Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi M Nasir menyebut target pemerintah untuk memenuhi 35 ribu MW listrik akan sulit dicapai, bahkan sampai tahun 2025. Tapi, kata Nasir, ada satu cara yang bisa memenuhinya, yaitu dengan pembangkit listrik tenaga nuklir.
Menanggapi hal tersebut, Wakil Presiden Jusuf Kalla mengatakan gagasan itu terlalu sembrono karena dari segi keamanan, pembangkit listrik bertenaga nuklir terlalu beresiko.
Selain pertimbangan keselamatan, juga soal pertimbangan lokasi. Jusuf Kalla mengatakan di Bangka Belitung memang banyak sumber energi untuk nuklir, namun kebutuhannya sedikit, sedangkan di Jawa lebih banyak butuh listrik.
"Kita sembrono, nuklir itu besar 1.000 MW, tentu yang cocok di Jawa karena kebutuhannya tinggi, Belitung bisa, tapi kebutuhannya kecil, mau bawa ke Jawa nggak bisa, di Kalimantan nggak ada sumber nuklirnya," katanya, Selasa (14/4/2015).
Oleh sebab itu, JK mengimbau untuk menggunakan cara lain. Masih banyak energi yang dapat dikembangkan yang selama ini belum dimaksimalkan.
Misalnya dengan menggunakan tenaga angin untuk menghasilkan listrik. Namun sumber listrik dari angin, butuh lokasi yang tepat dengan keberlanjutan jumlah, tenaga anginnya, dan terobosan teknologi
"Angin, yang bisa bekerja 24 jam di bawah 20 persen cuma seperti di NTT, kita harus cari teknologi kalau ada cuma angin sepoi-sepoi bisa tetapkan hasilkan listrik," katanya.
Selain itu, lanjut dia, sumber listrik lainnya yang dapat digunakan yaitu energi panas matahari atau energi surya, namun lagi-lagi sumber energi ini juga punya kelemahan, selain keterbatasan waktu juga soal tempat penampungan listrik yang hingga kini belum ada yang mumpuni.
"Surya sama, bekerja 10 jam, masalah terbesar adalah baterainya, di Indonesia kita butuh listriknya malam, di China itu peak-nya justru siang, kita justru malam, jadi butuh baterai, 2 juta dolar harga baterai per 1 MW. Kendala-kendala ini muncul karena selama ini tidak dimanfaatkan, jadi terkesan semua solusi serba salah, " kata Jusuf Kalla.
Jusuf Kalla juga mengungkapkan soal pembangkit listrik tenaga air, Indonesia punya potensi 75.000 MW. Namun, sumber energi ini harus diimbangi dengan pelestarian lingkungan agar pasokan air tetap terjaga. Bila lingkungan tak terjaga, maka PLTA tak berkelanjutan.
"Masih banyak cara selain membangun PLTN tersebut karena resikonya tinggi dari segi keamanan dan terkesan berlebihan. Banyak cara yang aman, " kata dia.
Tag
Berita Terkait
Terpopuler
- Apakah Jateng Tak Punya Gubernur? Ketua TPPD: Buktinya Pertumbuhan Ekonomi Jateng Nomor Dua di Jawa
- Ayatollah Ali Khamenei Diklaim Tewas, Foto Jasadnya Ditunjukkan ke Benjamin Netanyahu
- PERANG DIMULAI: Amerika dan Israel Serang Ibu Kota Iran
- Terpopuler: 5 HP Samsung RAM 8 GB Termurah, Sinyal Xiaomi 17T Series Masuk Indonesia
- Israel Bombardir Kantornya di Teheran, Keberadaan Imam Ali Khamenei Masih Misterius
Pilihan
-
Kabar Duka, Wakil Presiden ke-6 RI Try Sutrisno Meninggal Dunia di RSPAD Pagi Ini
-
Terungkap! Begini Cara CIA Melacak dan Mengetahui Posisi Ayatollah Ali Khamenei
-
Iran Klaim Hantam Kapal Induk USS Abraham Lincoln Pakai 4 Rudal, 3 Tentara AS Tewas
-
BREAKING: Mantan Presiden Iran Mahmoud Ahmadinejad Dilaporkan Tewas dalam Serangan Israel
-
Iran Kibarkan Bendera Merah di Masjid Jamkaran Usai Kematian Khamenei, Simbol Janji Balas Dendam
Terkini
-
Minyak Dunia Bakal Mendidih Imbas Konflik Iran-AS, Harga BBM Pertamina Gimana?
-
IHSG Terjun Bebas 1,73% pada Senin Pagi Imbas Konflik AS-Iran, 600 Saham Merah
-
Harga BBM Terancam Naik Imbas Perang AS-Israel-Iran, Ini Penjelasan Lengkapnya
-
Perang AS-Israel vs Iran Pecah, Harga Emas Bersiap Rp3,4 Juta Per Gram
-
Tionghoa Indonesia Diminta Perkuat Identitas Nasional di Tengah Arus Investasi Asing
-
Rupiah Berpotensi Anjlok dan Ancaman Krisis Energi Indonesia Imbas Perang Iran
-
Harga Emas Meroket di Pegadaian saat Perang Timur Tengah Berkecamuk
-
Prediksi IHSG Hari Ini saat Tekanan Perang Iran dan Utang Luar Negeri
-
Perusahaan Maritim dan Kapal Tanker Dunia Umumkan Stop Operasi di Selat Hormuz
-
Harga Minyak Brent Melonjak 10 Persen, Menuju USD100 Akibat Perang Iran