TANTRUM - Hingga saat ini, kasus HIV/AIDS masih diwarnai dengan stigma buruk dan diskriminasi. Padahal di zaman sekarang, siapa pun bisa terkena HIV/AIDS selama dia termasuk kategori rentan. Dan perlu diketahui, kalaupun terkena HIV/AIDS, bukan berarti dunia kiamat.
Di tengah kemajuan teknologi medis, orang dengan HIV/AIDS (ODHA/ODHIV) bisa dipulihkan dengan pengobatan yang teratur. Walaupun sampai saat ini memang belum ada obat yang bisa menyembuhkan untuk HIV/AIDS.
Pengobatan untuk pemulihan orang dengan HIV/AIDS adalah Antiretroviral (ARV) yang dikonsumsi seumur hidup. Dengan obat ini, mereka bisa hidup normal dan tidak masuk ke fase AIDS yang membahayakan.
Dengan pengobatan ARV, bahkan virus HIV bisa ditekan sampai tidak terdeteksi dan tidak lagi menular. Perlu diketahui, penularan HIV terjadi pada orang rentan, yaitu yang sering berganti pasangan yang menyebabkan terjadinya pertukaran cairan tubuh, misalnya hubungan seksual, bergantian memakai jarum suntik (narkoba suntik), atau bayi yang tertular dari ibunya.
Sayangnya, pengendalian HIV/AIDS maupun pengobadan dengan ARF masih terkendala dengan adanya cap buruk atau stigma dan diskriminasi yang berkembang di masyarakat.
Hal tersebut juga berlaku di Kota Bandung, di mana kasus HIV/AIDS ibarat fenomena gunung es, terlihat kecil di permukaan namun yang tidak terdata bisa jadi lebih besar lagi jumlahnya.
Menurut Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Bandung, dr. Ira Dewi Jani, kunci pengendalian HIV/AIDS adalah deteksi dini.
Semakin cepat penyakit ini bisa dideteksi, maka harapan hidup sehat dan produktif bagi para pengidap HIV/AIDS bisa semakin tinggi.
"Meskipun tidak bisa sembuh, tapi bisa berkurang sampai tidak bisa terdeteksi atau undetectable. Kalau tidak terdeteksi, dia tidak bisa menular. Makanya kita mesti cari yang HIV/AIDS karena kalau tidak, nanti terlihatnya seperti fenomena gunung es," jelas Ira kepada Humas Kota Bandung, Jumat, 26 Agustus 2022.
Baca Juga: Serial Drama Korea Little Women Segera Tayang, Pemain Bahas Karakter dan Chemistry
Stigma Buruk dan Diskriminasi Menyulitkan Penanganan HIV/AIDS
Ira Dewi Jani menjelaskan, karena masalah stigma negatif tentang HIV/AIDS membuat para tenaga kesehatan sulit mendeteksi secara dini. Padahal, jika bisa dideteksi secara dini, masih ada kesempatan agar seseorang tidak masuk ke fase AIDS.
"Jangan sampai ada yang meninggal karena sudah masuk fase AIDS. Semoga kita sudah bisa menemukan dan mengobati dari fase HIV saja," harapnya.
Ia menjelaskan, memang ODHA atau ODHIV tak akan pernah sembuh. Penularan HIV selain seks bebas dan penyalahgunaan napza, juga bisa terjadi pada ibu ke anak, atau faktor kecelakaan seperti tenaga medis yang mengalami kecelakaan kerja.
Namun intinya, orang baru bisa didiagnosa HIV setelah dia melakukan tes karena tidak ada tanda dan gejala spesifik bagi orang yang terkena HIV.
“Namun, biasanya mereka malu untuk tes HIV/AIDS," tutur Ira. "Maka dari itu, kita harus hilangkan dulu stigma dan diskriminasinya agar seseorang itu mau untuk dites HIV," imbuhnya.
Ia menuturkan, dengan demikian orang tersebut bisa hidup lebih produktif dan tidak masuk ke fase AIDS. Mata rantainya bisa diputus dengan pengobatan.
Pengobatan HIV/AIDS telah dijamin oleh pemerintah. Sehingga, Ira berpesan, jangan sampai para ODHA dan ODHIV yang merasa seperti divonis mati.
"Sebab jika sudah diobati, virusnya bisa tidak terdeteksi dan tidak menularkan. Orangnya bisa menikah, bahkan punya anak," ujarnya.
