistik dari total alokasi kompensasi Pertalite Rp93,5 triliun.

Jumlah yang dianggarkan di APBN (sesuai Perpres 98), 86 persen atau Rp80,4 triliun dinikmati rumah tangga dan sisanya 14 persen atau Rp13,1 triliun dinikmati dunia usaha.

Baca Juga: Naiknya BBM Jadi Penyebab Harga Tiket Pesawat Mahal

Namun, sejumlah Rp80,4 triliun yang dinikmati rumah tangga, ternyata 80 persen di antaranya dinikmati rumah tangga mampu sedangkan 20 persen dinikmati rumah tangga tidak mampu.

Begitu juga dengan Solar dari total subsidi dan kompensasi Rp143,4 triliun, sejumlah 11 persen atau Rp15 triliun dinikmati rumah tangga dan sisanya yaitu 89 persen atau Rp127,6 triliun dinikmati dunia usaha.

Dan untuk kategori rumah tangga yang menikmati, itu pun 95 persen adalah rumah tangga mampu, sehingga hanya 5 persen rumah tangga tidak mampu yang menikmati Solar subsidi.

Selain tidak tepat sasaran, Sugeng juga menerangkan, bahwa saat ini subsidi BBM sudah sangat memberatkan.

Jika harga BBM tidak dinaikkan maka bisa mempengaruhi keuangan negara.

Alasannya, karena harga minyak dunia jauh melebihi proyeksi awal APBN 2022. Selain itu, harga BBM saat ini jauh dari harga keekonomian.

Load More