Tekno / Internet
Selasa, 09 Juni 2026 | 15:43 WIB
Ilustrasi Hacker melakukan serangan digital.(Unsplash/Hacker)
Baca 10 detik
  • ITSEC Asia menyatakan bahwa ketahanan siber kini menjadi kebutuhan strategis untuk menjaga keberlangsungan bisnis dan ekonomi digital Indonesia.
  • BSSN mencatat 5,16 miliar anomali trafik selama tahun 2025, yang didominasi oleh aktivitas malware serta serangan berbasis kecerdasan buatan.
  • Pemerintah mendorong penguatan regulasi perlindungan data untuk meningkatkan investasi keamanan digital guna menghadapi ancaman siber yang semakin kompleks.

Suara.com - Keamanan siber tidak lagi dipandang sebagai biaya operasional semata, melainkan fondasi penting untuk menjaga keberlangsungan bisnis, layanan publik, dan ekonomi digital Indonesia.

Situasi tersebut menjadi sorotan PT ITSEC Asia Tbk, yang melihat meningkatnya serangan digital di berbagai sektor menunjukkan bahwa ketahanan siber kini menjadi kebutuhan strategis yang tidak bisa ditunda.

Presiden Direktur ITSEC Asia, Patrick Dannacher, mengatakan bahwa tekanan ekonomi global tidak menghentikan aktivitas para pelaku kejahatan siber. Sebaliknya, kondisi tersebut justru dimanfaatkan untuk mencari celah baru.

“Tekanan ekonomi global tidak menghentikan laju kejahatan siber, justru sebaliknya. Ketika anggaran pertahanan dibekukan dan kewaspadaan menurun, pelaku ancaman melihat peluang,” kata Patrick dalam keterangan resminya, Selasa (9/6/2026).

Ancaman Siber Meningkat di Tengah Ketidakpastian Global

ITSEC Asia menilai gejolak ekonomi internasional, termasuk perang dagang dan ketegangan geopolitik, berpotensi memperbesar risiko serangan siber yang melibatkan aktor negara maupun kelompok kriminal terorganisasi.

Meski pertumbuhan anggaran keamanan siber global melambat, kebutuhan perlindungan digital tetap meningkat.

Gartner memproyeksikan belanja keamanan informasi dunia mencapai 213 miliar dolar AS pada 2025, menunjukkan bahwa organisasi tetap menempatkan keamanan digital sebagai prioritas utama.

Di saat yang sama, banyak perusahaan mulai mengalihkan kebutuhan keamanan mereka kepada penyedia lokal yang dianggap lebih memahami regulasi, kedaulatan data, serta kebutuhan pasar domestik.

Baca Juga: AI Percepat Serangan Siber, CrowdStrike Sebut Industri Keuangan dalam Bahaya

Fenomena tersebut membuka peluang besar bagi perusahaan keamanan siber lokal, termasuk ITSEC Asia, yang dinilai memiliki posisi strategis dalam mendukung perlindungan infrastruktur digital nasional.

Indonesia Hadapi 5,16 Miliar Anomali Trafik Siber

Ancaman siber di Indonesia kini berada pada level yang mengkhawatirkan.

Data Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) mencatat lebih dari 5,16 miliar anomali trafik sepanjang Januari hingga November 2025.

Jumlah tersebut setara dengan hampir 182 percobaan serangan siber setiap detik, menjadikan Indonesia sebagai salah satu negara dengan aktivitas ancaman digital tertinggi di kawasan Asia Pasifik.

Sektor keuangan, energi, telekomunikasi, hingga pemerintahan menjadi sasaran utama serangan yang terus berkembang dalam kompleksitas dan skala.

Load More