Warga memilih daging [Antara/Rahmad]
Badan Pusat Statistik mencatat beberapa kebutuhan pokok masyarakat mengalami defisit neraca perdagangan dengan negara lain. Hal ini terlihat dari impor kebutuhan pokok indonesia lebih besar dibandingkan ekspor dalam periode kuartal pertama 2015.
"Contohnya pada komoditas gandum dengan nilai defisit 518,10 juta dollar AS. Impor gandum kita masih tinggi sampai saat ini, karena banyak pangan yang berbahan gandum sehingga bahan baku masih impor," kata Kepala BPS Suryamin di kantor BPS, Jakarta, Rabu (15/4/2015).
Selain itu, defisit perdagangan juga terjadi pada komoditas bawang putih dan daging sapi dengan nilai masing-masing sebesar 75,24 juta dollar AS dan 47,52 juta dollar AS. Sementara cabai, bawang merah, dan tepung terigu masing-masing 7,41 juta dollar AS, 1,69 juta dollar AS dan 850 ribu dollar AS.
"Angkanya tidak terlalu besar karena sebagian kita masih bisa mencukupinya dari dalam negeri. Tetapi kalau bawang putih angkanya terus meningkat, karena kita untuk bawang putih masih andalkan impor sepenuhnya," katanya.
Komoditas lainnya, gula, yang tercatat mengalami defisit perdagangan senilai 345,13 juta dollar AS. Disusul kedelai dengan defisit mencapai 292,81 juta dollar AS dan komoditas jagung defisit sebesar 248,33 juta dollar AS.
"Kita masih impor kedelai karena banyak petani yang enggan menanam kedelai karena kepastian harga yang belum menentu. Jadi mereka masih itung-itungan. Kalau impor jagung itu hanya untuk bahan makanan untuk ternak lebih banyaknya," kata Suryamin.
Selanjutnya, BPS menyebutkan Indonesia masih mengimpor beras sebanyak 7.912 ton senilai 3,1 juta dollar AS pada Februari 2015. Turun dibandingkan sebulan sebelumnya yaitu 16.600 ton atau 8,3 juta dollar AS. Nilai defisit neraca perdagangan beras periode kuartal I 2015 sebesar 29,19 juta dollar AS.
Suryamin menyebutkan beras yang diimpor bukanlah yang biasa dikonsumsi sehari-hari oleh masyarakat. Beras tersebut adalah beras khusus yang memang belum bisa diproduksi di dalam negeri.
"Beras yang diimpor itu memiliki kriteria khusus. Ada jenis-jenisnya dan hampir semua itu tidak bisa diperoleh di dalam negeri. Impor beras untuk bibit, kebutuhan restoran Jepang, India, restoran Vietnam yang menyajikan makanan dengan beras khusus dan hanya bisa didatangkan dari luar negeri. Impor beras pun untuk tepung dan ada kebutuhan bagi penderita penyakit tertentu, seperti diabetes, dan lainnya," katanya.
"Contohnya pada komoditas gandum dengan nilai defisit 518,10 juta dollar AS. Impor gandum kita masih tinggi sampai saat ini, karena banyak pangan yang berbahan gandum sehingga bahan baku masih impor," kata Kepala BPS Suryamin di kantor BPS, Jakarta, Rabu (15/4/2015).
Selain itu, defisit perdagangan juga terjadi pada komoditas bawang putih dan daging sapi dengan nilai masing-masing sebesar 75,24 juta dollar AS dan 47,52 juta dollar AS. Sementara cabai, bawang merah, dan tepung terigu masing-masing 7,41 juta dollar AS, 1,69 juta dollar AS dan 850 ribu dollar AS.
"Angkanya tidak terlalu besar karena sebagian kita masih bisa mencukupinya dari dalam negeri. Tetapi kalau bawang putih angkanya terus meningkat, karena kita untuk bawang putih masih andalkan impor sepenuhnya," katanya.
