Suara.com - Peneliti dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Cahyo Pamungkas menyebut media sosial memiliki peran yang penting dalam mendorong seseorang untuk bersikap intoleran.
Berbicara dalam pemaparan hasil riset bertajuk Intoleransi dan Radikalisme di Indonesia, di Jakarta, Selasa (4/12/2018), Cahyo mengemukakan bahwa ketika digunakan oleh orang yang memiliki tingkat fanatisme tinggi, dukungan terhadap sekularisasi yang rendah, spiritualitas keagamaan yang rendah, dan perasaan terancam dan ketidakpercayaan pada kelompok lain yang tinggi, maka media sosial akan mendorong orang bertindak intoleran dan radikal.
"Fenomena intoleransi politik, baik dalam kehidupan sehari-hari maupun di media sosial, sudah mencapai ambang batas yang tidak dapat diterima oleh publik," kata Cahyo.
Di era arus informasi yang cepat ini, pengaruh paham transnasional pun menjadi pemicu baru. Menurut dia, paham-paham ini, diakui atau tidak ikut berperan dalam membangun ekosistem menjadi lebih intoleran.
"Gerakan ini sulit dikendalikan. Teknologi menyediakan informasi gagasan transnasional. Sekarang lebih massif memang. Dulu mungkin cuma satu orang yang belajar ke luar negeri, sekarang lewat whatsapp dan youtube semua bisa belajar," ujar dia.
Meski demikian, ada juga pengaruh dari warisan pemikiran lama, seperti temuan yang didapat di Jawa Barat, yakni masih adanya pengaruh Darul Islam yang tertanam dalam kesadaran Gerakan Islam di Jawa Barat.
"DI/TII dibubarkan tapi cara berpikirnya masih diwariskan kepada generasi muda. Memang tidak mutlak ya keturunan mereka menolak sistem politik, karena ada juga yang bergabung pada sistem demokrasi. Jadi mungkin salah satu caranya (meredam hal ini) adalah dengan pragmatisme mengajak mereka berpartisipasi dalam demokrasi yang akan memoderatkan pandangan mereka," kata Cahyo.
Kepala LIPI Laksana Tri Handoko mengatakan penelitian ini merupakan isu aktual mengingat fenomena intoleransi nyata adanya.
"Meski tidak selalu terlihat sehari-hari, tapi di dunia virtual sangat nyata. Hal ini justru menimbulkan dampak yang sangat nyata walaupun awalnya berangkat dari barang virtual," kata Laksana.
Menurut dia, perbedaan antar-kelompok ini bisa jadi konflik karena adanya relasi mayoritas dan minoritas, seperti agama, ras, dan etnis ditambah stereotip negatif serta kesenjangan ekonomi yang rill.
"Mayoritas merasa terancam oleh minoritas. Apalagi ditambah saat ini sebagai media dimungkinkan ujaran yang memicu," kata Laksana.
Laksana menyebut revolusi digital di samping punya dampak positif ternyata memiliki juga dampak negatif yang sangat signifikan apalagi di era post-truth society ketika kebenaran tak berarti tunggal.
"Itulah yang disebabkan oleh revolusi digital yang harus kita pelajari dan antisipasi. Mereka memilih informasi yang dia sukai. Tak heran kalau ada yang fanatik di satu kelompok. Jadi bagaimana penelitian ini menyusun strategi yang membentuk narasi positif untuk men-counter hal itu dan bagaimana bisa sampai ke orang yang ada di tempat itu," kata dia.
Berita Terkait
-
Singa di Media Sosial, Anak Kucing di Ruang Kuliah: Mengapa Kita Gagap Menulis Ilmiah?
-
Warung Irine Viral di TikTok, Strategi Digital Antar Usaha Kuliner Gresik Naik Kelas
-
Kejahatan Digital Kian Mengintai, Pemerintah Minta Anak Muda Hati-hati di Internet
-
Kesepian di Era Media Sosial: Koneksi Makin Luas, Kedekatan Makin Langka
-
Mengenal Mudi, Edukator Konservasi Muda yang Ubah Scroll Jadi Aksi Lingkungan
Terpopuler
- Aliansi BEM Bersatu: Mobil Fortuner Tiyo Ardianto Tercatat Milik Adik Letjen Purn Setyo Sularso
- Jadwal Pemadaman Listrik PLN Kamis 18 Juni 2026 Wilayah Jogja Jateng, Cek Daftar Lokasinya
- 6 Sepatu Adidas Samba Lagi Diskon 50 Persen di Website Resmi, Kesempatan Langka Separuh Harga
- Struktur Kuno Muncul Kembali di Sendang Kamulyan Trenggalek
- 7 Sunscreen Flek Hitam untuk Usia 50 Tahun ke Atas sesuai Review dan Harga
Pilihan
-
Kejagung Tetapkan Glory Harimas Sihombing Tersangka, Dugaan Jual Beli Titik Dapur MBG Terungkap
-
Wamensesneg Terluka Kena Batu, Kivlan Zen Berdarah Saat Eksekusi Hotel Sultan GBK Ricuh
-
Ketegangan Memuncak di Hotel Sultan: Eksekusi Lahan Jadi Arena Perlawanan
-
'Sempurna Hanya Milik Allah!' Massa Gelar Aksi Damai Minta MBG Lanjut dan Sikat Koruptornya!
-
Link Live Streaming Portugal vs Kongo: Panggung Sesungguhnya CR7?
Terkini
-
Komdigi Bongkar 9.263 Kasus Pembajakan Digital, Situs Ilegal Jadi Ancaman Terbesar Industri Kreatif
-
47 Kode Redeem FC Mobile Terbaru 19 Juni 2026: Ambil Paket VIP Sebelum Berburu Del Piero Murah
-
BABYMONSTER Jadi Wajah Baru Oppo Reno16 Series, Intip Fitur AI dan Kameranya
-
46 Kode Redeem FF Terbaru 19 Juni 2026: Bocoran Hadiah Misteri Bawah Laut dan Skin SG2 Gratis
-
HP Chipset Apa yang Bagus? Ini Pilihan Terbaik dari Entry Level hingga Flagship
-
Terpopuler: 4 Tablet Mini Serbaguna, Smartwatch Stylish untuk Olahraga dan Aktivitas Harian
-
Unreal Engine 6 Pamer Fitur, Hadirkan Integrasi AI Gemini dan Claude
-
5 HP Murah Terbaru Penyimpanan Lega Juni 2026: Memori 256 GB, Baterai 8.100 mAh
-
75 Kode Redeem FF Max Terbaru 18 Juni: Ada Diamond Gratis, Emote Pildun, dan Loot Box
-
EA Sports FC 26 Dapat Diskon Besar: Cuma Rp50 Ribu di Steam, Versi Switch Gratis