Suara.com - Menteri Keuangan Chatib Basri menekankan pentingnya sektor perbankan yang prudensial sebagai salah satu upaya untuk mengantisipasi gejolak ekonomi global yang diperkirakan masih akan membayangi dalam beberapa tahun mendatang.
"Beberapa tahun ke depan akan menjadi tahun yang tidak mudah, prudensialitas (kehati-hatian)sektor perbankan akan sangat krusial," kata Menteri Keuangan Chatib Basri saat menjadi pembicara kunci dalam seminar internasional LPS di Jakarta, Selasa, (23/9/2014).
Chatib menuturkan, sebagai salah satu negara berkembang, Indonesia sangat rentan terhadap perubahan kebijakan ekonomi global terutama normalisasi kebijakan Bank Sentral AS The Fed yang mulai dilakukan pada tahun ini.
Menurut Chatib, kebijakan The Fed tersebut menimbulkan potensi arus modal keluar (capital outflowy) di pasar keuangan Tanah Air.
Sektor perbankan sebagai sektor yang berkontribusi paling besar terhadap pertumbuhan ekonomi, lanjut Chatib, perlu lebih prudent dalam menjalankan bisnisnya. Ia meyakini kebijakan yang dibuat Bank Sentral memiliki peranan besar dalam mengarahkan sektor perbankan untuk lebih waspada menghadapi tantangan likuiditas ketat.
"BI rate saat ini 7,5 persen, tapi kita lihat bank-bank besar ada yang suku bunga deposito nya mencapai 11 persen. Respon kebijakan BI akan sangat berperan besar di sini," ungkapnya.
Chatib mengatakan, stabilitas ekonomi di Tanah Air menjadi syarat mutlak agar para investor tetap konfiden menanamkan investasi di Indonesia. Persiapan lainnya yang dapat dilakukan dalam menghadapi tantangan global yakni dengan pengetatan fiskal.
"Pengetatan fiskal mungkin akan terus dilanjutkan, kami meyakini itu akan membantu mengurangi defisit anggaran," ujar Chatib.
Ia menambahkan, opsi kenaikan harga BBM bersubsidi seharusnya dapat dilakukan. Chatib menegaskan, pada hakikatnya, kebijakan menaikkan harga BBM bersubsidi bukan ditujukan untuk mengurangi defisit anggaran, namun alokasi subsidi untuk BBM bersubsidi tersebut dinilai kurang tepat.
"Alokasi untuk subsidi BBM tersebut seharusnya dapat digunakan untuk sektor-sektor produktif," kata Chatib. (Antara)
Berita Terkait
-
Ekonomi Global Bakal Melambat di 2026, Bagaimana Kondisi Indonesia?
-
Di Tengah Ketidakpastian Global, Bisnis Asuransi Masih Catatkan Torehan Positif
-
Bank Indonesia Pastikan Indonesia Bisa Hadapi Ombak Ekonomi Global yang Belum Mereda
-
Ancaman Tarif AS Kian Nyata! BI Waspada, Aliran Modal Asing dari Emerging Market Terus Berfluktuasi
-
Gubernur Bank Indonesia Waswas Ekonomi Global Masih Bergejolak
Terpopuler
- 9 Sepatu Puma yang Diskon di Sports Station, Harga Mulai Rp300 Ribuan
- Semurah Xpander Sekencang Pajero, Huawei-Wuling Rilis SUV Hybrid 'Huajing S'
- 9 HP Redmi RAM 8 GB Harga Rp1 Jutaan, Lancar Jaya Dipakai Multitasking
- 5 Sepatu New Balance yang Diskon 50% di Foot Locker Sambut Akhir Tahun
- 5 Lem Sepatu Kuat Mulai Rp 3 Ribuan: Terbaik untuk Sneakers dan Bahan Kulit
Pilihan
-
4 HP Memori Jumbo Paling Murah dengan RAM 12 GB untuk Gaming Lancar
-
In This Economy: Banyolan Gen Z Hadapi Anomali Biaya Hidup di Sepanjang 2025
-
Ramalan Menkeu Purbaya soal IHSG Tembus 9.000 di Akhir Tahun Gagal Total
-
Tor Monitor! Ini Daftar Saham IPO Paling Gacor di 2025
-
Daftar Saham IPO Paling Boncos di 2025
Terkini
-
Tarif Listrik Tidak Naik Hingga Maret 2026
-
8,23 Juta Penumpang Pesawat Wara-wiri di Bandara Selama Awal Nataru
-
Perhatian! Tarif Listrik Januari-Maret 2026 Tak Naik
-
Bea Keluar Batu Bara Belum Berlaku 1 Januari 2026, Ini Bocoran Purbaya
-
Tak Hanya Huntara, Bos Danantara Jamin Bakal Bangun Hunian Permanen Buat Korban Banjir
-
Purbaya Kesal UU Cipta Kerja Untungkan Pengusaha Batu Bara Tapi Rugikan Negara
-
Pembangunan 600 Huntara di Aceh Tamiah Rampung, Bisa Dihuni Korban Banjir
-
Diizinkan DPR, Purbaya Bakal Cawe-cawe Pantau Anggaran Kementerian-Lembaga 2026
-
Prediksi Harga Bitcoin dan Ethereum Tahun 2026 Menurut AI
-
Libur Nataru 2025/2026, Jumlah Penumpang Angkutan Umum Naik 6,57 Persen