- ITSEC Asia menyatakan bahwa ketahanan siber kini menjadi kebutuhan strategis untuk menjaga keberlangsungan bisnis dan ekonomi digital Indonesia.
- BSSN mencatat 5,16 miliar anomali trafik selama tahun 2025, yang didominasi oleh aktivitas malware serta serangan berbasis kecerdasan buatan.
- Pemerintah mendorong penguatan regulasi perlindungan data untuk meningkatkan investasi keamanan digital guna menghadapi ancaman siber yang semakin kompleks.
Deputi Bidang Keamanan Siber dan Sandi Perekonomian BSSN, Slamet Aji Pamungkas, menegaskan bahwa ancaman siber saat ini telah berkembang menjadi isu strategis yang berdampak langsung terhadap operasional organisasi.
“Ancaman siber saat ini bukan lagi sekadar risiko teknologi, tetapi telah menjadi tantangan strategis yang dapat mempengaruhi keberlangsungan operasional berbagai sektor,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa percepatan transformasi digital dan adopsi kecerdasan buatan (AI) harus diimbangi dengan investasi berkelanjutan pada teknologi, proses, dan sumber daya manusia untuk memperkuat ketahanan siber nasional.
Malware dan AI Jadi Senjata Baru Penjahat Siber
Menurut tim Threat Intelligence ITSEC Asia, salah satu ancaman yang berkembang paling cepat saat ini adalah stealer malware, yaitu malware yang dirancang untuk mencuri kredensial digital seperti kata sandi, cookie, token sesi, hingga akses ke layanan cloud.
Data yang dicuri tersebut dapat digunakan untuk mengambil alih akun, melakukan penipuan digital, menyusup ke sistem perusahaan, hingga menjadi pintu masuk serangan ransomware berskala besar.
BSSN juga mencatat bahwa sekitar 93,78 persen anomali trafik nasional pada 2025 berkaitan dengan aktivitas malware.
Di sisi lain, perkembangan teknologi AI mulai dimanfaatkan oleh pelaku kejahatan siber untuk meningkatkan efektivitas serangan phishing dan rekayasa sosial.
Dengan bantuan AI, penjahat siber dapat menciptakan pesan yang lebih meyakinkan, personal, dan sulit dideteksi oleh korban.
Baca Juga: AI Percepat Serangan Siber, CrowdStrike Sebut Industri Keuangan dalam Bahaya
Regulasi Baru Dorong Kebutuhan Keamanan Siber
Peningkatan ancaman digital juga beriringan dengan penguatan regulasi pemerintah.
Implementasi Undang-Undang Perlindungan Data Pribadi (UU PDP) serta pembahasan RUU Keamanan dan Ketahanan Siber (RUU KKS) diperkirakan akan mendorong organisasi untuk meningkatkan investasi keamanan digital.
Kondisi tersebut membuka peluang pertumbuhan bagi industri keamanan siber nasional, terutama bagi perusahaan yang memiliki kapabilitas teknologi, pengalaman, dan pemahaman terhadap kebutuhan pasar Indonesia.
ITSEC Asia menyebut telah mengembangkan berbagai solusi keamanan, mulai dari intelijen ancaman siber, layanan operasi keamanan berbasis AI, hingga pengembangan talenta digital melalui ITSEC Cyber and AI Academy.
Menurut Patrick, transformasi digital yang semakin cepat membutuhkan fondasi keamanan yang sama kuatnya agar pertumbuhan ekonomi digital Indonesia tidak rentan terhadap ancaman siber.
“Indonesia sedang berada pada momentum penting yang akan menentukan arah transformasi digital nasional. Kecepatan transformasi yang didorong oleh pemerintah dan sektor swasta membutuhkan pondasi keamanan yang setara kuatnya,” tegas Patrick.
Keamanan Siber Jadi Penentu Masa Depan Ekonomi Digital
Meningkatnya frekuensi serangan, kompleksitas ancaman berbasis AI, serta tuntutan regulasi yang semakin ketat menunjukkan bahwa keamanan siber telah berubah menjadi infrastruktur strategis bagi Indonesia.
Bagi dunia usaha, pemerintah, hingga investor, kemampuan menjaga keamanan data dan sistem digital kini menjadi faktor krusial untuk menjaga kepercayaan publik sekaligus memastikan keberlanjutan pertumbuhan ekonomi digital nasional.
Berita Terkait
-
ITSEC Asia Tancap Gas: Ekspansi Global, Summit AI 2026, dan Misi Amankan Perempuan di Dunia Digital
-
Pelindung Digital Buatan Anak Bangsa Ini Hadir di Tengah Maraknya Ancaman Online
-
Situs Web Kamu Bisa Jadi Sarang Konten Ilegal Tanpa Sadar, Ini Modus Kejahatan Siber Terbaru!
-
Synology Catatkan Pertumbuhan Data Melonjak 400 Persen, Hadirkan Solusi AI dan Keamanan Data Tangguh
-
Pakar Kaspersky Mengidentifikasi Agen Serangan Siber Perusahaan Rusia, Backdoor Loki Berbahaya!
Terpopuler
- Jakarta Siap Pungut Pajak Mobil Listrik Tahun Ini, Kendaraan Mewah Kena hingga 75% PKB
- Dokter Tifa Menang, Sidang Kasus Ijazah Jokowi Resmi Dihentikan
- 6 Shio Paling Beruntung pada 23 Juli 2026, Keberuntungan Memihak
- Resmi Daftar Kemenkum, Partai Gerakan Rakyat Pastikan Usung Anies Baswedan Capres
- 5 Warna Lipstik Wardah untuk Bibir Hitam dan Kulit Sawo Matang
Pilihan
-
Febrie Adriansyah Resmi Ditahan Kejagung, Teriak Kriminalisasi Saat Digiring ke Mobil Tahanan
-
Takut Lumpuh, Hotman Paris Pilih Mundur Jadi Pengacara Febrie Usai Pijit di Bojong Gede Tak Mempan
-
Saraf Terjepit, Hotman Paris Putuskan Mundur Jadi Kuasa Hukum Eks Jampidsus Febrie Adriansyah
-
Dokter Tifa Menang, Sidang Kasus Ijazah Jokowi Resmi Dihentikan
-
Menang Lima Gol, Timnas Putri Indonesia Back to Back Juara AFF Women's Cup 2026
Terkini
-
Jangan Anggap Sepele Nyeri Pinggang Mendadak, Bisa Jadi Tanda Batu Saluran Kemih
-
Motul Perluas Jangkauan di Jawa Barat, Dorong Pertumbuhan Ekosistem Otomotif Nasional
-
Igor Tolic Beberkan Faktor X yang Bikin Persib Hajar Arema di Piala Presiden 2026
-
Naik Kereta untuk Liburan? Jangan Lupa Siapkan Antisipasi Jika Jadwal Berubah
-
Febrie Adriansyah Ditahan di Rutan KPK, Koalisi Sipil Desak Pengusutan Tuntas Tanpa Intervensi
-
MAXI Yamaha Day Jabar 2026 Pikat Komunitas dengan Budaya dan Alam Kuningan
-
Gap antara Kampus dan Industri Masih Lebar, Mahasiswa Bisa Rugi Kalau Tak Bersiap
-
Hanya Gara-gara Colokan Kabel, Bisnis MUA di Tuban Kebakaran Rugi Rp400 Juta
-
Tangis Ayah untuk NH, Dugaan Perundungan yang Berulang, Bocah Kelas 3 SD Meninggal
-
Gunung Anak Krakatau Erupsi Dua Kali: Abu Hitam Pekat Selimuti Langit Selat Sunda