Suara.com - Direktur Pusat Studi Kebijakan Publik (Puskepi) Sofyano Zakaria mendesak Petral dilakukan audit forensik, sehingga kecurigaan terhadap Petral yang diduga telah merugikan negara dalam hal pengadaan minyak mentah bisa dibuktikan atau malah sebaliknya.
"Dengan dilakukannya audit forensik, maka bisa menjawab apakah selama ini tender minyak yang dilakukan oleh Petral telah merugikan atau tidak buat Pertamina," kata Sofyano Zakaria saat dihubungi Antara di Jakarta, Sabtu (16/5/2015).
Sebelumnya, diberitakan bahwa sejak Petral dibekukan selama tiga bulan, Pertamina berhasil melakukan penghematan atas pembelian minyak mentah sebesar Rp1,3 triliun pada kwartal I/2015.
Apalagi, Pertamina telah menyatakan secara terbuka ke publik bahwa sejak dibekukannya Petral selama tiga bulan dan tender pembelian minyak dilakukan oleh ISC, Pertamina ternyata bisa menghemat sebesar Rp1,3 triliun, maka ini berpotensi membuat publik menaruh kecurigaan besar terhadap Petral.
Menurut dia, pernyataan Pertamina yang telah menghemat Rp1,3 triliun dari pembelian minyak, tidak serta merta menyatakan bahwa telah terjadi kerugian Pertamina ketika tender/pembelian minyak mentah dan produk dilakukan oleh Petral.
Karena, selama ini Petral telah dilakukan diaudit oleh BPK yang menyatakan tidak ada catatan khusus atau tidak ada kerugian terhadap Pertamina, serta kerugian terhadap negara pada tender tender yang dilakukan Petral sebelumnya, katanya.
"Namun jika pemerintah saat ini memiliki kecurigaan yang 'beralasan' terhadap tender-tender yang selama ini dilakukan oleh Petral, bisa saja pemerintah meminta BPK untuk melakukan audit forensik terhadap Petral," ujarnya.
Tetapi menurut Sofyano, kalau itu dilakukan, bisa saja dipahami oleh publik bahwa pemerintah yang berkuasa saat ini, curiga terhadap Petral dan direksi Pertamina sebelumnya, termasuk juga terhadap BPK saat itu.
"Ini bisa menimbulkan masalah baru yang berujung timbulnya kegaduhan politik, yang pada akhirnya mampu menimbulkan situasi yang tidak kondusif terhadap jalannya pemerintahan Jokowi," ungkapnya.
Karena, keberadaan Petral selama ini tidak luput dari tanggung jawab pemerintah sebelumnya. "Jika audit forensik ternyata terbukti ada "permainan" pada tender atau pembelian minyak oleh Petral yang menyebabkan Pertamina atau negara dirugikan, tentu persoalannya tidak bisa berhenti pada direksi petral dan direksi Pertamina saat itu saja, namun tentu ada tanggung jawab pemerintah yang berkuasa saat itu," ujarnya.
Sementara itu, jika pemerintah tidak mendorong dilakukannya audit terhadap Petral, maka pemerintah yang berkuasa saat ini, bisa pula dituding masyarakat turut "menutupi" permainan di Petral, kata Sofyano. (Antara)
Berita Terkait
Terpopuler
- 7 HP Baru Paling Murah Rilis Awal 2026, Fitur Canggih Mulai Rp1 Jutaan
- 6 Mobil Hybrid Paling Murah dan Irit, Cocok untuk Pemula
- 7 HP Terbaru di 2026 Spek Premium, Performa Flagship Mulai Rp3 Jutaan
- Pendidikan dan Karier Wakil Bupati Klaten Benny Indra Ardhianto yang Meninggal Dunia
- Klaten Berduka! Wakil Bupati Benny Indra Ardianto Meninggal Dunia
Pilihan
-
Hasil Uji Coba: Tanpa Ampun, Timnas Indonesia U-17 Dihajar China Tujuh Gol
-
Iran Susah Payah Kalahkan Timnas Indonesia di Final Piala Futsal Asia 2026
-
LIVE Final Piala Asia Futsal 2026: Israr Megantara Menggila, Timnas Indonesia 3-1 Iran
-
Menuju Juara Piala Asia Futsal 2026: Perjalanan Timnas Futsal Indonesia Cetak Sejarah
-
PTBA Perkuat Hilirisasi Bauksit, Energi Berkelanjutan Jadi Kunci
Terkini
-
PLN Mobile Perkuat Ekosistem EV Berbasis Green Energy, Dari Rumah Charging hingga SPKLU
-
Saham HOTL Terancam Delisting, Manajemen Tegaskan Itikad Baik ke BEI
-
Fundamental Bank Mandiri Tetap Kuat di 2025, Dorong Intermediasi & Dukung Program Pemerintah
-
6 Fakta Skandal IPO REAL, Manipulasi Berbuntut Izin UOB Kay Hian Dibekukan
-
Menko Airlangga ke Anggota APEC: Ekonomi Dunia Menuntut Perubahan Besar
-
Moodys Beri Rating Negatif, Pemerintah: Ekonomi Tetap Solid di Level Investment Grade
-
Mengenal Kakeibo, Seni Menabung Tradisional Jepang untuk Mencapai Kebebasan Finansial
-
Saham BUMI Banting Harga Ekstrem, Lalu Diserok Investor Asing
-
Emas ETF Global Diborong Investor Tembus 120 Ton, Efek Ancaman Perang Dunia?
-
Bitcoin Terperosok ke USD 60.000, Analis Indodax Ungkap Dampaknya ke Pasar Kripto