Beragam langkah telah dilakukan Pemerintah Kota (Pemkot) Bandung untuk mencegah dan mengatasi HIV/AIDS. Mulai dari tindakan promotif hingga rehabilitatif.
Melalui tindakan promotif, Pemkot Bandung telah mengenalkan materi kesehatan reproduksi dari kalangan usia SMP atau remaja yang disesuaikan dengan kapabilitas usia mereka.
"Kita sudah ada program Hidup Sehat bersama Sahabat (HEBAT). Kita juga melakulan penyuluhan di tempat-tempat kerja," ucap Ira.
Lalu, pada tindakan prefentif, setiap ibu hamil harus melakukan pemeriksaan amanat standar pelayanan minimal bidang kesehatan, salah satunya tes HIV.
Kemudian, dari tindakan kuratif, telah diterapkan ARV terapi di rumah sakit dan beberapa puskesmas Kota Bandung. Selanjutnya, melalui tindakan rehabilitatif, dilakukan pendampingan untuk mengurai masalah psikologis, sosial, dan ekonomi dari HIV/AIDS.
"Di Kota Bandung ada WPA (Warga Peduli AIDS). Jadi memang kita menangani HIV/AIDS itu dengan LKB layanan komprehensif berkesinambungan," akunya.
Namun, ia menekankan, tentu semua upaya ini harus dijalankan dengan melibatkan seluruh lapisan masyarakat. Terlebih dalam mengurangi stigma negatif dan diskriminasi bagi para pengidap HIV/AIDS.
"Kalau kita tidak cari dan deteksi sedini mungkin, bisa jadi berpengaruh terhadap bonus demografi karena dia terus menularkan. Kalau gaya hidupnya tidak diperbaiki lebih cepat, bisa masuk tahap AIDS," lanjutnya.
Berita Terkait
Terpopuler
- Pemerintah Tutup Ruang Pembentukan Provinsi Luwu Raya, Kemendagri: Ikuti Moratorium!
- Bupati Kulon Progo Hapus Logo Geblek Renteng hingga Wajibkan Sekolah Pasang Foto Kepala Daerah
- Cerita Eks Real Madrid Masuk Islam di Ramadan 2026, Langsung Bersimpuh ke Baitullah
- Desa di Kebumen Ini Ubah Limbah Jadi Rupiah
- Sosok Arya Iwantoro Suami Dwi Sasetyaningtyas, Alumni LPDP Diduga Langgar Aturan Pengabdian
Pilihan
-
22 Tanya Jawab Penjelasan Pemerintah soal Deal Dagang RI-AS: Tarif, Baju Bekas, hingga Miras
-
Zinedine Zidane Comeback! Sepakat Latih Timnas Prancis Usai Piala Dunia 2026
-
Warga Sambeng Borobudur Pasang 200 Spanduk, Menolak Penambangan Tanah Urug
-
Jadwal Buka Puasa Bandar Lampung 21 Februari 2026: Waktu Magrib & Salat Isya Hari Ini
-
Siswa Madrasah Tewas usai Diduga Dipukul Helm Oknum Brimob di Kota Tual Maluku
Terkini
-
Jadwal Imsak Surakarta 23 Februari 2026, Lengkap dengan Niat Puasa Ramadan
-
Jadwal Imsakiyah Jogja 23 Februari 2026, Lengkap dengan Niat Puasa Ramadan
-
Jangan Sampai Terlewat! Jadwal Imsak Semarang Hari ini 23 Februari 2026
-
Waktu Imsak Jakarta 23 Februari 2026 Hari Ini, Lengkap Niat Puasa Ramadan
-
Waktu Imsak Bandar Lampung 23 Februari 2026 Hari Ini, Lengkap Niat Puasa Ramadan
-
Waktu Imsak Palembang 23 Februari 2026 Hari Ini, Lengkap Niat Puasa Ramadan
-
Rutan Polres Way Kanan Kebobolan, 8 Tahanan Kabur, Ini 7 Faktanya
-
7 Fakta Kasat Narkoba Ditangkap, Diduga Terima Setoran Rp13 Juta dari Bandar Narkoba
-
Hadapi Ketatnya Persaingan BWF, PBSI Segarkan Struktur Pelatih Ganda Putra
-
Jadwal Imsakiyah Ramadan di Samarinda, Senin 23 Februari 2026