Suara.com - Sekretaris Jenderal Kementerian Komunikasi dan Informatika RI (Kemenkominfo) Mira Tayibba mengatakan pada dasarnya orang Indonesia cenderung lebih adaptif dalam menggunakan teknologi digital selama masa pandemi COVID-19 berlangsung.
“Dalam beberapa tahun terakhir, mungkin terutamanya pada saat pandemi kita dipaksa untuk belajar adaptif, untuk bisa menyesuaikan dengan kondisi dimana mobilitas dan aktivitas fisik sangat dibatasi,” kata Mira dalam Kick Off G20 on Education and Culture yang diikuti secara daring di Jakarta, Rabu (9/2/2022).
Berdasarkan pengamatan yang dilakukan oleh Kominfo, Mira menyebutkan bila dilihat dari sisi pengguna, teknologi digital yang adaptif itu terlihat jelas dari sebanyak 74 persen masyarakat menggunakan internet selama pandemi.
Kemudian dari sektor Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM), sebelum pandemi jumlah UMKM hanya berkisar 8 juta di dalam platform digital itu. Namun setelah pandemi, yang bermigrasi ke platform digital berupa market e-commerce mengalami peningkatan ganda.
“Ternyata selama pandemi tahun 2020-2021, melalui gerakan Bangga Buatan Indonesia yang on boarding, nilainya atau jumlahnya hampir 8 juta,” ucap Chair of Digital Economy Working Group itu.
Hal tersebut menunjukkan bahwa masyarakat bisa menjadi adaptif terhadap kondisi, bisa menggunakan teknologi digital dengan baik juga memanfaatkan kesempatan dalam kondisi yang ada saat ini.
Namun sayangnya dari gambaran itu, dalam realita masih terdapat sejumlah kelompok yang belum memiliki kesempatan mengakses layanan digital. Baik karena jumlah akses terhadap infrastruktur yang terbatas atau karena layanan yang diberikan dirasa mahal.
Terdapat pula kemungkinan, pihak yang tidak memiliki kesempatan itu mengalami keterbatasan keterampilan maupun literasi dalam menggunakan teknologi digital sehingga tak ada nilai tambah yang dihasilkan, sehingga perlu segera dilakukan penanganan karena dapat menciptakan terisolirnya para pengguna itu.
“Kami sangat concern terhadap isu ini karena bila isu ini tidak di address secara ketat dan tepat, kesenjangan justru akan melebar ini yang kita sebut dengan digital paradox,” tegas dia.
Baca Juga: Kominfo Beberkan Manfaat Internet 5G untuk Indonesia, Tak Hanya Data Cepat
Sedangkan bila melihat sisi penyedia layanan, dalam beberapa tahun terakhir mendapatkan tantangan untuk bertahan akibat adanya model bisnis konvensional.
Hal ini menyebabkan para penyedia harus berusaha keras mempertahankan eksistensinya karena berhadapan dengan ketidakseimbangan di lapangan, akibat munculnya model bisnis baru.
“Jadi kesenjangan-kesenjangan ini yang ingin kami address. Digital economy working group karena pada prinsipnya transformasi digital Indonesia, itu sangat sejalan dengan kepentingan global juga,” ujarnya.
Walaupun demikian, menurutnya meskipun pandemi membuat semua kegiatan menjadi terbatas, nyatanya masih bisa memberikan berbagai solusi melalui penggunaan teknologi digital.
Dalam hal ini, pemerintah lebih cermat dalam menciptakan sebuah situasi yang aman dalam ruang digital namun kegiatan tetap bisa berjalan dengan lancar. Dari sisi pemantauan pada anak ataupun kelompok rentan, teknologi digital membantu pengawasan menjadi lebih terbuka.
Hanya saja, hal itu membutuhkan perluasan wawasan melalui edukasi dan literasi digital yang tidak hanya diterapkan dalam industri dan sosial, tetapi juga dalam sistem pendidikan.
“Jadi ini dapat menjadi upaya untuk berkolaborasi. Bagaimana kita bisa memanfaatkan teknologi teknologi yang produktif dan menciptakan nilai tambah,” kata Mira. [Antara]
Berita Terkait
-
Kasus Korupsi Eks Dirjen Kominfo Semuel Abrijani: Apa Alasan Jaksa Menunda Pembacaan Tuntutan?
-
Viral Kuota Internet 50 GB Gratis Jelang Hari Kemerdekaan, Begini Penjelasan Resminya
-
Wamen Nezar Patria Sebut Pentingnya Digitalisasi buat Pengembangan Wilayah, Kenapa?
-
Tuntutan Berat untuk Eks Pegawai Kominfo: Denda Miliaran dan Penjara hingga 9 Tahun di Depan Mata
-
Diperiksa di Bui, Plate Lempar Tanggung Jawab Proyek PDNS ke Bawahan yang Jadi Tersangka
Terpopuler
- Dicukur Timnas Indonesia 5-1, Pemain Naturalisasi Kamboja Jadi Sasaran Kemarahan Fans
- 4 Serum Wardah untuk Mengecilkan Pori, Kulit Halus dan Mulus Bertahap
- Nasib Berubah, Ini 4 Shio yang Panen Keberuntungan dan Rezeki pada 29 Juli 2026
- Daftar Harga Motor Listrik dengan Subsidi Pemerintah, Ada yang Cuma Rp5 Jutaan!
- Siapa Ipda Ambarita? Ini Profil Polisi yang Viral Saat Pengamanan Bentrok Matraman
Pilihan
-
Kematian Sutrimo dan Rangkaian Kejanggalan yang Muncul dari Kampung Halaman
-
Pengintai Misterius dan CCTV Mendadak, Kejanggalan di Rumah Sutrimo
-
Banyak Air Galon Isi Ulang di Bangka Barat Belum Diuji, Amankah Dikonsumsi Setiap Hari?
-
Dicecar 23 Pertanyaan Penyidik KPK, Ini Kata Plt Bupati Sukoharjo
-
Cuma Sisa Rp200 Juta! Perampok Rp1,2 Miliar di Kalideres Diciduk Usai Habiskan 1 M Dalam 8 Hari
Terkini
-
Naoko Karya Keigo Higashino: Saat Jiwa Seorang Ibu Hidup dalam Tubuh Putrinya
-
Muncul 'Narasumber Liar' di Kasus Kematian Sutrimo, Kades Wlahar: Dia Bukan Keluarga
-
Reuni Akbar! Krakatau dan Karimata Siap Manggung di JGTC Besok Malam
-
5 Sunscreen dengan Finish Glowing Natural Terbaik sesuai Review dan Harga
-
BGN Rilis Aplikasi Reviu MBG: Apakah Digitalisasi Menjawab Akar Masalah?
-
Kredit Tumbuh Dua Digit, Laba Bersih Bank Danamon Naik 33% di Semester I-2026
-
Dedikasi Mantri BRI di Kepulauan Talaud Perkuat Pemberdayaan UMKM
-
Isuzu Pamerkan Mobil Rumah ELF NLR Campervan di GIIAS 2026
-
Kartu ATM Tertelan, Saldo Rp17 Juta Raib, Begini Kronologi yang Dialami Nasabah di Palembang
-
Ruben Onsu Dituduh Selingkuh Gara-gara Kasur, sang Pengacara Tantang Bukti