Mereka dalam tiga hari setelah diagnosis, memiliki 35 persen lebih rendah angka kematian dibandingkan pasien yang dirawat empat hari atau lebih setelah diagnosis.
Dalam briefing Gedung Putih, Sekretaris Layanan Kesehatan dan Kemanusiaan Alex Azar menyebut ini kemajuan besar dalam perawatan pasien.
Tetapi para ilmuwan perlu membandingkan pasien menerima plasma dengan pasien yang tidak menerima, untuk mengetahui apakah terapi tersebut benar-benar berdampak pada kelangsungan hidup.
Sebuah penelitian dari para ilmuwan di Mount Sinai menemukan bahwa pasien Covid-19 yang dirawat di rumah sakit dan menerima plasma penyembuhan, memiliki peluang lebih tinggi untuk bertahan hidup daripada pasien yang tidak menerima pengobatan.
Hasil serupa pun ditemukan dalam studi lain pada 1 Mei lalu, hampir 72 persen penerima plasma telah dipulangkan dari rumah sakit dibandingkan dengan 67 pasien lainnya. Tetapi penelitiannya masih terbatas dan hasilnya hanya signifikan untuk pasien yang tidak membutuhkan ventilator.
Studi lain, para ilmuwan di Mayo Clinik menemukan bahwa plasma penyembuhan mengurangi tingkat kematian di antara pasien Covid-19 yang dirawat di rumah sakit sebesar 57 persen.
Sebagian besar penelitian sejauh ini menunjukkan bahwa pasien yang diobati lebih awal selama terjadi infeksinya memiliki hasil yang lebih baik.
Sebuah studi terbaru terhadap 316 pasien di rumah sakit Houston Methodist menemukan bahwa pasien yang menerima transfusi plasma dalam 72 jam, setelah dirawat di rumah sakit memiliki risiko kematian lebih rendah selama 28 hari berikutnya, dibandingkan pasien yang menerima transfusi setelah 72 jam berlalu.
"Kami sekarang memiliki lebih banyak bukti daripada sebelumnya bahwa terapi plasma berusia seabad ini bermanfaat, aman, dan dapat membantu mengurangi tingkat kematian akibat virus ini," ucap Dr. James Musser, Ketua Department of Pathology and Genomic Medicine di Houston Methodist.
Baca Juga: WHO Ragu Terapi Plasma Darah Ampuh Obati Covid-19, Kenapa?
Ilmuwan Mayo Clinic juga menyebut bahwa pengobatan tersebut relatif aman di antara 5.000 orang dewasa dengan kasus yang parah. Kurang dari 1 persen pasien mengalami efek samping yang parah dalam waktu empat jam setelah menerima transfusi. Meskipun transfusi terlalu menimbulkan risiko bagi pasien sakit parah, tapi hanya empat kematian yang tercatat dengan terapi plasma.
Perusahaan obat pun mulai mengubah plasma menjadi obat. Pada Mei, koalisi lembaga medis, perusahaan obat, nirlaba, dan penyintas Covid-19 meluncurkan kampanye The Fight Is In Us, sebuah kampanye untuk mendapatkan lebih banyak sumbangan darah dari pasien Covid-19 yang sudah pulih.
Sebagian dari darah itu akan digunakan untuk transfusi langsung dan sisanya akan digunakan untuk memproduksi hyperimmune globulin, obat yang dibuat dari plasma penyembuhan.
Proses pembuatan hyperimmune globulin melibatkan pengumpulan plasma dari pasien yang pulih dan memanaskannya sehingga patigen yang tersisa dimusnahkan.
Hasilnya adalah sebotol obat dengan tingkat antibodi yang konsisten yang dapat dengan mudah diberikan kepada pasien. Obat ini berfokus pada antibodi yang paling umum ditemukan dalam darah, yaitu imunoglobulin G, biasanya memberikan kekebalan jangka panjang.
"Ini pada dasarnya dirawat dengan cara yang mengurangi kemungkinan bahwa itu dapat menularkan infeksi apapun. Sesuatu seperti itu bisa sangat membantu, berpotensi, untuk orang-orang di fase awal penyakit atau berpotensi sebagai profilaksis melawan penyakit," kata David Reich, Presiden dan Kepala Operasi Rumah Sakit Mount Sinai.
