Menteri Kesehatan Republik Indonesia, Budi Gunadi Sadikin, akan mendatangkan obat Fomepizole untuk memulihkan kesehatan 69 pasien gangguan ginjal akut progresif atipikal (Acute Kidney Injury/AKI).
Obat ini didatangkan dari Singapura dan Australia. Obat ini tergolong langka dan telah dipesan dengan jumlah 200 vial obat Fomepizole injeksi ke Indonesia.
Kali ini sudah datang sejumlah 26 vial terlebih dahulu, 10 dari Singapura dan 16 berasal dari Australia. Lalu secara bertahap obat akan datang ke Indonesia.
Fomepizole merupakan obat penangkal yang digunakan untuk mengobati keracunan etilen glikol dan terkadang digunakan bersama dengan hemodialisis untuk membersihkan tubuh dari racun.
Sebagai obat penawar racun, pastinya Fomepizole ini punya efek samping. Beberapa pasien mungkin akan mengalami reaksi alergi setelah disuntikkan. Efek samping lainnya antara lain sakit kepala, pusing, mual, mengantuk, dan sensasi logam di mulut.
Sebelumnya, obat tersebut telah diuji coba kepada 10 pasien AKI yang sedang dirawat di RSCM, Jakarta. Reaksi dari obat Fomepizole ini memicu perbaikan gejala pasien dan sebagian lainnya sudah stabil.
Obat ini sudah memperoleh izin dari Kementerian Kesehatan.
Nantinya obat akan diberikan ke pasien dengan dosis injeksi sebesar 1,5 gram (1,5 ml) per pasien. Obat diberikan dalam bentuk injeksi intravena atau infus.
Budi berharap dengan adanya Fomepizole ini yang sudah diuji coba hingga tiga hari terakhir di RSCM bisa menekan laju kematian pasien akibat AKI.
Baca Juga: Lindungi Diri dan Berikan Pilihan Terbaik, Penyanyi Newbie Tegaskan Diri
Budi mengatakan, AKI ini semula berstatus sebagai penyakit misterius, akan tetapi berhasil diungkap penyebabnya oleh pemerintah bersama pihak terkait. Dari hasil penyidikan, patogen yang menjadi cemaran obat sirop bernama Eliten Glikol, Dietilen Glikol (DEG), dan etilen glikol butil eter (EGBE).
Berdasarkan hasil penelitian patogen pada pemeriksaan PCR dan metagenomic, AKI dipicu oleh senyawa kimia tersebut. Apabila senyawa kimia tersebut masuk ke dalam metabolism manusia, itu akan mengubah senyawa tersebut menjadi asam oksalat. Kalau asam oksalat ini masuk ke ginjal, bisa menjadi kalsium oksalat seperti kristal kecil yang tajam dan merusak ginjal anak.
Berita Terkait
Terpopuler
- Ogah Bayar Tarif Selat Hormuz ke Iran, Singapura: Ingat Selat Malaka Lebih Strategis!
- Harga Minyak Dunia Turun Drastis Usai Pengumuman Gencatan Senjata Perang Iran
- Dicopot Dedi Mulyadi Gegara KTP, Segini Fantastisnya Gaji Kepala Samsat Soekarno-Hatta!
- Intip Kekayaan Ida Hamidah, Pimpinan Samsat Soetta yang Dicopot Dedi Mulyadi gara-gara Pajak
- 7 Tablet Rp2 Jutaan SIM Card Pengganti Laptop, Spek Tinggi Cocok Buat Editing Video
Pilihan
-
Resmi! Liliek Prisbawono Jadi Hakim MK Gantikan Anwar Usman
-
Apartemen Bassura Jadi Markas Vape Narkoba, Wanita Berinisial E Diciduk Bersama Ribuan Barang Bukti!
-
Mendadak Jakarta Blackout Massal: Sempat Dikira Peringatan Hari Bumi, MRT Terganggu
-
Benjamin Netanyahu Resmi Diseret ke Pengadilan Duduk di Kursi Terdakwa
-
Biadab! Israel Bunuh Jurnalis Al Jazeera di Gaza pakai Serangan Drone
Terkini
-
PHK di Industri Kendaraan Niaga Indonesia Segera Terjadi Jika Impor Truk China Tak Dibatasi
-
Importir Sepakat Jaga Harga Kedelai Rp11.500/Kg untuk Pengrajin Tahu Tempe
-
Ajudan Gubernur Riau Nonaktif Abdul Wahid Gugat KPK Rp11 Miliar
-
Siswa di Siak Meninggal saat Praktik Sains, Polisi Selidiki Bubuk Hitam-Potongan Besi
-
3 Dekade Berkarya, ADA Band Rilis 'Selalu Ada': Refleksi tentang Kehadiran dan Perpisahan
-
Internet Ngebut di Palembang, Jaringan 5G Telkomsel Makin Luas dan Ini Dampaknya bagi Pengguna
-
Santai Jelang Lawan Persija Jakarta, Bernardo Tavares: Tekanan Menang di Mereka!
-
KPK OTT di Tulungagung, Bupati Gatut Sunu Diamankan
-
Anggota DPR Soroti Tragedi Siswa SMP di Siak Meninggal saat Praktik: Saya Tak Habis Pikir
-
HUT ke-45 PTBA Lebih Bermakna, Aksi Donor Darah Libatkan Banyak Pihak