Suara.com - Sepuluh tahun lebih Aryanti membuka pintu restorannya di Spanyol untuk para anak buah kapal (ABK) warga negara Indonesia yang mengalami penyiksaan dan masalah ketenagakerjaan. Para ABK gratis makan di restoran Aryanti, karena mereka kelaparan dan tak punya uang.
Aryanti melakukan ‘pertolongan pertama’ kepada para ABK itu. Selanjutnya perempuan kelahiran Surakarta, 11 Maret 1979 itu menjadi orang yang paling di depan membela para TKI yang bekerja sebagai nelayan di kapal tangkap milik Taiwan, Cina, Portugal dan Jepang. Perwalikan pemerintah Indonesia di Spanyol seharusnya melakukan inisiatif seperti Aryanti.
Setelah 13 tahun Aryanti berjuang untuk TKI di Spanyol, dia dinobatkan penghargaan Hassan Wirajuda Perlindungan WNI Award 2017 sebagai mitra Kedutaan Besar Indonesia di Spanyol yang mempunyai jasa besar dalam perlindungan warga negara Indonesia di sana.
Ari, begitu sapaan akrabnya, melakukan hal yang tidak biasa sebagai warga Indonesia biasa di Las Palmas, Kota Gran Canaria. Dia bukan aktivis, tapi hanya bermodal ingatan tradisi persaudaraan ‘orang timur’.
“Sebagai WNI yang jauh dari keluarga. Jika mereka sakit, sangat susah berobat karena ada di tengah lautan,” kata Ariyanti saat datang ke Jakarta pekan lalu.
Perempuan asal Solo itu menetap di Spanyol. Suara.com menemui dia setelah menerima Hassan Wirajuda Perlindungan WNI Award 2017. Kebanyakan berbahasa Jawa, dia banyak cerita awal mula merantau ke Spanyol dan akhirnya mengenal para ABK WNI korban kekerasan.
Ariyanti orang yang paling dipercaya para ABK WNI untuk bercerita tentang kehidupan tragis menjadi nelayan di kapal asing.
Berikut cerita lengkap Ariyanti:
Bagaimana awalnya Anda sampai tinggal dan menetap di Spanyol?
Saya sudah 18 tahun di Las Palmas, Kota Gran Canaria, Spanyol. Berangkat dari Solo, Jawa Tengah, saya ke sana untuk bekerja sebagai koki di sebuah hotel di pulau itu. Di sana bekerja di bagian memasak. Selama bertahun-tahun dipercaya menjadi kepala dapur karena dinilai bekerja keras tanpa kenal waktu.
Selain bekerja, saya juga kuliah di jurusan politik dan humaniora Universitas Las Palmas de Gran Canaria. Sampai kini, belum lulus. Saya juga kuliah bahasa Spanyol di universitas yang sama, dan sudah lulus. Jika mau jadi guru bahasa Spanyol di Indonesia, sudah bisa.
Grammer bahasa Spanyol berbeda, lebih sulit. Bahkan dibanding bahasa Inggris.
Ke Las Palmas setelah lulus kuliah bahasa Jepang dari Akademi Bahasa Asing Yogyakarta (ABAYo). Selama kuliah itu juga bekerja sebagai koki di restoran di Yogyakara. Pada satu hari ada peluang untuk bekerja di restoran di Las Palmas. Dan akhirnya berangkat ke sana untuk bekerja sebagai Tenaga Kerja Indonesia (TKI).
Berapa jumlah bahasa yang Anda kuasai?
Tiga bahasa asing, Jepang, Spanyol, dan Inggris. Lalu termasuk bahasa Indonesia dan Jawa. Lama di sana, saya malah lebih fasih bahasa Jawa. Karena berkomunikasi dengan WNI di sana dengan bahasa Jawa.
Lalu Anda mengenal anak buah kapal (ABK) di sana….
Dari sana bekerja di restoran itu, saya banyak kenal dengan anak buah kapal WNI yang bekerja di sana sebagai pencari ikan. Pertemuan dengan mereka terjadi di jalan-jalan atau juga saat mereka makan di restoran tempat saya bekerja.
