Suara.com - Pada 1995, Titik Winarti sempat bingung untuk mengisi waktu luangnya. Dia kemudian memutuskan untuk menampung barang bekas yang ada di sekitarnya di daerah Surabaya, Jawa Timur. Barang-barang bekas itu diambilnya dari pasar loak.
Setelah terkumpul, barang-barang yang sudah tidak menjadi ‘sampah’ itu dialihfungsikan. “Jadi usaha saya awalnya adalah ahli fungsi bahan daur ulang, seperti tempat selai yang sudah tidak terpakai kemudian dialihfungsikan menjadi tempat permen setelah dihias terlebih dahulu,” kata Titik, kepada suara.com, akhir pekan lalu.
Itulah awal dari Tiara Handycraft. Alih fungsi barang bekas itu menarik minat warga sekitar. Setelah satu tahun memproduksi barang-barang bekas tersebut, Titik kemudian mulai memasukkan unsur tekstil di dalam usahanya tersebut.
“Di tahun pertama saya masih kerja sendiri, baru ketika pesanan sudah mulai banyak saya akhirnya dibantu oleh dua karyawan yang berasal dari ibu-ibu PKK. Saya juga mulai mencari pasar di luar Surabaya, ketika saya ke Bali saya mampir ke sejumlah department store dan menawarkan produk Tiara Handycraft,” jelasnya.
Ketika krisis moneter dan finansial melanda, Titik mulai kebingungan. Bukan karena berkurangnya pesanan tetapi karena karyawan yang membantunya tidak kembali lagi ke Surabaya.
“Sebenarnya krismon tidak terlalu berpengaruh karena pesanan tetap ada. Karena karyawan tidak ada yang kembali, saya sempat memutuskan untuk menutup Tiara Handycraft. Ketika itulah datang sejumlah difabel yang dulu sempat ‘magang’. Mereka menawarkan diri untuk membantu,” jelasnya.
Titik sempat ragu dengan kemampuan mereka. Namun, dia akhirnya mengizinkan dua orang difabel tersebut untuk mengerjakan pesanan handycraft. Meski demikian, Titik masih ragu untuk tetap melanjutkan usaha handycraftnya itu tetapi tidak ‘berani’ untuk memberhentikan dua karyawan difabelnya itu.
“Akhirnya saya terpikir untuk memberi tugas yang berat kepada mereka yang saya pikir tidak akan bisa mereka kerjakan. Misalnya membuat payet. Ternyata, semua tugas yang saya berikan selalu bisa dikerjakan oleh mereka. Hingga akhirnya saya sadar, bahwa mereka ini ‘diberikan’ oleh Allah untuk membantu tetapi kenapa saya tidak mau menerima,” ungkapnya.
Pelan tapi pasti, Titik dan Tiara Handycraftnya semakin maju. Pangsa pasarnya juga semakin luas, bukan hanya di dalam negeri tetapi juga di luar negeri. Brasil menjadi negara pertama yang menjadi tujuan ekspor produk Tiara Handycraft.
“Ekspor ke Brasil itu terjadi secara tidak sengaja, ketika tengah mempromosikan produk Tiara di Bandara Ngurah Rai, ada turis yang melihat barang tersebut. Dia suka dan kemudian meminta saya untuk membuat tas hari itu juga. Saya sempat panik karena saya kan tidak pernah terlibat proses produksi. Akhirnya, saya penuhi permintaan itu dan saya bilang tas ini tidak maksimal karena tidak pakai peralatan yang biasa saya pakai. Bagaimana kalau saya pulang dulu ke Surabaya dan saya buat lalu kalau sudah jadi langsung saya kirim ke anda,” cerita Titik.
