Suara.com - Orang-orang yang bekerja sebagai pengacara di abad pertengahan menggunakan kulit domba sebagai perangkat anti-penipuan.
Selama 700 tahun, dokumen hukum di Inggris ditulis secara eksklusif pada kulit domba.
Perkamen yang terbuat dari kulit domba memiliki mekanisme built-in untuk mendeteksi percampuran setelah ditulis.
Perkamen yang terbuat dari kulit binatang, meskipun jauh lebih mahal untuk diproduksi, tetapi lebih tahan lama dari kertas biasa dan karena keunggulannya itu lebih disukai.
Seorang ilmuwan dari University of Exeter di Inggris, melakukan spektrometri massa pada 645 sampel halaman dari dokumen legal dan koleksi pribadi yang berasal dari abad ke-16 hingga ke-20.
Ilmuwan tersebut, Dr Sean Doherty, mengidentifikasi protein kulit domba pada 622 halaman, sementara sisanya tidak dapat diidentifikasi.
"Ini mengejutkan karena dokumen non-legal dengan usia yang sama ditulis pada campuran domba, kambing, atau kulit anak sapi," kata Doherty, seperti dikutip dari IFL Science, Kamis (25/3/2021).
Dalam Heritage Science, Doherty melaporkan bahwa kulit domba terdiri dari beberapa lapisan. Tidak seperti manusia, domba memiliki banyak lemak di antara lapisan kulitnya.
Selama pembuatan perkamen, kulit dimasukkan ke dalam jeruk nipis yang akan mengeluarkan lemak dan meninggalkan ruang di antara lapisan.
Baca Juga: Tak Terduga, Pekerja Bangunan Temukan Istana Uskup Abad Pertengahan
Setiap seseorang berupaya untuk menggores tinta dari perkamen kulit domba akan menyebabkan lapisan atas terlepas, yang dikenal sebagai delaminasi.
Perubahan lapisan tersebut akan membuat dokumen menjadi tidak valid.
Doherty melaporkan, sebelum dimasukkan jeruk nipis, kulit domba mengandung 30-50 persen, sedangkan kulit kambing hanya 3-10 persen dan sapi hanya 2-3 persen, sehingga pelepasan lapisan atas kulit kurang terlihat.
Menurut catatan sejarah, penggunaan kulit domba sebagai perangkat anti-penipuan ini juga digunakan oleh Richard FitzNeal, Lord Treasurer pada masa pemerintahan Henry II di abad ke-12.
Pada saat itu, kulit domba digunakan untuk menulis rekening kerajaan.
Seiring berjalannya waktu, kertas menggantikan perkamen untuk penggunaan non-legal, meskipun pada abad ke-17, Ketua Mahkamah Agung Sir Edward Coke menulis tentang pentingnya penggunaan perkamen untuk dokumen hukum.
Berita Terkait
Terpopuler
- Bedak Wardah Apa yang Cocok untuk Usia 40 Tahun? Ini 5 Rekomendasi Terbaik agar Flawless dan Fresh
- Tak Lagi Disamping Prabowo, Kursi Wapres Gibran Geser Sejajar Menteri di Sidang Kabinet
- 7 Statistik Miris Argentina Saat Dipecundangi Spanyol di Final Piala Dunia 2026
- Persib dan Persija Dikabarkan Tak Lolos IPO di Bursa Efek Indonesia
- Perbedaan Eau De Parfum dan Eau De Toilette, Mana yang Sesuai Kebutuhanmu?
Pilihan
-
Laporkan Hotman Paris ke Polda Metro, PWI Ragukan Ketulusan Permohonan Maaf Sang Pengacara
-
Mendukung Working Mom Mengelola Keuangan Keluarga Lebih Efisien dengan AstraPay
-
Usai Nobar Final Piala Dunia, Bupati Lombok Barat Lalu Ahmad Zaini Kena OTT KPK
-
Menteri PU Dody Hanggodo Bakal Dicopot Agustus? 'Prabowo Tak Suka Menteri yang Bikin Gaduh'
-
Tersangka Don Ritto Dikawal Rantis Brimob saat Tiba di Kejagung, Emas hingga Brankas Ikut Dibawa
Terkini
-
FIFA Buka Voting Tim Terbaik Piala Dunia 2026: Argentina Sumbang 5 Pemain, Spanyol?
-
Dari Pameran Kudatuli, Megawati Titip Pesan untuk Generasi Muda Indonesia
-
Kasus Dugaan Penculikan Atlet Golf Jesslyn Wijaya, Polisi Telusuri Perjalanan hingga Kuala Lumpur
-
Bukan Sekedar Catatan Masa Lalu, Peristiwa Kudatuli Merupakan Simbol Perjuangan Lawan Ketidakadilan
-
Usut Aliran Rp 91 Miliar Suap Bea Cukai, KPK Tetapkan Tersangka Baru
-
Korupsi Disebut Kejahatan HAM, Mengapa Hak Korban Belum Jadi Perhatian?
-
Aksesori Estetik Makin Digemari, Ini Tempat Belanja Lengkap Incaran Reseller hingga Jastiper
-
Salah Setting Aplikasi Navigasi, Pemotor RX-King Nekat Masuk Tol Jagorawi
-
Anggaran Jasa Belanja Tenaga Ahli Banten Tembus Rp55,47 Miliar, Kepala BPKAD Mengaku Kaget
-
Jembatan di Serang Mulai Dibangun Andra Soni Usai 25 Tahun Tak Tersentuh Perbaikan