Suara.com - Harga bahan bakar minyak (BBM) jenis premium yang dijual secara eceran oleh para pedagang di Kota Timika dalam beberapa hari terakhir menembus Rp20 ribu per botol air kemasan (isi 1,5 liter).
Salah satu pedagang premium eceran di Kota Timika, Junaidi mengatakan kenaikan harga premium eceran sudah berlangsung dalam tiga hari terakhir. Sebelumnya, premium eceran dijual pada kisaran Rp10 ribu-Rp12 ribu per botol air kemasan.
Sementara itu, antrean panjang kendaraan roda dua dan empat terlihat di tiga SPBU di Kota Timika masing-masing SPBU Mimika Timur di bilangan Nawaripi, SPBU Timika Jaya di bilangan SP2 dan SPBU Buana Jalan Hasanuddin.
Meski pasokan premium dan solar tetap normal dari pihak join bersama (Jober) Pertamina Pelabuhan Paumako, namun penjualan premium lebih cepat habis dari biasanya.
Penanggung jawab SPBU Mimika Timur Nawaripi dan SPBU Timika Jaya SP2 Sayfuddin mengatakan pasokan premium dan solar dari pihak Jober Pertamina Pelabuhan Paumako masih tetap normal. Setiap hari kedua SPBU itu masing-masing dijatah 24 Kl premium dan lima hingga 10 Kl solar.
Namun akibat tingginya pembelian premium, bahan bakar tersebut langsung habis sekitar pukul 12.00 WIT. Padahal biasanya kedua SPBU menjual premium hingga pukul 20.00 WIT dan masih ada sisa stok untuk dijual pada hari berikutnya.
"Pasokan premium dari Jober Pertamina tetap normal. Kami jual sesuai aturan. Kalau soal adanya indikasi kelangkaan premium akibat adanya penimbunan, mungkin saja terjadi," ujar Sayfuddin.
Di kedua SPBU itu juga terlihat jejeran antrean jerigen milik para pengusaha kapal dan perahu motor, pemilik mesin sensor kayu, pemilik alat berat yang beroperasi di galian C.
Pihak SPBU tidak berani untuk menolak permintaan pengisian premium pada jerigen-jerigen tersebut karena pemilik mengantongi surat rekomendasi dari sejumlah instansi di Pemkab Mimika, seperti Dinas Kelautan dan Perikanan, Dinas Kehutanan, Diskoperindag dan lainnya. (Antara)
Berita Terkait
-
Papua Mencekam, OTK Bersenjata Serbu Proyek Vital, Ekskavator Jalan Trans Nabire-Timika Dibakar
-
Jenazah Korban Heli PK-IWS Tiba di Timika, Kondisi...
-
Semua Penumpang Helikopter Jatuh di Timika Ditemukan Tewas
-
Jenazah Dua Pendaki Wanita Gunung Cartenz Dipulangkan Hari Ini ke Jakarta
-
Iman yang Menguat di Tengah Rintangan: Jemaat Papua Berjuang Bertemu Paus Fransiskus di Jakarta
Terpopuler
- Pompa Air Paling Bagus dan Awet Merk Apa? Ini 4 Pilihan Terbaik Versi Review Pengguna
- Ciri-Ciri Sepatu Berbahan Kulit Babi, Kenali sebelum Membeli
- Istana Diminta Istirahatkan Qodari atau Demo Mahasiswa Bisa Makin Besar
- 5 HP Murah Terbaru Penyimpanan Lega Juni 2026: Memori 256 GB, Baterai 8.100 mAh
- 4 Rekomendasi Tablet Mini Serbaguna: Nyaman Digenggam, Muat Tas Kecil
Pilihan
-
Salah Sasaran Evaluasi: Menilai Program MBG Lewat Respons Anak Itu Absurd
-
Dasco di Mobil Komando Aksi: Aspirasi Kawan-kawan Sudah Disampaikan, Hidup Mahasiswa!
-
Bukan Sekadar Karaoke, Orutaku Club Jadi Mesin Waktu Bagi Wibu Generasi 90-an
-
Kejagung Tetapkan Glory Harimas Sihombing Tersangka, Dugaan Jual Beli Titik Dapur MBG Terungkap
-
Wamensesneg Terluka Kena Batu, Kivlan Zen Berdarah Saat Eksekusi Hotel Sultan GBK Ricuh
Terkini
-
Investor Migas Makin Percaya Indonesia, Proyek Bukit Panjang Masuk Tahap Fabrikasi
-
Bahlil Ungkap 5.700 Desa Masih Gelap, Pemerintah Gelontorkan Rp10,3 Triliun untuk Listrik Desa
-
Kabar Baik Pencari Kerja! Kemnaker Buka Pelatihan Gratis untuk 20.000 Peserta, Daftar hingga 9 Juli
-
Masuk Fortune Southeast Asia 500 2026, Hutama Karya Perkuat Kiprah sebagai BUMN Konstruksi Terkemuka
-
Beralih ke Jargas Hemat Biaya Energi hingga 33 Persen, Pemerintah Tambah 160 Ribu Sambungan Baru
-
Tahun Emas ke-50, Darya-Varia Berkinerja Tangguh dan Komitmen pada Pertumbuhan Berkelanjutan
-
Pasokan Batubara PLTU Jawa Mulai Pulih, PLN Kini Kejar Perbaikan Dua Pembangkit
-
Bulog Buka Suara soal Dugaan Korupsi Beras Wamena, Pastikan Distribusi Pangan Tetap Aman dan Stabil
-
Kabar Baik bagi MBR! Menteri PKP Pastikan Bunga KPR FLPP Tetap 5 Persen, Meski BI Rate Naik
-
Polemik MBG Saat Libur Sekolah, Gapembi Kritik BGN