Saya menganggap mereka saudara sendiri karena sama-sama sebagai WNI. Lalu banyak masalah yang mereka ceritakan. Kalau mereka ada masalah, tidak ada yang menangani.
Pertama kenal dan mendengar keluhan mereka, rasaya seperti merasakan sendiri. Sebagai WNI yang jauh dari keluarga. Jika mereka sakit, sangat susah berobat karena ada di tengah lautan. Bahkan kalau mereka meninggal, jenazahnya akan dibuang ke lautan.
Cerita itu, jauh dari anggapan masyarakat Indonesia yang mengira bekerja sebagai TKI di Spanyol itu enak.
Apa permaslahan yang para ABK WNI hadapi?
Masalah utama soal gaji. Selain itu fasilitas yang ada di kapal pun bermasalah.
Fasilitas untuk pekerja itu jadi isu yang penting, seperti tunjangan makan. Mereka makan sehari sekali dengan nasi, tomat dan garam. Bagaimana kalau setahun seperti itu?
Kebersihan fasilitas untuk ABK sangat memprihatinkan, sangat kotor. Soal kesehatan, kalau ABK yang sakit tidak sampai kejang-kejang, tidak akan diberikan obat.
Itu terjadi banyak di kapal, terutama di kapal milik Taiwan dan Cina. Tapi beda lagi fasilitas yang diberikan dari kapal Jepang, fasilitas di sana bagus dan dan ada bonus besar di luar gaji untuk pekerja. Tapi banyak yang mengeluh gaji yang kecil di kapal pencari ikan milik Jepang.
Kemarin ada kejadian, ada ABK WNI sakit di tengah lautan Atlantik. Dia tidak bisa nafas, untungnya kapten kapalnya sigap. Jauh sebelum peristiwa itu, saat kapal itu bersandar ke Las Palmas, saya datangi kapten itu dan bicara, “kalau ada orang Indonesia yang sakit, kamu tanggungjawab.”
Saya bukannya mengancam, tapi memang harus seperti itu.
Apa yang melatarbelakangi Anda ikut mengadvokasi mereka?
WNI yang bekerja sebagai ABK kapal pencari ikan di Spanyol sangat dilecehkan, mereka terancam dan disepelekan
Mengapa orang Indonesia di sana disepelekan?
Orang Indonesia yang bekerja di sana ketakutan.
Mereka tidak melakukan apa-apa jika disiksa dan dapat diskriminasi. Mereka pun takut untuk memutus hubungan kerja. Kalau memutus perjanjian, akan dapat denda pinalti. Nilai pinalti itu sampai Rp20 juta.
Sejak kapan mengadvokasi itu?
Sudah 13 tahun saya melakukan pembelaan kepada mereka. Sampai kini saya punya 30 kg lembaran kontrak kerja ABK WNI yang bermasalah di sana. ABK WNI berstatus pekerja resmi, tapi banyak kontrak kerja mereka tidak sesuai dengan kenyataan mereka bekerja.
Bahkan perjanjian kontrak kerja berbeda dari agen satu dengan yang lain. Kontrak kerja itu tidak sama dari sisi besaran gaji dan jam kerja. Seharusnya pemerintah menyamaratakan kontrak kerja mereka.
Kontrak kerja mereka diperpanjang setiap 2 tahun sekali. Mereka terpaksa menyetujui kontrak kerja untuk mendapatkan pekerjaan. Jika tidak setuju, mereka tidak dapat pekerjaan itu. Sementara masih banyak yang mengantre untuk menjadi TKI.
Mereka mencari ikan tuna di Atlantik.
Bayangkan saja, Selama di kontrak itu, selama 2 tahun mereka ada di tengah lautan untuk mencari ikan. Sementara selama 2 tahun itu, hanya 2 kali bersandar ke daratan.
Di sisi lain, fasilitas untuk ABK WNI kapal tempat mereka kerja, sangat tidak layak. Saya pernah bertemu dengan pemilik kapal itu, mereka menyatakan fasilitas semua layak. Tapi khusus untuk orang Indonesia, fasilitas selalu dibatasi.
