Tekno / Game
Selasa, 07 April 2026 | 14:34 WIB
Ilustrasi IGRS. (IGRS.id)
Baca 10 detik
  • Gamer emosi akibat sistem IGRS Komdigi memblokir game populer di Steam.

  • Kris Antoni meminta publik mengkritisi kebijakan IGRS, bukan menyerang personel teknis.

  • Terdapat inkonsistensi rating antara data Komdigi dan klasifikasi resmi dari Steam.

Berbeda 180 derajat, Steam justru menjelaskan bahwa salah satu penilaian dikeluarkan langsung oleh Komdigi.

"Klasifikasi Resmi: Penilaian yang dikeluarkan langsung oleh Kemkomdigi melalui proses pendaftaran di IGRS. Penilaian Mandiri Steam: Penilaian yang diterbitkan oleh Valve berdasarkan hasil survei kuesioner konten yang diisi oleh pihak pengembang, ulasan dari tim internal Valve, serta masukan dari komunitas pemain," bunyi keterangan Steam.

Sebelum ini, netizen melayangkan kritik pedas karena adanya ketimpangan klasifikasi, di mana game dengan konten dewasa justru diberi label usia dini (3+).

Sebaliknya, sejumlah judul populer dan pemenang penghargaan seperti GTA 5, The Witcher 3, hingga Cyberpunk 2077 masuk kategori Not Fit For Distribution.

Itu memicu pemblokiran distribusi game secara fisik maupun digital di Indonesia.

Kritik publik semakin memanas setelah para pelaku industri dan pengguna menyoroti inkonsistensi sistem yang dianggap hanya berdasarkan checklist kaku tanpa memahami konteks konten.

Beberapa judul seperti Civilization VI dan Plants vs Zombies justru mendapat rating 18+, sementara game dengan unsur kekerasan eksplisit mendapat rating rendah.

Fenomena ini membuat efektivitas IGRS dipertanyakan. Setelah Steam memakai PEGI (Pan European Game Information), gelombang 'emosi' gamer sekarang mereda meski mereka kini diharapkan tetap mengawal kebijakan IGRS Komdigi.

Baca Juga: Kemkomdigi Sebut Rating IGRS di Steam Tidak Resmi dan Berpotensi Melanggar Hukum di Indonesia

Load More