Suara.com - CEO dan Co-Founder VIDA, Sati Rasuanto mengaku kalau banyak masyarakat Indonesia yang belum paham soal identitas digital atau digital identity/digital ID. Padahal, identitas digital sudah banyak dipakai oleh masyarakat.
"Banyak yang kurang paham atau lupa bahwa saat kita punya akun TikTok, Instagram, atau media sosial lain, itu adalah bentuk identitas digital. Email pun termasuk identitas digital," kata Sati dalam konferensi pers virtual, Rabu (2/2/2022).
Sati memaparkan identitas digital adalah semua informasi online yang dapat dikaitkan dengan individu, organisasi, atau perangkat elektronik.
Bentuk identitas digital ini bisa dapat berupa atribut digital seperti nomor ID, alamat email, rekaman medis, dan lainnya. Bisa juga dalam bentuk aktivitas digital seperti riwayat pembelian, riwayat browsing, postingan media sosial, like, share, dan lainnya.
Nah identitas digital yang tersebar di internet ini perlu diverifikasi lebih lanjut untuk mengetahui keotentikannya. Untuk itulah, kata Sati, perlu adanya lembaga berwenang untuk memverifikasi identitas digital.
Verifikasi identitas digital ini bisa dilakukan oleh layanan Penyelenggara Sertifikasi Elektronik (PSrE).
Adapun bentuk sertifikasi elektronik yang diberikan mencakup tanda tangan elektronik (TTE), segel elektronik, preservasi TTE dan segel elektronik, penanda waktu (timestamp), pengiriman elektronik tercatat, dan otentifikasi website.
PSrE ini terdiri dari instansi dan non instansi. Di PSrE Instansi ada Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dan Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN). Sementara PSrE Non-Instansi saat ini berjumlah enam lembaga di Indonesia.
PT Indonesia Digital Identity (VIDA) sendiri adalah PSrE atau Certification Authority (CA) yang terdaftar dan berinduk di bawah Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo). VIDA memiliki kewenangan menerbitkan sertifikat elektronik untuk kebutuhan tanda tangan elektronik tersertifikasi.
Baca Juga: Kominfo Gandeng BI hingga OJK untuk Garap Sistem Identitas Digital Nasional
Dengan data yang terverifikasi, Sati menilai identitas digital menjadi lebih terpercaya. Dengan itu, masyarakat bisa lebih aman saat menggunakan data pribadi, misalnya transaksi online.
"Trusted digital identity ini juga bisa mengantisipasi kejahatan siber. Sehingga platform trusted digital amat penting," jelas
Berita Terkait
Terpopuler
- Ogah Pasang AC? Ini 4 Rekomendasi Air Cooler yang Murah, Hemat Listrik, dan Cepat Dingin
- 5 Sepatu Running Lokal yang Anti Licin dan Senyaman Skechers, Harga Cuma Rp200 Ribuan
- 8 Sunscreen di Indomaret untuk Flek Hitam Usia 40 Tahun ke Atas sesuai Review
- 7 Pilihan HP Murah Terbaik Harga 1 Jutaan Juli 2026: NFC hingga Baterai 7000 mAh
- 4 Moisturizer di Alfamart untuk Hempas Flek Hitam Berdasarkan Review Pengguna
Pilihan
-
Tangis Bayi Pecah Pagi Hari, Warga Temukan Bayi Perempuan Baru Lahir di Teras Rumah
-
Rupiah Nyaris ke Rp18.000 Lagi Hari Ini
-
Ole Romeny Bakal Satu Tim dengan Justin Hubner di Liga Belanda, Fortuna Sittard Siapkan Tawaran
-
Antar Timnas Perancis ke 16 Besar, Mbappe Pecahkan Sejumlah Rekor Piala Dunia 2026
-
Prabowo ke Polisi: Gaji dan Senjata Kalian dari Rakyat, Jadi Jangan Menyusahkan Rakyat
Terkini
-
8 Rekomendasi Laptp Murah RAM Besar di Bawah Rp 10 Juta, Cocok untuk Pelajar dan Mahasiswa
-
Registrasi Kartu SIM Pakai Biometrik Mulai Berlaku, XLSMART Ungkap Nasib Pelanggan Lama
-
XLSMART dan Kemnaker Luncurkan Future Ready, Siapkan 1 Juta Talenta Digital dan 1.000 Peluang Kerja
-
Sony Berhenti Produksi Game Fisik PlayStation mulai 2028, Hanya Digital Saja!
-
3 Pilihan HP Samsung 3 Kamera Belakang Termurah, Hasil Foto Tajam dan Performa Kencang
-
Indosat dan Arsari Bangun Tulang Punggung Internet Indonesia, Kelola Fiber 86.000 Km
-
Lenovo Rilis Edisi Khusus FIFA World Cup 2026 untuk Yoga, Legion, dan Legion Tab Terbatas!
-
Kolom Komentar Instagram Dipenuhi Spam Judi Online, Pakar Siber Minta Platform Bertindak Tegas
-
OPPO Find X9s vs iPhone 17 Pro: Saat Flagship Compact Paling Affordable Menantang iPhone
-
TikTok Buka Suara soal Isu PHK Tokopedia, Benarkan Restrukturisasi Divisi R&D