Khusus untuk orang Indonesia, mau ingin memasak dan makan pun dibatasi, WNI didiskriminasi. Misal ABK WNI diperbolehkan minum Coca Cola di atas kapal jika sudah bekerja lebih dari 5 tahun.
Saya sangat mengerti keadaan mereka, dan bisa membuktikan keprihatinan mereka. Bertahun-tahun saya bersama mereka tanpa ada yang mendukung dari belakang.
Dari mana Anda mendapatkan ilmu untuk mengadvokasi para ABK WNI yang mendapatkan masalah itu?
Saya mengenal International Transport Workers Federation (ITF) untuk jaringn Eropa. Sejak kenal organisasi itu, saya terus mengikuti kegiatan dan advokasi mereka. Sejak terlibat, saya selalu dipanggil kalau ada ABK WNI yang terkena masalah, bahkan saat saya sedang bekerja. Saya selalu menyempatkan setelah bekerja, bahkan malam hari.
Lalu terus berlanjut seperti itu, saya dipercaya oleh ITF untuk mengadvokasi para ABK WNI yang terkena masalah.
Setelah masuk ITF, Kedutaan Besar Indonesia di sana menjadi tahu dengan gerakan ini. Kedutaan jadi peduli dan mendukung.
Bahkan Kedutaan memberika surat rekomendasi jika saya ingin masuk kapal dan menemui para ABK WNI yang mendapatkan masalah ketenagakerjaan mereka. Sebab sebelum itu, saya selalu disalahkan saat ingin menemui para ABK.
Saya juga membentuk sebuah forum komunikasi WNI di Las Palmas bernama Indonesia Bersatu. Ini untuk berkomukasi dengan WNI di darat. Kebanyakan WNI di Las Palmas bekerja dan sekolah.
Asosiasi ini sudah dibentuk 5 tahun. Ini untuk menyatukan WNI. Jumlah WNI di Las Palmas kurang dari 50 orang.
Apakah Anda menemukan kasus penyiksaan terhadap ABK WNI?
Banyak yang disiksa. Keamanan mereka tidak terjamin. Mereka bekerja 24 jam, bahkan kalau makan pun sambil berdiri.
Saya pernah meminta mereka untuk merekam aksi penyiksaan itu dengan ponsel. Nanti setelah bersandar, saya meminta video itu.
Setelah video itu diberikan, saya sampai menangis melihatnya.
Bagaimana perkembangan kasus penyiksaan itu? Apakah sampai masuk pengadilan?
Sayangnya, kalau kapal sudah bersandar dan ABK WNI itu keluar, sudah ada tidak ada bukti fisik bekas disiksa. Mereka berbulan-bulan di laut, dan penyiksaan dilakukan berbulan-bulan sebelum mereka bersandar.
Kalau kami mau laporan ke otoritas setempat harus punya bukti visum.
Saya pernah memperkarakan penyiksaan itu ke pengadilan karena ada bukti visum. Si pemilik kapal dijatuhi bayar denda 800-1.500 euro. Pemilik kapal tidak dipenjara, kecuali melakukan kriminal di darat.
Selama Anda membela para ABK WNI, apakah pernah ada yang sampai meninggal?
Ada, beberapa. Bahkan ada yang hilang di laut. Sampai sekarang belum ditemukan.
Berapa jumlah ABK WNI yang pernah Anda tolong?
Banyak, saya lupa. Bahkan saya tidak ingat satu persatu.
Belasan tahun Anda melawan, bagaimana situasinya saat ini?
Untuk tahun ini antara kapten kapal, owner dan agen tenaga kerja sudah sadar dengan aturan. Mereka menerima saya.
Dulu, jika saya datang ke mereka seperti suasana berkelahi.
Jadi status Anda saat ini menjdi bagian dari otoritas Kedutaan Besar Indonesia di Madrid?
Saya mempunyai kartu partner kerja KBRI di Madrid sejak 10 tahun lalu. Kalau tidak punya otoritas wewenang, tidak boleh masuk kapal.
Saya pernah berantem dengan ajudan kapten di kapal dari Cina, karena dinilai tidak punya otoritas. Saat itu saya melihat ada ABK WNI disiksa sampai tidak bisa jalan.
Dari mana kebanyakan asal ABK WNI?
