Suara.com - PT Pertamina (Persero) mengungkapkan, penggunaan sistem hedging atau lindung nilai merupakan hal yang tidak biasa dilakukan oleh perusahaan BUMN. Wakil Presiden Komunikasi Korporat PT Pertamina, Ali Mundakir mengatakan, Pertamina akan mempelajari terlebih dahulu sisten lindung nilai ini.
Sistem ini akan melindungi Pertamina dari fluktuasi nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika. Pertamina kerap merugi dalam proses pembelian impor minyak karena nilai tukar rupiah yang fluktuatif.
"Hedging sepenuhnya adalah sesuatu yang biasa bagi perusahaan swasta biasa, tetapi tidak untuk Pertamina yang notabene perusahaan swasta BUMN, karena terkait APBN yang diperlukan sangat besar,” kata Ali.
Ia menambahkan, Pertamina harus benar-benar melakukan pertimbangan sebelum menggunakan sistem tersebut, pasalnya setiap kalangan yang punya sudut pandang yang berbeda. Menurut dia, harus ada kesepakatan terlebih dahulu antara instansi pemerintah, terutama penegak hukum, agar memiliki pandangan yang sama tentang hedging atau lindung nilai.
"Hedging menyangkut dana APBN, ini menjadi hal yang sangat hati-hati termasuk menjalin kesepakatan dengan penegak hukum. Kami akan mempelajari dan menjalin kesepakatan dengan instansi pemerintah terhadap sistem hedging tersebut," ungkapnya.
Ali mengatakan, dana yang diperlukan untuk menerapkan sistem lindung nilai sangat besar. Karena dana tersebut akan diambil dari APBN, maka Pertamina akan lebih berhati-hati sebelum menggunakan sistem itu.
Hedging adalah strategi trading untuk membatasi atau melindungi dana trader dari fluktuasi nilai tukar mata uang yang tidak menguntungkan. Hedging memberi kesempatan bagi trader untuk melindungi diri dari kemungkinan rugi meski ia tengah melakukan transaksi.
Tag
Berita Terkait
-
Sejumlah SPBU Pertamina Tak Lagi Jual Pertalite, Ini Alasannya
-
UMKM Mitra Binaan Pertamina Mengudara, Kini Menjangkau Penumpang Pesawat Pelita Air
-
Pertamina - Badan Gizi Nasional Bersinergi Menjadikan Minyak Jelantah sebagai Bahan Bakar Pesawat
-
Pertamina Jajaki Penguatan Kerja Sama dengan EOG Resources untuk Dorong Peningkatan Produksi Migas
-
Pertamina Jajaki SLB sebagai Mitra Teknologi, Perkuat Ketahanan Energi Nasional
Terpopuler
- Dituding jadi Biang Kerok Laga Persija vs Persib Batal di Jakarta, GRIB Jaya Buka Suara
- 7 HP Midrange RAM Besar Baterai 7000 mAh Paling Murah yang Layak Dilirik
- Motor Eropa Siap Sikat CBR150R dan R15, Harganya Cuma Segini
- Promo Alfamart Hari Ini 6 Mei 2026, Serba Gratis hingga Tukar A-Poin dengan Produk Pilihan
- 5 Sepatu Lokal Versatile Mulai Rp100 Ribuan, Empuk Buat Kerja dan Jalan Jauh
Pilihan
-
Suporter Persipura Rusuh, Momen Menegangkan Pemain Adhyaksa FC Dilempari Botol
-
Kronologi Haerul Saleh, Anggota BPK RI Eks Anggota DPR Meninggal saat Rumahnya Kebakaran
-
Tragis! Anggota IV BPK Haerul Saleh Tewas dalam Kebakaran di Tanjung Barat, Diduga Akibat Sisa Tiner
-
16 Korban Tewas Bus ALS Terbakar di Muratara Berhasil Dievakuasi, Jalinsum Masih Mencekam
-
'Celana Saya Juga Hancur', Cerita Saksi yang Kena Sisa Air Keras Saat Bantu Andrie Yunus
Terkini
-
Anomali Wisatawan RI, Kini Incar Tanggal Kembar Demi Tiket Murah
-
RI Bakal Gandeng UNDP Sulap 9 Kota Besar Jadi "Surga" Kendaraan Listrik
-
Sah! SIG Putuskan Tebar Dividen Rp190,8 Miliar ke Investor
-
Direktur Pegadaian Selfie Dewiyanti Dianugerahi Indonesia Leading Women Awards 2026
-
Harga Beras Meroket! Pemerintah Gandeng 'Raksasa' Pangan Turun Gunung, Ada Apa?
-
Mengapa Pemerintah Mau Ganti LPG ke CNG? Apa Untung dan Bahayanya?
-
Rokok Ilegal Bikin Negara Boncos Rp 25 Triliun per Tahun
-
Perjanjian Ekonomi Digital ASEAN DEFA Rampung, Diteken November 2026
-
INDEF Ungkap Bahaya Baja Impor Murah Terhadap Proyek Infrastruktur
-
ASDP Genjot Digitalisasi Layanan Kapal Feri