/
Rabu, 18 Mei 2022 | 18:18 WIB
BMKG

La Nina yang sudah dimulai sejak Juni 2020 memiliki potensi terus berlanjut hingga 2022. 

Jika kondisi ini terjadi, maka selama tiga tahun berturut-turut wilayah Indonesia akan mengalami La Nina sebagaimana pernah terjadi pada tahun 2010-2012 yang tercatat sebagai kemarau basah terpanjang dengan dampak kejadian bencana hidrometeorologi tertinggi di Indonesia selama dua dekade terakhir berdasarkan data yang dirilis oleh Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).

"Faktor kedua adalah potensi terbentuknya fenomena Indian Ocean Dipole (IOD) negatif pada periode kemarau tahun ini yang dapat memengaruhi sifat basah khususnya untuk wilayah di barat Indonesia," lanjut Erma.

Potensi IOD negatif ini dapat mengakibatkan berlanjutnya sifat basah selama periode kemarau bahkan juga selama periode sesudahnya. 

Peluang terbentuknya IOD negatif ini ditunjukkan oleh model dinamik milik badan meteorologi Australia. 

"Ketiga pembentukan vorteks di Samudra Hindia selatan ekuator bagian tenggara dekat dengan sektor Sumatra dan Jawa yang memiliki kecenderungan bersifat persisten," sebut Erma.

Vorteks di selatan Samudra Hindia ini sekaligus menandakan pembentukan wilayah konvergensi di barat Indonesia sehingga memicu pertumbuhan awan pada skala lokal dan harian sehingga proses pembentukan hujan selama musim kemarau masih dapat terus berlangsung. 

Selain itu, karena vorteks yang terpelihara terus dapat berubah menjadi bibit siklon tropis maka kecenderungan pembentukan siklon tropis di Samudra Hindia selatan ekuator dapat terus terjadi sehingga menambah efek basah selama musim kemarau tahun ini.

"Keempat penghangatan suhu permukaan laut di perairan lokal Indonesia, khususnya di bagan tengah dan timur," jelas Erma.

Menghangatnya suhu permukaan laut ini telah berperan dalam menyediakan bahan bakar uap air berlimpah sehingga hujan harian yang dibangkitkan oleh angin darat-laut memiliki dukungan kelembapan yang memadai.

Faktor terakhir yaitu pergeseran 'kolam hangat' di wilayah Pasifik barat ekuator menuju ke arah barat sehingga saat ini yang menjadi pusat kelembapan dari 'kolam hangat' tersebut adalah wilayah Indonesia. 

"Istilah 'kolam hangat' digunakan untuk menggambarkan pusat konveksi yang terjadi sepanjang tahun di sektor Indo-Pasifik meliputi wilayah barat Samudra Pasifik dan timur Indonesia," tutur Erma.

Pergeseran kolam hangat ke barat ini biasanya terjadi pada saat La Nina.

Meskipun demikian, terdapat indikasi pergeseran ke barat kali ini lebih karena terjadi anomali sirkulasi angin di lapisan atas (200 mb) yang berasosiasi pada aktivitas ekstra-tropis yang memengaruhi wilayah tropis melalui Samudra Pasifik. 

Load More