Kebanyakan dari Jawa dan Sumatera. Usia mereka rata-rata 17 tahun.
Anda mendapatkan Hassan Wirajuda Perlindungan WNI Award 2017 karena bersedia menolong dan menampung para ABK WNI itu. Bahkan Anda memberikan makan mereka di restoran tanpa pamrih…
Selama 1 tahun sekali, biasanya lama kapal bersandar sampai 1 pekan atau 1 bulan. Mereka suka datang ke saya, sehari-harinya bersama saya. Saya seperti keluarga dengan mereka.
Pernah, ada 2 ABK WNI saya tampung selama 2 tahun karena kapal tempat mereka bekerja tidak diurus dan bangkrut. Kapal itu punya perusahaaan asal Portugal. Mereka tidur di kapal, tapi siang sampai malam bersama saya di restoran. Saya juga memberi mereka makan.
Setiap bersandar, kebanyakan ABK WNI tidak mempunyai uang. Sebab semua gaji mereka ditransfer ke rekening dalam negeri (Indonesia) masing-masing ABK. Sehingga mereka tidak punya uang tunai.
Sebagian dari mereka pun digaji 4 bulan sekali. Bahkan ada yang digaji setelah 2 tahun habis kontrak.
Dalam kontrak lain, ada ABK WNI yang tidak dibayar selama 3 bulan kerja. Dia baru dibayar di bulan keempat.
Di mana Anda menampung dan memberikan makan mereka? Dari mana uang yang Anda dapatkan?
Saya punya restoran sederhana, namanya Casa Ari. Mereka sering makan di sana, yang punya duit atau juga yang nggak punya duit. Mereka makan saja sendiri apa yang ada.
Setiap mereka mendapatkan masalah saya tampung, dan mereka makan di sana. Demi kebaikan, saya tidak ada masalah, demi anak-anak.
Sejak kapan punya restoran itu?
Sejak 6 tahun lalu.
Restoran yang saat ini ada khusus makanan Indonesia. Ada sayur asem, oseng-oseng, dan makanan desa lainnya.
Orang Eropa suka pada datang, mereka ingin makan tahu tempe. Sementara, bahan-bahan masakan didatangkan dari Belanda. Langganan saya dari seluruh Eropa.
Saya merasa memperkenalkan Indonesia dari kuliner ini.
Dari mana modal membangun restoran itu?
Saat itu tempat yang jadi restoran saya saat ini milik orang lain. Orang itu menjual restorannya dengan sistem take offer. Nilainya 15.000 euro, akhirnya terbeli juga.
Modal membeli restoran itu didapat dari saya menabung, karena selama bekerja tidak pernah macam-macam membeli sesuatu. Tujuan saya saat itu untuk membahagiakan orangtua, ibu. Saya ingin, ibu harus sebagai raja di rumah sana.
Dulu, keseharian saya hanya kerja dan sekolah. Saya sekolah bahasa Spanyol. Saat bekerja di hotel, gaji saya melebihi gaji standar orang Spanyol sendiri. Gaji saya sampai lebih dari 2.000 euro. Gaji itu ditabung terus.
Setelah uang terkumpul, saya keluar dari pekerjaan sebagai kepala dapur, dan sempat bekerja di tempat lain selama 1 tahun sebagai kepala dapur di rumah makan.
Saya pun kepikiran untuk buka restoran sendiri.
Sebagai WNI yang mempunyai usaha di Eropa, tentu tidak mudah. Apalagi Anda menyisihkan keuntungan restoran untuk memberi makan para ABK WNI yang hidup tidak layak di sana. Bagaimana strategi Anda agar tidak bangkrut?
Saya punya prinsip, kalau menekuni sesuatu, saya pasrah sama Tuhan. Sabar. Hari pertama buka restoran, meski hanya satu pengunjung, syukuri saja.
Kalau saya nggak bertahan, bagaimana dengan anak-anak (ABK WNI) saya? Mereka datang, bagaimana nasibnya? Kalau mereka sedang menyandar, tidak ada saya bagamana?
Saya membuka selama 1 tahun, bukan rugi lagi. Pokoknya, banyak tempaan tidak henti datang. Tapi posisi saya hanya bertahan saja.