Turis itu setuju dan puas dengan tas buatan Titik. Dia kemudian memesan tas yang dibuat dari bahan tekstil yang tidak menggunakan lem itu. Pada 2002, produk Tiara Handycraft mulai mendunia. Setelah Brasil, tas buatan para difabel itu juga diekspor ke Spanyol. Karena sudah mulai mengekspor, Titik pun menambah jumlah karyawan, yang juga difabel. Kini, Titik mempekerjakan sekitar 30 karyawan difabel.
“Mereka sudah bisa memproduksi barang-barang handycraft seperti taplak meja, lalu tutup botol, alas tisu, tas dan ketika saya membuka unit baru yaitu sablon, mereka juga bisa membuat kaos oblong,” jelasnya.
Dengan modal awal Rp500 ribu pada 1995, kini Tiara Handycraft sudah mempunyai omset 23-30 juta. Selama hampir 20 tahun, Titik memberdayakan kelompok difabel yang ternyata mempunyai nilai lebih dibandingkan karyawan normal. “Ketika masih mempekerjakan karyawan normal, saya harus turun tangan untuk memberitahu mereka satu per satu. Sedangkan karyawan difabel ternyata lebih mandiri. Mereka yang sudah bisa langsung mengajarkan temannya yang belum bisa sampai akhirnya bisa. Itu yang membuat saya tidak terlibat lagi dalam hal mengajari teknik-teknik produksi,” jelasnya.
Dengan bantuan karyawan difabel itulah, usaha Tiara Handycraft yang didirikan Titik (44 tahun) berhasil mendunia.
Terpopuler
- Tak Lagi Disamping Prabowo, Kursi Wapres Gibran Geser Sejajar Menteri di Sidang Kabinet
- Media Italia Bongkar Ada Kontrak Lebih dari Rp25 T di Balik Hibah Kapal Induk Giuseppe Garibaldi
- John Herdman Coret 27 Pemain Jelang Timnas Indonesia vs Kamboja di Piala AFF 2026
- Apa Sunscreen Terbaik untuk Flek Hitam pada Usia 50 Tahun? Ini 5 Rekomendasi sesuai Review
- Dokter Tifa Menang, Sidang Kasus Ijazah Jokowi Resmi Dihentikan
Pilihan
-
Takut Lumpuh, Hotman Paris Pilih Mundur Jadi Pengacara Febrie Usai Pijit di Bojong Gede Tak Mempan
-
Saraf Terjepit, Hotman Paris Putuskan Mundur Jadi Kuasa Hukum Eks Jampidsus Febrie Adriansyah
-
Dokter Tifa Menang, Sidang Kasus Ijazah Jokowi Resmi Dihentikan
-
Menang Lima Gol, Timnas Putri Indonesia Back to Back Juara AFF Women's Cup 2026
-
Sudaryono Jabat Kepala BGN, Sudah Diworo-woro Istana Sejak Selasa Malam
Terkini
-
Purbaya Sentil Menkes Gegara Curhat ke DPR soal Pemblokiran Anggaran Rp 12,3 T di Kemenkeu
-
Doraemon: New Nobita and the Castle of the Undersea Devil, Remake Cerdas!
-
Pemprov Sulsel Ganti Rugi Lahan Bandara Bua Rp17,5 Miliar
-
Purbaya Batal Bubarkan Bea Cukai, Klaim Kinerjanya Sudah Diakui Prabowo
-
Ulasan Juvenile Justice: Paradoks Keadilan dalam Sistem Peradilan Anak
-
Langsung Dimusnahkan Tim Gegana, Tiga Bom Pipa Ditemukan di Lokasi Pascabentrok Adonara
-
Misteri Bau Menyengat di Gunung Kendil: Akhir Pilu Pencarian Munajat di Dasar Jurang 12 Meter
-
Bitcoin hingga Ethereum Melemah, Indeks Kripto CFX10 Turun ke Level 776,51
-
Dibentuk Era Prabowo, Kuliah di Universitas Republik Indonesia Apakah Gratis?
-
5 Sunscreen Mengandung Salicylic Acid untuk Kulit Berjerawat sesuai Review dan Harga