Mount Sinai bekerja sama dnegan Emergent BioSolutions, perusahaan biofarmasi yang berbasis di Maryland, untuk mengembangkan produk hyperimmune globulin. Kelompok tersebut akan mempelajari apakah obat tersebut dapat melindungi individu yang berisiko terpapar, seperti petugas layanan kesehatan.
Koalisi 10 perusahaan obat yang terlihat dalam kampanye The Fight Is In Us juga menciptakan obat hyperimmune globulin. Penelitian ini dipimpin oleh Takeda, perusahaan farmasi terbesar di Jepang dan CSL Behring, perusahaan bioteknologi yang berbasis di Pennsylvania.
Para ilmuwan berharap dapat menentukan apakah hyperimmune globulin meningkatkan hasil untuk pasien Covid-19 dengan kasus yang parah.
Koalisi berharap mendapat persetujuan peraturan dari FDA pada akhir 2020. Tetapi ada banyak rintangan, salah satunya jumlah obat masih dibatasi oleh jumlah plasma yang disumbangkan. Perusahaan yang meneliti hyperimmune globulin dan perawatan plasma langsung, juga masih perlu membuktikan bahwa pendekatan tersebut aman.
Berita Terkait
-
Pertama Kalinya, Percobaan Vaksin Covid-19 Berhasil Merangsang Antibodi
-
Hore! Uji Coba Antibodi Covid-19 di Inggris Diklaim 98,6 Persen Akurat
-
Keren, Hasil Tes Antibodi Covid-19 Sidik Jari Hanya 20 Menit
-
Donor Darah Bantu Temukan Daya Tahan Antibodi Covid-19
-
Abbott Pastikan Kesediaan Ratusan Ribu Tes Antibodi Covid-19 di Indonesia
Terpopuler
- Bedak Tabur atau Bedak Padat Dulu? Panduan Makeup Flawless Tahan Lama
- 4 Sabun Cuci Muka yang Bagus untuk Memutihkan Sesuai Review Pembeli
- Aisyah Zakkiyah, Komisaris Baru PTPP yang Viral Punya Gaji dan Tunjangan Miliaran
- Bedak Tabur Apa yang Bikin Glowing dan Tahan Lama? Ini 5 Rekomendasi sesuai Review dan Harga
- 4 Shio yang Menarik Keberuntungan 12 Juli 2026, Masa Sulit Diprediksi Berakhir
Pilihan
-
Garda Revolusi Iran Tutup Lagi Selat Hormuz Sampai Batas Waktu Tak Ditentukan
-
Jadi Tersangka Bareng Eks Jampidsus Febrie, Don Ritto Sudah Ditahan di Rutan Polda Metro Jaya
-
Polri Tetapkan Febrie Adriansyah dan DR Tersangka Kasus Dugaan Korupsi serta TPPU
-
Jampdisus Febrie Adriansyah Akhirnya Mundur
-
Tangan Terborgol, Mulut Bungkam: Raut Wajah Bupati Sukoharjo Pakai Rompi Oranye KPK Tengah Malam
Terkini
-
HP Murah Tapi Bagus HP Apa? Ini 9 Rekomendasi Terbaik Mulai Rp1 Jutaan
-
Grand Finals FFNS 2026 Fall Digelar di Yogyakarta, Garena Padukan Esports dan Festival Rakyat
-
Bocoran Spesifikasi Gahar Xiaomi Redmi Note 17: Baterai 8000 mAh, Kapan Rilis di Indonesia?
-
Daftar HP Realme Harga Rp1 Jutaan per Juli 2026: RAM Besar higga Baterai Awet
-
30 Kode Redeem FF Terbaru 12 Juli 2026: Klaim Skin dan Voucher Langka Sebelum Hangus
-
Teknologi untuk Bumi: Sharp Indonesia Ubah Langkah Pelari Jadi 600 Pohon di Habitat Elang Jawa
-
PP Tunas Mulai Diterapkan, Komdigi Apresiasi Netflix Hadirkan Konten Anak yang Aman
-
Netflix Ungkap Rahasia Konten Anak Laris, Kini Kuasai 22% Waktu Tonton Global
-
Mau Beli HP Baru Murah? Cek 8 Toko Online Terpercaya Ini Biar Gak Dapat Barang Palsu!
-
5 Kebiasaan yang Bisa Kamu Tinggalkan Setelah Pakai vivo Y500, Nomor 2 Dilakukan Hampir Semua Orang