Saya percaya kalau dihadapi dengan syukur, maka rejeki akan datang.
Buktinya saat ini, restoran memasak 15 kg beras untuk makan pengunjung setiap hari.
Berapa jumlah pegawai yang Anda miliki di restoran itu?
Tidak ada, sekarang tidak bayar pegawai. Makanya, saat saya ke Indonesia atau pergi tinggalkan restoran, maka restoran akan tutup.
Karena bayar pegawai di sana mahal dan harus sistem kontrak. Sebulan minimal harus bayar pegawai 1.500 euro. Belum lagi saya harus bayar pajak ke pemerintah. Akan sangat mahal.
Anda menampung dan memberikan makan para ABK. Kenapa mau kasih? Kalau dihitung dengan materi, jumlah yang dikelurkan akan banyak. Apakah Anda tidak merasa rugi?
Saya menilai, siapa pun yang dekat dengan saya, saya anggap sebagai saudara sendiri. Saya pun menganggap restoran ini adalah titipan Tuhan.
Hidup ini tidak bisa sendiri, apalagi di negara orang. Terlebih mereka kelaparan, dan saya punya. Mengapa tidak saya kasih?
Tuhan itu maha adil. Kalau saya sudah menolong beberapa ABK WNI, besok Tuhan memberikan banyak pelanggan untuk saya. Bahkan pelanggan sampai berantem karena kursi restoran saya kurang.
Mereka seperti antre tiket untuk makan di restoran saya. Makanya jadi orang itu jangan pelit-pelit. Yang kaya, jangan sok kaya.
Berita Terkait
Terpopuler
- Kecil tapi Lega: Hatchback Bermesin Avanza Kini Cuma 50 Jutaan, Makin Layak Dilirik?
- Promo JCO Mei 2026, Paket Hemat Donat dan Kopi yang Sayang Dilewatkan
- 5 Rekomendasi Bedak Wardah Colorfit yang Warnanya Auto Menyatu di Kulit
- 4 Rekomendasi Parfum Lokal Wangi Tidak Lebay dan Tahan Lama untuk Perempuan
- 6 Rekomendasi Sepatu Lokal Rp 200 Ribuan, Kualitas Bintang Lima
Pilihan
-
16 Korban Tewas Bus ALS Terbakar di Muratara Berhasil Dievakuasi, Jalinsum Masih Mencekam
-
'Celana Saya Juga Hancur', Cerita Saksi yang Kena Sisa Air Keras Saat Bantu Andrie Yunus
-
Kala Harga Kebutuhan Meroket, Menulis Jadi Andalan Saya untuk Nambal Dompet
-
Hakim Gemas Anggota BAIS Siram Air Keras ke Andrie Yunus: Amatir Banget, Malu-maluin!
-
10 WNI Diamankan di Arab Saudi Terkait Haji Ilegal, Kemenhaj Pastikan Tak Akan Intervensi
Terkini
-
Anhar Sudrajat, Lihai Membaca Masa Depan Kunci Sukses Metland
-
Sekjen ATSI Merza Fachys: Operator Siap Laksanakan Registrasi SIM Biometrik, Tapi...
-
Strategi Anggya Kumala Jadikan Oreo Gerakan Kebaikan Bagi Keluarga Indonesia
-
Feri Amsari Bongkar Sisi Gelap Korupsi Politik: Kasus Bisa 'Diciptakan' Demi Jerat Lawan!
-
Kunardy Darma Lie, Ambisi Membawa KB Bank Jadi 10 Besar di Indonesia
-
Prodjo Sunarjanto: Peluang Besar Logistik, Mobil Listrik hingga Tantangan dari Gen Z
-
Rolas Sitinjak: Kriminalisasi Busuk dalam Kasus Tambang Ilegal PT Position, Polisi Pun Jadi Korban
-
Transformasi Sarana Menara Nusantara dari 'Raja Menara' Menuju Raksasa Infrastruktur Digital
-
Tatang Yuliono, Bangun Koperasi Merah Putih dengan Sistem Top Down
-
Reski Damayanti: Mengorkestrasi Aliansi dalam Perang Melawan Industri Scam