Komoditas lainnya, gula, yang tercatat mengalami defisit perdagangan senilai 345,13 juta dollar AS. Disusul kedelai dengan defisit mencapai 292,81 juta dollar AS dan komoditas jagung defisit sebesar 248,33 juta dollar AS.
"Kita masih impor kedelai karena banyak petani yang enggan menanam kedelai karena kepastian harga yang belum menentu. Jadi mereka masih itung-itungan. Kalau impor jagung itu hanya untuk bahan makanan untuk ternak lebih banyaknya," kata Suryamin.
Selanjutnya, BPS menyebutkan Indonesia masih mengimpor beras sebanyak 7.912 ton senilai 3,1 juta dollar AS pada Februari 2015. Turun dibandingkan sebulan sebelumnya yaitu 16.600 ton atau 8,3 juta dollar AS. Nilai defisit neraca perdagangan beras periode kuartal I 2015 sebesar 29,19 juta dollar AS.
Suryamin menyebutkan beras yang diimpor bukanlah yang biasa dikonsumsi sehari-hari oleh masyarakat. Beras tersebut adalah beras khusus yang memang belum bisa diproduksi di dalam negeri.
"Beras yang diimpor itu memiliki kriteria khusus. Ada jenis-jenisnya dan hampir semua itu tidak bisa diperoleh di dalam negeri. Impor beras untuk bibit, kebutuhan restoran Jepang, India, restoran Vietnam yang menyajikan makanan dengan beras khusus dan hanya bisa didatangkan dari luar negeri. Impor beras pun untuk tepung dan ada kebutuhan bagi penderita penyakit tertentu, seperti diabetes, dan lainnya," katanya.
Komentar
Berita Terkait
Terpopuler
- 7 HP Xiaomi RAM 8 GB Termurah di Februari 2026, Fitur Komplet Mulai Rp1 Jutaan
- 5 Pilihan HP RAM 16 GB Paling Murah, Penyimpanan Besar dan Performa Kencang
- 7 HP Murah Terbaru 2026 Buat Gaming: Skor AnTuTu Tinggi, Mulai Rp1 Jutaan!
- Baru! Viva Moisturizer Gel Hadir dengan Tekstur Ringan dan Harga Rp30 Ribuan
- 6 Tablet Murah dengan Kamera Jernih, Ideal untuk Rapat dan Kelas Online
Pilihan
-
Geger Taqy Malik Dituding Mark-up Harga Wakaf Alquran, Keuntungan Capai Miliaran
-
Kabar Duka: Mantan Pemain Timnas Indonesia Elly Idris Meninggal Dunia
-
Cibinong Mencekam! Angin Kencang Hantam Stadion Pakansari Hingga Atap Rusak Parah
-
Detik-Detik Mengerikan! Pengunjung Nekat Bakar Toko Emas di Makassar
-
Lika-liku Reaktivasi PBI JK di Jogja, Antre dari Pagi hingga Tutup Lapak Jualan demi Obat Stroke
Terkini
-
Harga Pangan Nasional Hari Ini: Cabai Rawit Merah Kembali Sentuh Rp70 Ribu
-
Anak Buah Menkeu Purbaya Hijrah ke Danantara
-
Luhut: Ekonomi Tumbuh 5% Bukan Prestasi, Target 8% Harga Mati!
-
Buru Peluang Cuan! Pameran Franchise Terbesar IFBC 2026 Hadir di ICE BSD
-
BUMN Gelar Mudik Gratis 2026, Targetkan 100 Ribu Peserta
-
Saham BUMI Meroket, Aksi Borong Picu Kenaikan Harga Hari Ini
-
BNLI Cetak Laba Rp3,6 Triliun, Total Simpanan Nasabah Naik
-
Harga Emas Antam Lebih Murah, Hari Ini di Bawah Rp 3 Juta
-
Rupiah Masih Lemas, Dolar AS Naik ke Level Rp16.849
-
Emiten Asuransi TUGU Siapkan Strategi Kejar Kinerja Positif di 2026